Saturday , October 24 2020

Tips Mendidik Anak Agar Belajar Bertanggungjawab

Setiap orang tua dihadapkan pada tantangan yang sama, yaitu bagaimana membesarkan dan mendidik anak agar bertanggungjawab. Hanya anak yang memiliki tanggung jawablah yang dapat menjalani hidup di dunia nyata yang menanti di hadapan mereka. Dalam setiap langkah, anak-anak dan para remaja di hadapkan pada keputusan antara hidup dan mati. Mulai dari masalah penyalahgunaan narkoba, seks bebas, balapan liar di jalan raya, minum- minuman keras dan mabuk-mabukan, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan tekanan dan godaan hidup orang dewasa yang terpampang dihadapan anak-anak setiap hari.

Bagaimana anak agar mampu menghadapi dan mengatasi yang kelak menekan hidupnya? Apa yang kelak akan mereka lakukan jika berhadapan dengan urusan hidup dan mati mereka? Apa yang akan mereka lakukan jika kita tidak lagi mendampingi mereka dan memberikan nasihat? Sayangnya, terdapat begitu banyak anak-anak yang menyongsong masa remaja yang penuh tantangan dan ancaman, tanpa suatu pegangan dalam membuat keputusan.

Mereka sebenarnya tahu tapi penasaran dan masih saja mencoba-coba berkenalan dengan narkoba. Dengan mengabaikan nasihat yang tulus dari orang tua dan orang dewasa di sekitarnya. Anak remaja juga terkadang mencoba aktivitas seks pranikah, dan melakukan perbuatan yang menjerumuskan dan menghancurkan masa depannya. Ironisnya, banyak dari pilihan-pilihan keliru tersebut merupakan keputusan ikut-ikutan yang baru pertama kali mereka lakukan. Karena pada masa kecilnya,keputusan dalam hidup anak selalu dibuat oleh orang tua yang memiliki maksud baik seperti Anda dan saya sebagai orang tua mereka.

Padahal kita sebagai orang tua harus memahami bahwa untuk membuat keputusan yang tepat, sama halnya seperti kegiatan lain: harus dipelajari . Remaja yang membuat pilihan keliru dengan mencicipi narkoba bisa disamakan dengan anak yang tidak pernah belajar menahan keinginan untuk memperoleh jatah kue tart sebelum waktunya. Siapa pun yang berperan sebagai orang tua pasti sangat ingin mendidik agar anak-anak mereka bertanggungjawab.

Cinta yang Membawa Masalah

Orang tua di belahan Bumi mana pun kan melakukan hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk anak-anak mereka. Sebab, suatu hari, bocah kecil yang kita gendong, nina bobokan, dan bergelayut di tangan kita, akan tumbuh menjadi dewasa dan harus menghadapi dunia nyata. Kita sebagai orang tua mereka bersedia melakukan apa pun agar mereka dapat melangkah dengan yakin dan memilih jalan yang benar dalam menapaki hidup (tanpa kehadiran kita di sisi mereka).

Dan kita melakukannya atas nama cinta. Namun, cinta pun dapat menimbulkan masalah, bukan pada cinta itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita menunjukkannya. Kelak terbukti, bahwa hasrat mulia kita dalam menyayangi anak justru sering berubah menjadi musuh utama dalam mendidik anak menjadi pribadi tangguh yang memiliki tanggung jawab terhadap hidupnya.

Banyak dijumpai anak “bermasalah” berasal dari keluarga kaya raya, berkelimpahan cinta, kasih sayang, bahkan cinta yang tanpa syarat. Inilah jenis cinta yang keliru. Hal tersebut terjadi karena pendidikan orang tua dalam mendidik yang tidak efektif.

2 jenis pendidikan dari orangtua yang tidak efektif bagi anak adalah sebagai berikut:

1. Orang tua helikopter

Orang tua jenis helikopter berpikir bahwa cinta berarti memusatkan hidup mereka di sekeliling anak. Mereka setia setiap saat, berjaga-jaga dan menolong anak kapan pun saat dibutuhkan. Menyediakan makan siang, meminta izin, membantu membuatkan pekerjaan rumah, dan sebagainya. Tak satu pun hari dilewati anak tanpa “rintangan”. Kesempatan belajar anak-anak dari kesalahan dicuri oleh orang tua atas nama cinta.

2. Orang Tua Sersan Pelatih

Orang tua jenis ini melatih anak dengan pengendalian dan bentakan. Menurut mereka, semakin sering anak dibentak dan dikendalikan semakin baik hasilnya. Tentu saja berhasil, karena mereka terus menerus diberi tahu meskipun lewat “bentakan atas nama cinta.” Hemat kata, saya ingin bilang,” Saat kita mengizinkan anak untuk gagal, terkadang bukan berarti mereka gagal total. Sesungguhnya kita sedang mengizinkan ia untuk memilih keberhasilan.

Pak Dahlan Iskan pernah bilang, “Habiskan jatah kegagalanmu selagi masih muda.” Tanggung jawab tidak bisa diajarkan, melainkan harus diraih dan diperjuangkan.

Untuk membantu anak dalam meraih dan memperjuangkan tanggung jawab, kita harus menawarkan mereka kesempatan bertanggung jawab. Izinkan mereka keluar malam hari namun batasi jam pulang maksimal sampai pukul 12 malam dengan catatan mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau merusak diri sendiri dan orang lain. Arahkan mereka untuk aktif di komunitas yang baik. Ini adalah cara tepat untuk menuntun mereka belajar bertanggungjawab.

About Bas