Thursday , October 22 2020

Tips Mendidik Anak Agar Pintar Mengelola Uang Saku

Anak taman kanak-kakak belum diajarkan mengenal uang. Mereka dilarang membawa uang ke sekolah, tapi mereka diharuskan membawa bekal makan siang. Sedangkan anak sekolah dasar kelas 1 s/d 6, sudah diajarkan tentang uang saku.

Pasti akan tiba saatnya nanti ketika seorang anak harus memiliki tanggung jawab di bidang keuangan. Secara sederhana kita sebut, uang saku. Pada umumnya uang saku diberikan ketika si kecil berusia 7 tahun ke atas. Uang saku diberikan kepada si kecil untuk mengajarinya cara mengelola keuangan.

Anak yang harus berjuang keras demi uang tidak hanya lebih bertanggungjawab dalam hal tersebut, tapi juga dalam semua aspek kehidupan lainnya. Pada kenyataannya  bahwa anak yang memiliki kemampuan mengelola manajemen keuangan yang baik, cenderung pandai mengelola tugas-tugas sekolahnya dengan baik pula.

Aturan memberikan uang saku kepada anak adalah sebagai berikut:

Anak tak perlu bersusah payah mendapatkan uang saku. Artinya: kita tidak mengupah anak untuk melakukan tugas harian di rumah. Memberi upah untuk melakukan tugas rumah tangga berarti merenggut harga diri anak, sebab ia bekerja demi sebuah pembagian tugas yang adil dalam keluarga. Anak kita beri upah untuk tugas harian, hanya ketika ia melakukan pekerjaan yang sebenarnya merupakan kewajiban kita, saat kita tidak ingin melakukannya.

Sediakan uang saku pada waktu yang sama setiap minggunya. Bisa dengan menggunakan amplop, masukkan uang tunai, dan selipkan kertas kecil dengan uraian penggunaan dana. Misalnya: 5 ribu untuk ongkos angkot, 5 ribu untuk uang jajan per hari. Tandatangani kertas tersebut dan tuliskan: ”Karena kami mencintaimu, belanjakan uang ini dengan bijaksana dan aturlah supaya cukup.”Si kecil pasti akan belajar menjaga amplop tersebut.

Jangan memaksa anak untuk menabung uang saku tersebut. Ia tak dapat belajar mengatasi persoalan keuangan jika menyimpan uangnya di balik bantal. Ajarkan anak untuk menabung pada saat ia sudah besar. Untuk belajar tentang pentingnya uang, anak harus berhasil melewati masa depresi keuangannya sendiri. Saat ia kehabisan uang dan tidak mempunyai seratus rupiah pun saat ia sedang membutuhkan. Pada umumnya orang dewasa dan juga anak belajar menabung setelah tahu rasanya bangkrut.

Sejauh tidak terlibat dalam kegiatan melanggar hukum, izinkan anak membelanjakan, menabung, dan memboroskan uangnya sesuka hati. Ia pun boleh menggunakannya untuk membayar orang untuk melakukan tugas hariannya.

Namun ada yang harus diperhatikan, ketika uang sakunya habis, habislah sudah. Tidak ada lagi uang saku sampai amplop minggu depan. Jika anak kehabisan uang saku lebih awal, untuk mendapatkan uang tambahan ia harus bekerja menggantikan ibu untuk melakukan tugas-tugas harian di rumah. Seperti : mencuci piring, menyapu, mencuci mobil, mengepel lantai, dan lain sebagainya.

Ajarkan anak untuk secara kreatif mencari tambahan uang ketika uang sakunya habis sebelum waktunya. Ia bisa menjual koran bekas ke tukang loak atau pemilik warung, menjual prakarya atau hasil kerajinan tangannya, dan lain sebagainya.

Ini mengajarkan anak untuk berfokus menemukan solusi atas masalah kekurangan uangnya. Pada minggu berikutnya, tentu si kecil akan lebih bijaksana dalam menggunakan uang sakunya dan berpikir dua kali untuk memboroskannya.

About Bas