Monday , October 19 2020

Ragam Pakaian Tradisional Buton, Sulawesi Tenggara

Pakaian adat memang mencerminkan bagaimana keadaan budaya tersebut. Pakaian adat tak jarang menunjukkan tingkat kedudukan atau peran seseorang dalam lingkungan budaya yang dia tempati. Tak terkecuali dalam adat Buton, Sulawesi Tenggara. Ada berbagai macam pakaian adat yang ada di Buton, yang fungsi dan nilainya pun berbeda. Sebagian besar pakaian adat dikenakan oleh para pejabat yang memiliki kedudukan tinggi atau orang yang status sosialnya ada di atas. Karena itulah akan mudah dalam membedakan kedudukan dan kekuasaan orang Buton dari pakaian yang dikenakannya, karena mulai dari aksesoris hingga motif pakaian yang dikenakan memiliki nilai sendiri yang melambangkan hal yang dimiliki oleh penggunanya. Kalau begitu, apa saja jenis pakaian tradisional Buton ini?

Baju Kombo

Baju kombo merupakan salah satu pakaian kebesaran wanita di Buton yang terbuat dari bahan kain satin dengan warna dasar putih dan dihiasi dengan manik-manik, benang emas atau perak serta berbagai ragam hiasan yang terbuat dari emas, perak maupun kuningan. Baju kombo dikenakan bersama dengan kain sarung besar yang disebut dengan bia ogena. Warna putih dalam baju kombo melambangkan kesucian, kemurnian dan kepolosan wanita Buton serta harapan-harapan mereka yang tinggi.

Baju Kaboroko

Baju kaboroko sangat berbeda dari baju kombo. Baju ini menggunakan banyak warna, banyak motif serta banyak perhiasan. Ada empat buah kancing logam pada leher sebelah kanan dan tujuh buah kancing pada lengan baju yang terpasang pada baju kaboroko. Baju ini digunakan bersama dengan Samasili Kumbaea atau Bia-Bia Itanu yang merupakan bawahan yang terbuat dari kain putih pada lapisan dalam dan kain hitam bercorak pada lapisan luar. Baju ini digunakan sebagai pembeda status sosial wanita di Buton. Filosofi dari baju ini adalah tanggung jawab, keselamatan dan kesejahteraan hidup masyarakat Buton.

3. Baju Kambowa

Baju Kambowa tidak memiliki kerah dan dapat digunakan oleh ibu, gadis atau anak kecil dalam kegiatan sehari-hari pada masa lampau maupun saat upacara-upacara. Bagi kaum bangsawan, baju ini dipadukan dengan kain sarung sebanyak tiga lapis, namun bagi rakyat biasa jumlah kain sarungnya hanya satu lapis.

4. Baju Perangkat Adat (Pakeana Syara)

Seperti namanya, baju ini dipakai saat acara adat atau agama dilaksanakan. Pakaian ini menutupi tubuh penggunanya, dihiasi dengan motif tenunan tradisional Buton yang berupa garis-garis yang membujur dan melingkar. Penggunaan simbol dan motif dalam pakaian ini melambangkan ketaatan masyarakat Buton akan aturan agama dan adat.

5. Pakaian Ajo Tandaki

Pakaian ini hanya terdiri dari sehelai kain besar yang disebut bia ibeloki. Pakaian ini mirip dengan pakaian ihram yang digunakan umat muslim saat berhaji, bedanya ajo tandaki berwarna hitam bukan putih. Pakaian ini biasanya dikenakan oleh anak yang baru disunat bahkan sampai acara pernikahan. Pakaian ini dikenakan bersama tandaki (semacam mahkota), ikat pinggang yang diukir dan sebilah keris.

6. Pakaian Ajo Bantea

Pakaian ini hanya terdiri dari celana panjang (sala arabu) yang melambangkan keterbukaan anak bangsawan terhadap masyarakat yang lain tanpa memandang status sosial. Ajo bantea atau pakeana mangaanaana dikenakan oleh anak-anak bangsawan yang belum menduduki jabatan di pemerintahan kesultanan Buton. Ditambahkan pula penggunaan kampurui bewe patawala atau kampurui tumpa atau kampurui palangi yang dikenakan bersama lepi-lepi, keris, sarung samasili kumbaea atau bia ibeloki, dan bia ogena.

7. Pakaian Balahadada

Pakaian Balahadada terdiri atas destar, baju, celana, sarung, ikat pinggang, keris, dan bio ogena atau sarung besar yang dihiasi dengan pasamani diseluruh pinggirannya. Pakaian ini merupakan pakaian adat seluruh pria di Buton, yang melambangkan keterbukaan pejabat untuk mendengarkan segala keluhan, saran dan kritik rakyatnya.

About Bas