Tuesday , October 20 2020

Tips Membantu Anak Menyelesaikan PR

Tugas sekolah atau pekerjaan rumah adalah urusan anak, sebab dia lah yang harus menuliskannya, memikirkan jawabannya, dan dia yang akan menerima rangkuman nilainya di rapor.

Sayangnya, banyak orang tua terjebak dalam perangkap sehingga menjadikan PR anak sebagai PR orang tua. Mereka memberi peringatan, memaksa anak untuk mengerjakan PR, meskipun mereka sudah mendapat izin untuk bermain keluar rumah, atau menonton televisi. Orang tua melarang, mengancam, dan berteriak. Dan jika PR tidak dibuat lalu nilai sekolah turun jeblok, orang tua pun marah meledak.

Tanggungjawab kita sebagai orang tua adalah menyediakan kesempatan bagi anak untuk mengerjakan tugasnya. Apakah setengah jam, satu jam, atau bahkan satu setengah jam, anak harus diizinkan duduk di meja makan atau di meja belajar dengan buku pelajaran di dekatnya. Itulah kesempatan kita mengizinkan anak untuk memilih tempatnya (ruang makan, dapur, atau di kamarnya) dan waktu khusus mereka untuk belajar. Kita bahkan harus mengizinkan mereka untuk memilih mau belajar atau tidak.

Terdapat dua hal yang dipelajari anak. Ia dapat belajar dengan mengerjakan tugasnya (yaitu dengan membaca dan menulis), atau berpikir tentang bagaimana memperlakukan tugasnya. Apa pun pilihan anak ia akan tetap belajar – meskipun dengan tidak belajar dan enggan mengerjakan PR hikmah yang diperoleh jadi berbeda.

Guru di sekolah yang memberikan konsekuensi tidak dikerjakannya PR, mungkin sulit menerima jika orang tua membiarkan anak tidak mau mengerjakan PR nya.

Berikut ini adalah dialog efektif untuk menangani masalah PR anak, silahkan menyimak

  • Ibu : “Baiklah, Queency, sekarang waktunya untuk mengerjakan PR. Kita akan menyetel jam ini agar kamu bisa mengerjakan PR. Kamu siap?”
  • Queency: “Duh, Bu, memangnya harus sekarang?”
  • Ibu : Baiklah… kamu boleh memilih mengerjakan PR-mu atau dengan berpikir mengenai PR-mu. Pilih mana yang kamu ingin lakukan malam ini?”
  • Queency: “Aku akan berpikir bagaimana tentang mengerjakan PR-ku.”
  • Ibu : “Kamu boleh melakukan itu jika memang itu maumu, Nak. Ibu berharap kamu dapat menjelaskan pada gurumu agar dia menyetujui tindakanmu. Menurutmu apakah dia akan menerima cara kamu dengan tidak mengerjakan PT yang telah dia berikan?”
  • Queency : “Aku tidak tahu Bu.”
  • Ibu :”Baiklah, kenapa kamu tidak memikirkan hal itu. Kamu masih punya banyak waktu dalam satu jam ini. Ibu akan menemuimu jika kamu satu jam ke depan jika kamu sudah selesai memilih.”

Orang tua harus membantu anaknya mengerjakan PR. Banyak anak ingin dibantu, dan kita seharusnya duduk menemaninya untuk mendampingi, memberikan petunjuk, dan penjelasan yang mereka perlukan. Tetapi itu dilakukan jika anak memintanya. Jangan mengambil alih atau mengerjakan PR anak secara penuh. Itu perbuatan yang tidak mendidik anak agar cerdas dan berani bertanggung jawab.

Katakanlah hal seperti ini : Ayah harus segera menyelesaikan tugas kantor sesudah makan malam, atau Ayah merasa tidak enak sebelum menyelesaikan tugas dari kantor malam ini.”Ini adalah contoh keteladanan bagi anak dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya dari guru-gurunya di sekolah.

Keengganan mengerjakan PR adalah masalah yang cukup rumit. Kemalasan adalah hanyalah salah satu dari penyebab, banyak hal lain yang mungkin menjadi inti selain dari masalah kemalasan tersebut. Anak mungkin saja dalam keadaan kacau, galau sedang terlibat masalah psikologis, kurang fokus dan perhatian, atau ia bermasalah dengan sikap. Untuk masalah-masalah ini, mengatasi gejalanya saja akan kurang bermanfaat. Jika Anda menemukan akar masalahnya, mintalah bantuan seorang ahli psikolog untuk menyelesaikannya masalah tersebut.

About Bas