Beberapa smartphone yang berharga murah dan memiliki kualitas tinggi khususnya dari China seperti Xiaomi dan Lenovo telah menjadi satu dari sekian perusahaan besar yang mensejajarkan diri di sektor teknologi. Mereka memiliki pelanggan tetap dan selalu mengeluarkan smartphone-smartphone yang mengandalkan poin murah sebagai daya tarik bisnis mereka. Namun apa jadinya, jika era smartphone dari China yang murah tersebut diprediksi akan segera hilang?

Ya, berdasarkan data terbaru salah satu riset teknologi yang telah sebuah organisasi lakukan di pasar teknologi sekitar Asia, China kini tidak lagi menjual smartphone mereka dengan harga yang relatif murah, berkisar 2 sampai 3 juta rupiah. Berdasarkan data dari Bloomberg News, akhir tahun 2014 China telah mengalami kenaikan harga smartphone sebesar 800 ribu rupiah. Itu artinya, China tidak lagi menjual smartphone mereka dengan harga yang itu-itu saja.

Tren menaikkan harga ini otomatis membuat tingkat inflasi di sekitar Asia khususnya China menjadi naik 3 kali lipat dan menurunkan devaluasi. Hal ini juga telah dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti naiknya harga hampir seluruh merek smartphone seperti Apple dan Samsung. Bryan Ma sendiri selaku pengamat dari IDC mengungkapkan bahwa smartphone buatan Cina yang dulunya hanya seharga 3 juta kini sedang mendekati 4 sampai 5 juta rupiah karena adanya pengaruh dari luar. Selera pasar yang didominasi oleh fans gadget Cina juga sedang menginginkan spesifikasi jauh diatas rata-rata meski mereka harus merogoh dana yang cukup banyak.

Akibatnya, vendor smartphone asal China seperti Huawei, Xiaomi, Lenovo hingga vendor yang bersebelahan dengan mereka yaitu ASUS perlahan-lahan juga telah mengikuti ‘arus’ yang sekarang sedang terjadi. Mau tidak mau, hal ini harus mereka lakukan untuk membantu kesejahteraan perusahaan mereka dengan merombak sistem pemasaran dan pengelolaan, juga membenarkan komponen teknologi dan menyesuaikan dan menyetarakan komponen smartphone mereka dengan smartphone lainnya.