Sunday , October 25 2020

Tahapan Menulis Pada Anak Usia Dini

Sebagai orang tua, Anda perlu mengetahui tahapan-tahapan perkembangan sebelum buah hati Anda, menulis kalimat dan belajar tentang kata-kata. Menurut Brown (1990:99) terdapat empat tahapan menulis, yaitu:

  1. Pre communicative writing.
  2. Semphonic writing.
  3. Phonic writing.
  4. Transitional writing.

 

1. Tahap pertama ( pre communicative writing )

Pada tahap ini anak belajar bahwa huruf-huruf itu membentuk kata-kata untuk keperluan komunikasi. Anak memerhatikan orang tua dan saudara-saudaranya membaca dan menulis sekalipun anak belum menghubungkan huruf dan bunyi. Anak tetap saja menulis, meskipun orang tua menganggapnya main-main, sebab hal itu merupakan upaya anak untuk berkomunikasi melalui tulisan sekalipun tidak dipahami orang lain. Tulisannya hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.

2. Tahap kedua ( semphonic writing )

Pada tahap ini anak sudah mulai memahami huruf , bunyi dengan konsonan dalam posisinya pada sebuah kata. Sayangnya hal in belum diakui sebagai komunikasi yang sesungguhnya. Orang dewasa yang berada di sekitarnya dapat memahaminya apabila anak membacakan apa yang telah ia tulis.

3. Tahap ketiga ( phonic writing )

Pada tahap ini anak mulai belajar mengeja bunyi kata menurut struktur kata yang sederhana.

4. Tahap keempat, ( transitional writing )

Adalah di mana anak mulai mengakui aturan-aturan bagi standar ejaan. Setelah itu anak mulai mendemonstrasikan pengetahuannya dengan ketatabahasaan dan standar ejaan.

 

Pentingnya Kemampuan Menulis bagi Anak Usia Dini

Menulis merupakan salah satu kemampuan yang harus dikembangkan dalam perkembangan bahasa anak, karena kehidupan manusia selain dengan komunikasi lisan, terdapat pula komunikasi tulisan. Kegiatan menulis mempunyai hubungan yang erat dengan membaca, menulis adalah kakak kandung dari kegiatan membaca.

  • Hohmann (1995), seorang pendidik anak berkata, Pembelajaran membaca dan menulis harus dilakukan bersamaan.
  • Roskos (2003) juga menyatakan bahwa anak-anak membutuhkan tulisan untuk membantu mereka belajar membaca, mereka membutuhkan bacaan untuk membantu mereka belajar menulis, dan mereka membutuhkan komunikasi lisan untuk membantu mereka belajar membaca dan menulis.

Solusi praktis untuk Anda sebagai orang tua adalah ajak mereka ke toko buku, belikan mereka buku cerita dengan gambar-gambar yang menarik, serta belikan mereka buku gambar agar mereka bebas mencorat- coret dan mengeksplorasi imajinasi mereka di buku gambar tersebut, atau tempelkan kertas daur ulang di dinding rumah Anda agar si kecil dibebaskan “berkarya” mencorat-coret dinding tanpa rasa bersalah.

Sedangkan Montessori (1984 – 1998) menyatakan bahwa kemampuan menulis merupakan kemampuan motorik halus yang memerlukan koordinasi antara mata dan tangan.

Kemampuan menulis pada anak taman kanak-kanak meliputi kemampuan dan keterampilan memegang alat-alat tulis-menulis, membuka dan menutup buku, menggunakan alat penghapus ketika harus menghapus gambar, atau tulisan, cara duduk yang benar, kemampuan membuat coretan, mengambar garis lurus, garis miring, dan garis lengkung, segitiga, segiempat, dan lingkaran.

Solusi untuk Anda adalah temani si kecil ketika menggambar, membuat coretan, dan sediakan buku aktivitas mencoret, menggambar, dan menulis agar minat menulisnya tersalurkan.

Lamme dalam Claudia (1992: 89), mengemukakan sejumlah keterampilan khusus yang perlu dimiliki anak ketika mereka belajar membaca dan menulis. Keterampilan ini adalah membuat coretan, mengambar garis, membuat bentuk-bentuk dasar geometri, dan menggambar huruf. Kegiatan ini dapat dilakukan di tanah, di kertas, atau di udara.

Hohmann (1995) juga menyatakan bahwa menulis untuk anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya : menggambar, mencorat-coret, menulis berbagai bentuk, mengeja, dan menulis secara natural tanpa ada bimbingan dan arahan dari orang lain. Biarkan anak secara bebas mengeksplorasi kehendaknya untuk mengembangkan kemampuan menulis dan membacanya secara bertahap.

About Bas