Thursday , October 22 2020

Tradisi Menangkap Nyale di Lombok yang Unik

Anda kenal Lombok, bukan? Ya, Lombok memang tempat yang sangat indah dan cocok untuk melepas penat. Pantainya yang indah dan jernih membuat kita ingin berlama-lama di sana. Selain keindahan alamnya yang bersih dan masih terjaga, kebudayaan Lombok pun unik dan tidak jauh berbeda kaitannya dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Ya, tradisi Bau Nyale atau menangkap nyale merupakan salah satu tradisi unik dari Lombok. Pada hari-hari yang dianggap tepat, masyarakat Lombok akan berbondong-bondong mendatangi pantai selatan yang memiliki karang yang indah, dan melakukan Bau Nyale di sana.

Hari menangkap nyale biasanya jatuh pada tanggal 19 atau 20 pada bulan ke sepuluh atau ke sebelas menurut perhitungan tahun suku Sasak, menurut tahun Masehi berkisar antara bulan Februari atau Maret setiap tahun. Tradisi ini sudah ada selama beribu-ribu tahun. Tradisi yang berlangsung selama dua hari dua malam ini merupakan salah satu bagian dari rekreasi masyarakat Lombok. Nyale sendiri, menurut para ahli biologi, adalah sejenis cacing (annelida) namun bukan arthropoda atau binatang beruas. Nyale memiliki kaki seperti bintik-bintik yang berukuran kecil. Para ahli biologi menyebut nyale sebagai cacing kelabang. Binatang yang panjangnya 10-15 cm ini hidup dalam celah-celah karang. Nyale berkembang biak dengan bertelur dan subur pada bulan Februari dan Maret, dan saat inilah yang tepat untuk menangkap nyale.

Masyarakat Lombok “menghalalkan” untuk mengkonsumsi nyale sesuai dengan cerita yang mereka yakini. Ada dua versi cerita yang dimaksud. Yang pertama, ada seorang putri yang cantik dan cakap, dan menjadi rebut para pangeran yang sama kuat dan berwibawanya. Demi keadilan para pangeran, putri tersebut menceburkan dirinya ke pantai dan berubah menjadi nyale agar dapat dinikmati bersama oleh para pangeran yang mengidamkannya. Versi yang kedua yaitu nyale merupakan bagian dari sorban Nabi Adam. Diceritakan bahwa saat Nabi Adam tengah berjalan di tepi pantai, sorbannya terhempas oleh angin lalu jatuh di laut. Sorban tersebut lama kelamaan lapuk dan bagian benangnya berubah menjadi nyale. Oleh karena itulah nyale dianggap sebagai pembawa keberuntungan dan orang-orang berlomba-lomba menangkap nyale sebanyak-banyaknya.

Tradisi ini bukan tidak memiliki tujuan. Tentu saja ada tujuan-tujuan spiritualnya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, panen akan melimpah apabila nyale yang keluar berwarna lengkap, yaitu putih, hitam, hijau, kuning dan coklat. Warna nyale juga berpengaruh terhadap cuaca yang akan menerpa. Selain itu, masyarakat Lombok biasanya mengikuti tradisi menangkap nyale agar hidupnya menjadi lebih baik dan terhindar dari kesulitan. Mereka biasanya pergi ke kubur, menyiapkan sesajen, mencuci muka dan berdoa agar terhindar dari kesulitan hidup. Setelah itu dilanjutkan dengan makan-makan. Tiap-tiap keluarga melakukan hal tersebut. Selain itu, menangkap nyale juga bisa sebagai “obat stress” para anggota keluarga yang sudah berbulan-bulan bekerja di sawah. Tradisi ini dapat melepaskan penat sejenak dengan menyantap kenikmatan nyale.

Unik sekali tradisi yang satu ini, bukan? Bukan hanya sebagai pelestarian dari budaya sebelumnya, namun tradisi menangkap nyale dapat dijadikan hiburan untuk menjernihkan kembali suasana pikiran yang lelah karena telah lama bekerja. Semoga tradisi seperti ini akan terus lestari seiring perkembangan zaman. Bagaimana dengan daerah Anda?

About Bas