Friday , October 23 2020

Tips Parenting dari 6 ‘Pakar’ Pendidikan, Rugi Kalau Nggak Baca!

Kadang bingung juga bagaimana cara membesarkan anak dengan benar. Orang A bilang begini, lainnya bilang begitu, bahkan pendapat tiap guru maupun psikolog anak pun juga bisa berbeda-beda.

Walau demikian, kebanyakan tetap sepakat bahwa memberikan kebebasan pada buah hati dan menghargai mereka sebagai ‘seseorang’, mampu membuat anak tumbuh percaya diri dan bahagia.

Anda yang bingung harus pakai ‘sistem’ pengasuhan mana, ada baiknya tidak berpatokan pada 1 ilmu tertentu. Malahan kami sarankan Anda mengadopsi tips parenting dari 6 pakar pendidikan dunia berikut:

1. Maria Montessori: Sistem Montessori

Sistem ini diambil dari nama belakang Maria Montessori, wanita pertama di Italia yang menyelesaikan sekolah medis dimana ia bekerja bersama anak-anak kurang sehat.

Montessori sudah beberapa kali masuk dalam nominasi penghargaan Nobel, dan hingga sekarang sistem pengajaran ini tetap populer di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Inilah pandangan Maria soal cara mendidik anak:

  • Anak berhak dihargai, jadi permintaan yang sopan itu lebih baik dari perintah.
  • Ketika bicara, jangan berdiri, melainkan duduk atau jongkoklah sehingga posisi mata Anda dan buah hati sejajar.
  • Pastikan kursi dan meja anak sesuai dengan tinggi badannya. Sisihkan pula ruang dalam rak sepatu sehingga ia bisa menaruh sendiri alas kakinya di sana. Hal sepele semacam ini bisa membuatnya bahagia karena ia merasa ‘diakui’.
  • Hindari melakukan (untuk anak) hal-hal yang bisa mereka selesaikan sendiri.
  • Jika Anda menghukum untuk setiap kesalahan, maka mereka merasa bersalah dalam segala hal.
  • Bila orang tua mendukung dan membiarkan anak mengekspresikan perasaannya, maka buah hati akan tumbuh percaya diri.
  • Biarkan anak membantu dalam urusan rumah tangga seperti menyapu, mencuci, dll.
  • Cobalah tidak membeli mainan plastik, material alami seperti kayu lebih baik dan ramah lingkungan.

2.Loris Malaguzzi: Pendekatan Reggio

Psikolog Italia, Loris Malaguzzi, menyimpulkan: “anak sebenarnya berkomunikasi dalam 100 bahasa”, artinya mereka bisa mengekspresikan pemikiran dalam banyak cara mulai dari menggambar, bernyanyi, hingga bemain. Sayangnya, orang dewasa seringkali membungkam 99 bahasa tersebut.

Saran Loris adalah orang tua harus mendengarkan anak dan mengajari mereka menggunakan 100 bahasa tadi setiap hari. Caranya:

  • Tidak ada jawaban benar-salah karena itu semua tergantung dari sudut pandang setiap orang. Jadi ketimbang menyalahkan, tanyakan mengapa anak berpikir demikian, dan beritahu mereka juga sudut pandang lainnya.
  • Sebelum menjelaskan sesuatu, tanyakan apa anak sudah tahu soal itu. Memberitahu anak hal yang sudah diketahui akan membuat buah hati kehilangan minat sehingga malas mendengarkan. Sama kan seperti orang dewasa?!
  • Tanyakan lebih banyak pertanyaan ketimbang menuntut jawaban/ penjelasan detil. Dengan begitu, anak bisa belajar berpikir dan mengekspresikan pemikiran mereka.
  • Biarkan anak memilih, contoh urusan pakaiannya, warna ransel, dll.

