Tidak hanya pemandangan alam yang luar biasa, Papua juga terdapat wisata sejarah yang dapat dikunjungi. Salah satunya adalah Tugu MacArthur yang terletak di Gunung Ifar, Jayapura. Suasana sejuk di puncak gunung sambil menikmati pemandangan Danau Sentani adalah nilai plus dari wisata sejarah ke tugu MacArthur.

Cerita tentang sepak terjang sang jenderal besar memiliki daya tarik sendiri bagi wisatawan. Setelah mata dimanjakan oleh pemandangan indah pesona Papua, terselip sejarah panjang di salah satu puncak gunung Cyclops. Sebuah tugu setinggi 3 meter dengan bentuk seperti tameng dengan warna hitam dan kuning adalah bukti bahwa seorang jendral telah berkuasa di sana.

Jendral besar yang memberi cerita pada keindahan Papua bernama Jendral Douglas MacArthur. Pada tahun 1944, Jenderal MacArthur mendarat di Teluk Humboldt, Jayapura bersama pasukannya. Saat itu ia berniat untuk mengusir Jepang dari Jayapura. Tanpa menunggu lama, Sang Jendral langsung membangun basis pertahanan di Gunung Ifar.

Ia pantas disebut sebagai jenderal besar karena terkenal dengan kelihaian dalam membuat strategi perang saat Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Korea. Ia juga Kepala Staf Angkatan darat AS sekaligus Field Marshall angkatan bersenjata Filipina.

Sang Jendral besar ini terkenal dengan ucapannya yaitu “I came through and I shall return”. Kalimat ini ia ucapkan saat pasukannya terpaksa mundur dari Filipina setelah pangkalan militernya dihancurkan oleh Jepang. Ia membuktikan ucapannya dengan kembali menyerang Jepang di Teluk Hamadi, Jayapura dan berhasil mengusir Jepang dari situ. Ia membalas kekalahan Amerika di Filipina dan di Pearl Harbour saat itu.

Tugu ini sendiri kini dijadikan sebagai markas Resimen Induk Kodam (Rindam) XVIII Trikora. Jadi pengunjung tidak bisa sembarangan masuk ke area ini. Harus melewati pos penjagaan dan meninggalkan kartu identitas di situ. Jika tentara sedang berlatih menembak maka pengunjung tidak diperbolehkan masuk demi keselamatan juga. Orang sekitar situ menyebutnya Bukit Makatur.

Walaupun lokasinya sudah menjadi markas TNI tapi ada beberapa bangunan yang masih dipertahankan sebagai sejarah. Salah satuhnya adalah bangunan rumah kecil yang letaknya berdekatan dengan tugu. Di rumah itulah dulu Jendral MacArthur mengatur strategi perangnya.. Di dalamnya bisa dilihat kumpulan foto saat MacArthur masih berkuasa di Papua. termasuk foto markasnya yang asli dan foto MacArthur dengan cangklong-nya.

Markas ini memang dijadikan tempat sejarah dan situs itu sendiri tetap dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Papua dan menjadi salah satu situs yang dilindungi berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1992 tentang cagar budaya.

Pada tugu terdapat sebuah bingkai kecil yang berisikan tentang sejarah kedatangan dan perjuangan jendral Macarthur di sana dengan dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Jadi wisatawan bisa mengetahui sejarah perjuangan sang jenderal.

Di sini juga terletak kursi beton yang menghadap ke Danau Sentani. Orang sekitar bilang, itu adalah kursi favorit Sang Jenderal saat ia santai dan menikmati indahnya danau. Memang benar, duduk di kursi itu seperti terhipnotis dengan keindahan alam Papua yang sukar diungkapkan oleh kata-kata. Rasanya ingin duduk di situ dalam waktu yang lama. Apalagi jika danau tidak tertutup awan hingga semua terlihat jelas.

Nah, bagi yang mau berkunjung di situs ini maka jarak yang ditempuh hanya 45 menit dari Jayapura. Tapi perjalanan tidak akan pernah membosankan karena sepanjang jalan, akan disuguhi oleh keindahan alam Papua yang memukau.