Sunday , October 25 2020

Tips Mengatasi Anak Menjadi Pelaku atau Korban Bullying

Bullying adalah praktik memancing permusuhan dan melancarkan penindasan dari anak yang merasa lebih kuat kepada anak yang lebih lemah (Kidscape: 2001).

Efek buruknya bagi korban bully antara lain, sakit fisik, atau tekanan jiwa, bahkan sampai percobaan bunuh diri yang menyebabkan korban meninggal dunia. Bagi pelakunya, jika dibiarkan terus, ia akan berpikir kekerasan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua masalah. Bagaimana menghentikan pelaku dan membantu korban bullying, mari ikutilah kiat-kiat berikut ini.

Tanda-Tanda Anak Menjadi Pelaku Bullying

  1. Suka mendominasi anak lain.
  2. Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
  3. Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain.
  4. Hanya peduli pada keinginan dan kesenangan sendiri, dan tak mau peduli dengan perasaan anak lain.
  5. Cenderung melukai anak lain ketika orang tua atau orang dewasa lainnya tidak berada di sekitar mereka.
  6. Memandang saudara-saudara atau teman-teman yang lebih lemah sebagai sasaran.
  7. Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya.
  8. Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan, atau tidak peduli akibat dari perbuatannya.
  9. Haus perhatian.

Cara Mencegah Anak Menjadi Pelaku Bullying?

  1. Segera tangani dengan disiplin. Jelaskan bahwa menindas itu perbuatan salah, ajari dia untuk bertanggung jawab atas kesalahannya dengan meminta maaf, dan tidak mengulangi perbuatan perbuatan yang tidak baik tersebut.
  2. Ciptakan kesempatan untuk berbuat baik kepada teman-temannya di sekolah, dengan mengundang mereka main ke rumah, atau berbagi kue di waktu-waktu tertentu.
  3. Tumbuhkan rasa empati anak dengan menjenguk teman yang sakit, mengunjungi rumah yatim piatu, dan lain sebagainya.
  4. Ajari anak Anda keterampilan berteman dengan cara-cara yang asertif, sopan dan penuh tata karma.
  5. Pantaulah acara televisi yang mereka tonton.
  6. Hindari kekerasan dalam bentuk apa pun ketika memperlakukan mereka.

Anak Yang Rentan Menjadi Korban Bullying :

  1. Anak baru di lingkungan tersebut.
  2. Anak termuda atau paling kecil di sekolah.
  3. Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena rasa takut.
  4. Anak penurut karena cemas, atau kurang percaya diri.
  5. Anak yang perilakunya “dianggap” mengganggu orang lain.
  6. Anak yang tidak mau berkelahi atau suka mengalah.
  7. Anak yang pemalu, pendiam, atau tidak mau menarik perhatian orang lain.
  8. Anak yang paling miskin atau paling kaya.
  9. Anak yang rasa tau etnisnya dipandang rendah.
  10. Anak yang memiliki orientasi gender berbeda.
  11. Anak yang agamanya dipandang rendah.
  12. Anak yang cerdas, berbakat, dan memiliki kelebihan dari orang lain.
  13. Anak yang merdeka atau liberal.
  14. Anak yang siap mendemonstrasikan emosinya setiap waktu.
  15. Anak yang paling gemuk, kurus, jangkung, atau pendek.
  16. Anak yang berkawat gigi atau berkacamata.
  17. Anak yang berjerawat atau masalah kesehatan lainnya.
  18. Anak yang memiliki keterbelakangan mental.
  19. Anak yang berada di tempat yang keliru atau bernasib buruk.

Tanda-tanda Anak Menjadi Korban Bullying :

  1. Minatnya pergi ke sekolah menurun atau dia tidak mau lagi pergi ke sekolah.
  2. Rute yang dipilih ke sekolah tidak lazim.
  3. Prestasi anak di sekolah menurun karena kehilangan daya konsentrasi.
  4. Anak menjadi penyendiri dan tidak mau dilibatkan dalam kegiatan di rumah atau di sekolah.
  5. Anak kelaparan sampai di rumah, karena uang jajannya dipalak (diminta secara paksa) anak lain.
  6. Anak mencuri uang orang tua sebagai upeti kepada pelaku bullying.
  7. Begitu datang dari sekolah, anak langsung ke kamar mandi karena takut buang air kecil di sekolah.
  8. Anak menjadi ketakutan setelah menerima SMS atau e-mail.
  9. Anak membolos karena takut bertemu dengan pelaku bullying.
  10. Anak menggunakan bahasa-bahasa yang negatif ketika diminta mengomentari teman-temannya.

Bagaimana Mengatasi Anak Yang Telah Menjadi Korban Bullying?

  1. Katakan dan yakinkan anak Anda bahwa Anda akan selalu berada di sisinya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  2. Gali inisiatifnya untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut.
  3. Munculkan kepercayaan dirinya.
  4. Yakinkan bahwa ini bukan kesalahan anak Anda tapi kesalahan si penindas.
  5. Bekali anak Anda dengan keterampilan bela diri.
  6. Rancang pertemuan dengan orang yang tepat di sekolah anak Anda seperti guru, orang tua si penindas. Bawalah data, fakta, analisis dokter, untuk memperkuat argumen Anda.
  7. Cari dukungan dari wali murid lain, terutama yang anaknya sering dijadikan korban.
  8. Terus ikuti informasi dari anak Anda tentang penindasan di sekolah.
  9. Jika tidak mendapat tanggapan dari pihak sekolah, laporkan ke dinas pendidikan yang lebih tinggi, media atau Komnas Perlindungan Anak (KPA).
  10. Ajari anak Anda menjadi orang yang baik namun berani berkata “tidak” atau melawan jika dia diganggu.

About Bas