3.Rudolf Steiner: Pengajaran Waldorf

Poin utama Waldorf adalah membesarkan anak percaya diri yang suka bekerja dan mampu mengembangkan kreativitas dalam dirinya. Tidak ada ranking atau tes dalam sekolah yang menggunakan sistem ini, namun mereka tetap lulus ujian seperti murid sekolah lainnya. Rahasianya?!

  • Tidak ada buku yang bisa mengajar orang tua cara berkomunikasi dengan anaknya. Setiap anak itu unik, jadi perlakukan mereka secara berbeda pula.
  • Cerita yang menarik dapat mengajar anak lebih baik ketimbang buku penuh bab yang membosankan.
  • Anak seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah sehingga bisa mengobservasi sekitar, melihat pemandangan, dll.
  • Mainan sederhana seperti wooden block, mampu membangkitkan imajinasi anak.
  • Setiap hari, biasakan anak merasa aman dan ajari mereka menjadi pribadi yang teratur serta rapi.

4.Alexander Neill: Sekolah Summerhill

Warga Inggris menganggap sekolah ini kontroversial karena murid boleh tidak belajar dan mereka bahkan tidak wajib menghadiri kelas. Rata-rata, anak menghabiskan waktu 3 bulan tanpa melakukan hal berarti, kemudian mereka mulai masuk kelas. Namun di Summerhill, anak bisa belajar bekerja menggunakan Photoshop, berkebun, sulap, dll. Hal lain yang menarik dari pemikiran Alexander adalah:

  • Ketika kita bilang ‘tidak’ pada anak, anak akan bilang ‘tidak’ juga pada kehidupan.
  • Anak yang sulit itu biasanya tidak bahagia dan tidak mampu menemukan damai dalam dunia atau dirinya sendiri. Orang tuanya dalam hal ini, harus menjawab pertanyaan berikut dengan jujur: “apakah saya mendukung anak?” dan “apakah saya memercayainya?”
  • Yang harus anak lakukan adalah menghidupi hidupnya sendiri, bukan orang tua atau seperti yang direncanakan gurunya.
  • Anak tak seharusnya menyesuaikan diri dengan sekolah, melainkan sebaliknya.
  • Setiap orang butuh kebebasan. Tapi ingat, bebas dan semau gue itu berbeda ya.
  • Orang tua sering menakuti anak, padahal mereka harusnya dididik agar tidak takut apapun.

5.John Dewey: Instrumentalisme

Di Amerika, John dinobatkan sebagai “bapa pendidikan progresif”. Dia percaya tujuan utama sekolah adalah mengajar anak menemukan solusi mereka sendiri dalam segala situasi dengan cara beradaptasi dengan lingkungan. Oleh sebab itu, anak harus diajari tugas khusus ketimbang pengetahuan abstrak dari buku. John berpendapat:

  • Anak harusnya melakukan sesuatu ketimbang diajari sesuatu. Tindakan mendatangkan hasil.
  • Jangan bikin anak malu dengan kegagalannya. Ajarkan bahwa kegagalan seharusnya membuat kita lebih baik lagi.
  • Semua ilmuwan besar berhasil menemukan sesuatu karena mereka tidak takut berimajinasi.

6.Metode Celestin Freinet

Celestin membuka sekolahnya sendiri di usia 24 tahun. Beliau membantu murid yang tumbuh-kembangnya lambat. Sekolahnya tidak memiliki buku atau PR, namun para muridnya berprestasi. Kok bisa? Menurut Celestin:

  • Aktivitas paling menyenangkan bisa jadi siksaan kalau seseorang dipaksa melakukan itu.
  • Hukuman itu membuat malu, baik pihak yang menghukum maupun yang dihukum.
  • Semakin dini anak belajar melakukan kegiatan sehari-hari, makin percaya diri mereka kelak.
  • Daripada melarang dan menghukum, bernegosiasilah agar mereka percaya pendapatnya penting.

So parents, mana nih yang sistem yang paling mengena buat Anda?!

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *