Saturday , October 24 2020

Sekolah Pre-School Mengasah Kecerdasan Anak Bersosialisasi?

Banyak orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anak sejak dini dengan tujuan untuk mengasah kemampuan bersosialisasi. Benarkah alasan tersebut? Perlu diingat, sosialisasi baru terjadi kalau si anak telah mengenal dirinya sendiri. Hal yang terjadi sebenarnya adalah sosialisasi semu: anak Anda berada di lingkungan pre-school dengan teman sebaya namun tidak terjadi interaksi sosial. Kebanyakan orang tua merasa bahwa anak sudah bersosialisasi karena si anak telah duduk bersama temannya tanpa menangis. Sosialisasi bukanlah seperti itu. Sosialisasi mensyaratkan adanya reaksi timbal balik, hal tersebut tidak akan terjadi bila anak Anda hanya sekedar duduk manis, tanpa menangis, tanpa bertegur sapa, tanpa bertukar cerita di sebelah dengan teman barunya.

Perlukah Balita Bersekolah di Dua Tempat?

Berbahayakah menyekolahkan anak balita pada dua sekolah yang memiliki kurikulum dan fokus kurikulum yang berbeda? Apakah panjangnya jam belajar tidak memberatkan anak usia balita? Amati kemampuan dasar berbahasa si anak, jika si kecil mengalami kebingungan bahasa dengan hanya bersekolah di satu tempat, maka jangan berambisi menyekolahkan si kecil di sekolah yang memiliki bahasa berbeda lainnya. Balita tak wajib belajar dua bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus. Hindarilah pelajaran yang tidak penting dan membingungkan anak. Untuk melatih motorik anak dapat dilakukan bila si anak banyak melakukan permainan, dan hal itu dapat dilakukan di rumah bersama teman sepermainan atau bersama orang tua (ibu atau ayah). Aktivitas keseharian sang anak dari bangun tidur hingga pergi tidur sebenarnya sudah merupakan proses belajar bagi si anak.

Anak usia 2,5 tahun pasti akan lebih menyukai sekolah yang menawarkan program bermain lebih banyak. Apa pun yang ia temui dapat dijadikan sebagai mainan baru. Melalui permainan yang dilakukan, proses tumbuh kembang dan proses pembelajarannya berjalan. Bila pada usia tersebut anak diwajibkan menghafal dengan serius dikhawatirkan perkembangan tumbuh kembangnya akan terganggu. Belajar hafalan doa untuk anak seusia tersebut sebenarnya dapat dilakukan di rumah, sambil bermain disertai pengulangan pratik sehari-hari, tak mesti dengan mengikuti pendidikan formal tertentu.

Pemberian hafalan dan sekolah “serius” tidak akan menghasilkan otak yang cemerlang dan mempercepat proses tumbuh kembangnya. Percepatan proses ini menyalahi aturan dan norma tahapan tumbuh kembang anak. Hal yang perlu diingat semua orang tua, tahapan tumbuh kembang anak tidak dapat di program saklek seperti halnya program perintah baris pada komputer.

Hal yang dapat dilakukan orang tua adalah memahami tahapan proses tumbuh kembang anak beserta latar belakang tumbuh kembangnya. Kata kunci yang tepat bukan pada usaha mempercepat kecepatan tumbuh kembang seorang anak tetapi memfasilitasi dan membantu pertumbuhan si kecil sesuai dengan tahapan dan kecepatan tumbuh kembangnya secara normal.

Kegiatan penuh satu hari atau pun jadwal yang padat dari hari Senin sampai dengan Minggu pada anak tidak akan menjadi masalah selama anak tidak merasa terbebani dan menikmati aktivitas-aktivitas yang ia lakukan. Namun kegiatan pemantauan bagi orang tua harus selalu berkelanjutan dilakukan agar ia (orang tua) dapat membaca bila anak memiliki minat di bidang yang lain Dengan tumbuhnya minat anak di bidang tertentu, dukung hobinya.

Dengan demikian sang anak akan bersemangat melakukan aktivitas baru favoritnya tanpa terbebani. Beri anak waktu untuk berkembang. Nikmati proses tumbuh kembang anak dengan terlibat di dalamnya. Tak perlu tergesa-gesa. Pohon saja tidak tumbuh tergesa-gesa.

About Bas