Sunday , October 25 2020

Sejarah Obyek Wisata Istana Maimun Kesultanan Deli

Obyek Wisata ber sejarah di Sumatra Utara yang bisa Anda kunjungi adalah Istana Maimun, salah satu ikon Kota Medan. Istana ini tepatnya berada pada Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.

Istana ini dibangun berkat melimpahnya hasil perkebunan, minyak, rempah-rempah, dan tembakau dari Deli yang begitu terkenal sampai ke manca Negara. Hasil bumi ini sangat berarti dan memberi pemasukan yang lebih dari cukup untuk Kesultanan Deli. Inilah peninggalan bersejarah Kesultanan Deli yang didirikan oleh Sultan Mahmoed Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun 127 tahun yang lalu, tepatnya 26 Agustus 1888.

Begitu Anda memasuki ruang utama Istana Maimun, Anda akan disambut seorang pemandu wisata yang dengan senang hati akan menjelaskan seluk beluk tentang Istana Maimun. Istana ini didominasi warna kuning untuk mempertegas warna khas Melayu. Istana Maimun memiliki luas 2.772 m² dan 30 ruang yang tersebar di dua lantai.

Halaman Istana berupa lapangan rumput yang cukup luas kadang-kadang dijadikan anak-anak sebagai tempat bermain bola. Pada saat akhir pekan dan hari libur, cukup banyak pengunjung yang tertarik dengan keindahan dan sejarah dari Istana Maimun yang megah ini.

Arsitektur Yang Unik Perpaduan Dari Berbagai Budaya

Anda akan menelusuri ruang demi ruang Istana ini dengan disertai alunan khas musik Melayu, seolah-olah Anda masih berada pada jaman kejayaan Kesultanan Deli, tempo dulu.

Secara umum bangunan Istana Maimun ini terdiri dari dua lantai dan terbagi menjadi tiga bagian yaitu bangunan induk, sayap kanan dan sayap kiri. Tidak jauh dari Istana yang menghadap ke timur ini berdiri Mesjid Raya Al Mashun. Keindahan istana ini memang tak terbantahkan, meski usianya sudah mencapai 127 tahun. Bangunan induk adalah ruang utama di mana ruangan tersebut dulu dipakai untuk penobatan Sultan Deli, dan ruangan untuk menerima tamu kehormatan dan sanak saudara keluarga kerajaan.

Atap ruangan yang tinggi dan dihias dengan ornament yang unik membuat betah setiap orang yang datang berkunjung. Pada ruangan utama seluas 412 meter persegi ini terdapat tahta yang didominasi warna kuning. Jika diperhatikan arsitektur Istana ini memang cukup unik. Memiliki beberapa perpaduan unsur budaya melayu bergaya Islam, Spanyol, India, dan Itali. Perpaduan ini akhirnya menghasilkan kharakter yang khas. Pengaruh Eropa nampak dari lampu gantung yang menghiasi setiap ruangan, meja, kursi, lemari, jendela hingga pintu-pintunya.

Jika diperhatikan ada pula prasasti dari batu marmer yang ditulis dalam bahasa Belanda. Pengaruh Islam terlihat dari bentuk lengkung di bagian atap yang bentuknya menyerupai perahu terabalik (lengkung persila) yang biasanya sering dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tengah.

Asal Usul Meriam Puntung

Hal yang menarik perhatian lainnya dari komplek istana ini adalah ada sebuah bangunan kecil di sisi Istana Maimun yang berbentuk rumah dengan atap bergaya adat Karo. Rasa penasaran ini akan menuntun Anda untuk melangkahkan kaki Anda masuk ke bangunan kecil tersebut. Rupanya di dalamnya terdapat sebuah meriam yang dikeramatkan, nama meriam itu adalah meriam puntung.

Menurut hikayat puak Melayu Deli, meriam ini penjelmaan dari adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua yang bernama Mambang Khayali yang berubah menjadi meriam untuk mempertahankan Istana Maimun dari serbuan Raja Aceh yang ditolak pinangannya oleh Putri Hijau. Akibat larasnya yang panas karena menembak terus menerus, meriam ini pun pecah menjadi dua bagian. Menurut dongeng, ujung meriam melayang dan jatuh di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Tanah Karo. Sedangkan bagian pecahan satunya lagi disimpan di dalam ruang kecil ini. Selamat menikmati keindahan Kota Medan.

About Bas