Wednesday , October 21 2020

Tahapan Perkembangan Moral dan Kenakalan Anak

Kadangkala anak Anda melakukan hal-hal yang tidak Anda setujui. Tentu saja semua anak pernah melakukan hal tersebut. Namun tidak semuanya dapat dikatakan sebagai sebuah kenakalan yang disengaja. Pikirkan baik-baik sebelum Anda menghakiminya. Pasti ada penjelasan lain di balik perbuatannya. Ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi sebelum Anda menggolongkan sepak terjang anak sebagai sebuah perbuatan yang nakal.

 

Sebuah Perbuatan Anak Dapat Digolongkan Nakal Apabila :

1. Direncanakan

Perbuatan yang dilakukan dengan tidak sengaja bukanlah aksi nakal. Namun, jika anak Anda secara sengaja melanggar peraturan yang Anda buat – misalnya dengan tidak membuat pekerjaan rumah itu baru dapat disebut nakal.

2. Sudah Bisa Melakukan Kontrol Sendiri

Anda tidak bisa langsung menuduhnya nakal, kecuali ia memang sudah mampu mengendalikan perbuatannya. Jadi bila seorang bayi yang menyenggol botol shampoo hingga tumpah ketika Anda berusaha mencuci rambutnya, ia tidak bisa dibilang nakal, karena ia belum bisa mengendalikan gerakan otot tubuhnya, ini dilakukan di luar kendalinya.

3. Tidak Sensitive

Saat anak Anda melakukan kenakalan, ia benar-benar mengerti akibat yang timbul dari perbuatannya, namun ia memilih untuk mengabaikan ini demi memuaskan kebutuhan dirinya. Ketidakpekaan terhadap perasaan orang lain inilah yang membuat aksinya dapat dikatakan sebuah kenakalan. Oleh karena itu pikirkan baik-baik sebelum Anda menuding si kecil sebagai anak nakal. Pertimbangkan kemungkinan bahwa ia bisa saja tidak menyadari bahwa ia sedang melanggar peraturan. Semakin kecil usia anak, semakin kecil tindakannya disebabkan oleh kesengajaan.

 

Tahapan Perkembangan Moral Anak-Anak :

Anak Umur 0-2 Tahun

Seorang bayi pada usia ini jarang sekali menangkap perbedaan antara benar dan salah. Menurut pendapatnya “benar” berarti mendapatkan keinginannya dan “salah” orang lain menghentikannya untuk mendapatkan keinginannya. Anda mustahil menuduh seorang anak dalam kelompok ini sebagai anak nakal.

Anak Umur 2-3 Tahun

Walaupun ia masih sma keras kepala seperti sebelumnya, pada usia ini anak Anda sudah mulai mendengarkan Anda. Ia mengerti pentingnya peraturan, tetapi masih ingin memuaskan dirinya. Anda akan melihat anak Anda menentang keras larangan Anda – misalnya: makan es krim di siang hari yang terik.

Anak Umur 3-4 Tahun

Perkembangan moralnya selangkah lebih maju, namun ia cenderung mendasari pandangan moralnya pada akibat, bukan pada penyebab tindakannya. Ini berarti bahwa ia menganggap seorang anak yang sengaja memecahkan sebuah piring tidak senakal anak yang tidak sengaja memecahkan selusin piring.

Anak Umur 4-5 Tahun

Keseimbangan moral mulai bergeser sehingga pada usia ini anak lebih memikirkan mengenai maksud dari sebuah tindakan daripada akibatnya. Ia seringkali membela dirinya dengan berkata “Aku tidak bermaksud melakukannya.” Pemahaman hal yang benar dan salah sudah terbentuk.

Anak Umur 5-6 Tahun

Anak dalam usia ini biasanya memiliki pendirian yang kuat akan hal-hal yang benar dan salah sehingga ia menunjuk dirinya sendiri sebagai polisi pengawas moral. Karena itu ia tidak segan-segan menghabiskan waktunya untuk menasihati semua orang di rumah saat ia melihat mereka melanggar peraturan.

Anak Umur 6-8 Tahun

Anak Anda memahami bahwa peraturan moral tidaklah harus selalu kaku dan sering bergantung kepada situasi. Misalnya, ia mungkin akan berdebat bahwa seorang pria miskin boleh saja mencuri karena alasan lapar dan demi mencari uang buat membeli makanan bagi keluarganya. Anda akan melihat bahwa ia akan menantang beberapa peraturan yang Anda tetapkan.

 

Mengapa Anak-Anak Melanggar Peraturan?

Ketika perkembangan moral anak sudah cukup matang, ia mungkin saja masih melanggar peraturan. Ia bisa berbohong, mencuri, mengumpat, dan lain-lain.

Inilah 3 alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi, yaitu:

1. Alasan Praktis

Misalnya, anak Anda mencuri mainan dari kamar kakaknya karena ia ingin memainkannya atau mungkin ia berbohong, karena tahu kalau jujur ia akan mendapatkan hukuman. Sebagian besar alasan anak didasari keinginan untuk memuaskan keinginannya.

2. Alasan Emosional

Seorang anak yang merasa tidak dicintai oleh orangtuanya kemungkinan akan mencuri uang dan makanan dari orang tuanya untuk mengganti kekurangan kasih saying yang ia rasakan. Mencuri juga menjadi cara baginya untuk menarik perhatian orang tua.

3. Faktor Social

Tekanan dari teman-teman sebaya seringkali menjadi pemicu utam yng mendorong anak untuk berbuat nakal seperti: berbohong, mencuri, mengumpat, bolos dari sekolah, dan lain sebagainya. Sulit baginya untuk bertindak dengan bebas saat ia berain dengan kelompok teman sebayanya.

Sumber : Mengapa Anakku Begitu? Jilid 2, Panduan Praktis Menuju Pola Asuh Positif, Dr. Ricard C. Woolfson, Erlangga for Kids, Jakarta, 2005.

About Bas