Tuesday , October 20 2020

Sejarah dan Jenis Batik Indonesia

Bukan hanya rumah adat, tradisi, dan keseniannya saja yang beragam, dalam hal tata rias pun Indonesia memiliki banyak sekali pakaian dan aksesoris untuk mempersolek diri, sesuai dengan masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Yang telah kita kenal, batik dan songket misalnya. Motifnya yang unik namun tetap anggun saat dikenakan menjadikan pakaian-pakaian adat ini digemari banyak orang meskipun harganya bervariatif. Kali ini, kita akan membahas salah satu hasil kebudayaan asli masyarakat Indonesia ini.

Sejarah Batik

Batik pertama kali dikenalkan oleh nenek moyang kita pada abad VXII, dimana pada saat itu nenek moyang kita melukis corak di atas daun lontar. Pada awalnya, nenek moyang hanya melukis corak binatang dan tanaman saja. Namun seiring perkembangan waktu, hal-hal abstrak seperti awan, relief candi dan sebagainya menjadi objek lukisan ini. Kemuudian dengan penggabungan dan modifikasi akhirnya munculah motif-motif batik yang saat ini kita kenal. Motif dan jenis dari batik sangat beragam, tergantung daerah masing-masing dan filosofi yang digunakan, oleh karena itu batik menjadi sangat “khas” dan menjadi identitas Indonesia yang memiliki budaya yang beragam.

Perkembangan batik dimulai sejak masa pemerintahan Kerajaan Majapahit, kemudian berlanjut hingga Kerajaan Mataram, Solo dan Yogyakarta. Pada masa itu, batik hanya dikerjakan untuk kalangan keraton dan pengikutnya saja. Namun karena banyaknya pengikut keraton yang tinggal diluar istana, akhirnya batik menyebar dan kemudian ditiru oleh rakyat. Para ibu rumah tangga biasanya melukis corak batik untuk mengisi waktu luang. Akhirnya, batik menjadi pakaian yang digemari oleh seluruh masyarakat.

UNESCO telah menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non benda (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. Kata batik sendiri berasal dari bahasa Jawa amba yang berarti menulis dan titik yang berarti titik. Jadi dapat dikatakan bahwa batik merupakan kain yang terdiri dari kumpulan titik-titik (gambar) yang berbeda dan khas.

Adapun jenis-jenis batik berdasarkan coraknya yaitu:

  • Batik Kraton.
  • Batik Sudagaran.
  • Batik Cuwiri.
  • Batik Petani.
  • Batik Tambal.
  • Batik Sida Mukti.
  • Batik Sekar Jagad.
  • Batik Pringgondani.
  • Batik Kawung.
  • Batik Sida Luhur.
  • Batik Sido Asih.
  • Batik Semen Rama.

Cara pengerjaan batik pun relatif sederhana, namun tingkat ketelitian, kerapihan dan kreativitas pembuatnya lah yang menjadi kunci utama dalam pembuatan batik yang berkualitas.

Dilansir dari wikipedia.org

  • pertama, pembatik melakukan teknik sketsa yaitu pembatik harus membuat gambar/corak/motif terlebih dahulu dengan menggunakan pensil di atas selembar kain putih. Motif yang digunakan bisa wayang, pemandangan, motif abstrak, dan lain sebagainya.
  • Kedua, yaitu teknik percantingan. Selain dengan media canting, pembatik dapat menggunakan kuas, pelepah pisang, sapu lidi, kapas dan lain-lain.
  • Ketiga, yaitu teknik pewarnaan. Pewarnaan bisa dilakukan dengan cara pencelupan dan colet, atau bisa dengan menggabungkan keduanya. Pewarnaan sintetis umumnya menggunakan naphtol, indigosol dan remazol. Tiap-tiap pewarna sintetis mempunyai pengunci tersendiri, gunanya untuk mengunci warna agar tidak mudah luntur nantinya.
  • Dan yang terakhir, adalah teknik pelorotan, dimana kain dimasukkan ke dalam air mendidih untuk menghilangkan malam. Setelah dikeringkan, batik siap digunakan.

Dengan uniknya batik ini tentu saja ada filosofi dibaliknya. Umumnya, filosofi batik banyak berkaitan dengan budaya Hindu, karena pada awal mula dan perkembangannya budaya Hindu masih sangat lekat dengan Indonesia. Makna atau pesan moral yang terkandung dalam batik biasanya ditunjukkan dengan simbol-simbol dalam batiknya, seperti sayap yang melambangkan mahkota atau perguruan tinggi, burung yang melambangkan dunia atas, dan lain sebagainya. Apapun filosofinya, yang jelas kita sebagai masyarakat Indonesia harus tetap melestarikan kerajinan asli Indonesia ini agar kelak anak cucu kita masih bisa menikmatinya.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *