Sunday , October 25 2020

Permainan Anak Yang Mendidik Bercerita, Dixit Game

Belajar Bercerita dengan Dixit Game

Mencari permainan untuk anak-anak memang gampang-gampang sulit. Ada beragam jenis dan genre permainan yang tersedia, tetapi tidak semuanya cocok untuk anak-anak. Salah-salah, Anda justru berisiko membeli permainan dengan konten yang tidak sesuai untuk si kecil. Selain itu, permainan anak juga sebaiknya memuat unsur edukatif agar si kecil tetap bisa bersenang-senang sambil mempelajari hal-hal baru.

Salah satu jenis permainan yang bisa Anda coba adalah permainan kartu. Meskipun terdengar klasik, permainan kartu merupakan jenis permainan yang masih tetap populer hingga saat ini. Beberapa permainan kartu seperti Uno atau kuartet dapat menjadi pilihan permainan yang menghibur untuk mengisi waktu luang bersama si kecil.

Selain Uno atau kuartet, ada banyak permainan kartu lainnya yang tak kalah mengasyikkan. Salah satunya adalah Dixit. Meskipun tidak sepopuler Uno, Dixit dapat menjadi alternative permainan kartu yang tidak hanya mengasyikkan, tetapi juga mengembangkan kemampuan bahasa dan kreativitas anak. Ingin tahu lebih lanjut mengenai permainan ini? Silahkan baca ulasannya di bawah ini.

Tampilan Visual yang Memukau

 

Dixit merupakan permainan kartu yang menitikberatkan imajinasi dan kemampuan berbahasa. Permainan ini diciptakan oleh Jean-Louis Roubira dan diperkenalkan pertama kali pada tahun 2008. Dixit memiliki beberapa paket ekspansi, dan aplikasi permainannya pun tersedia untuk platform iOS.

Keunikan permainan ini adalah ilustrasi-ilustrasi menawan yang ditampilkan di setiap kartu. Berbeda dari permainan kartu lain yang menampilkan ilustrasi, kartu-kartu Dixit memiliki ilustrasi yang unik dan imajinatif, seperti bunga yang tumbuh dari sebuah buku yang terbuka, anak laki-laki yang mengendarai seekor ikan badut di langit, atau seekor kucing yang akan memeluk sebuah planet.

Bermain dengan Imajinasi

Untuk memainkan permainan ini, dibutuhkan setidaknya tiga orang pemain. Aturan bermainnya cukup sederhana. Setiap pemain mendapatkan enam buah kartu, dan akan berperan sebagai pendongeng secara bergantian. Pemain yang berperan sebagai pendongeng memilih salah satu kartu dari keenam kartu yang dimiliki untuk dijadikan sebagai “cerita”. Ia harus menggambarkan ilustrasi pada kartu dalam satu frasa atau kalimat, tanpa menunjukkan kartu tersebut.

Setelah pendongeng menceritakan “kisah kecil”, para pemain lain harus memilih satu kartu dari kumpulan kartu yang paling sesuai atau mendekati cerita di pendongeng. Setelah itu, setiap pemain memberikan kartu yang dipilihnya ke pendongeng dalam keadaan terbalik. Pendongeng mengacak kartu-kartu yang ia dapatkan, termasuk kartu “cerita”-nya, kemudian menampilkan kartu-kartu tersebut ke para pemain lain. Mereka harus menebak kartu yang sebelumnya dipilih oleh pendongeng.

Jika ada salah satu atau beberapa pemain yang berhasil menebak kartu yang benar, pemain dan pendongeng mendapatkan skor tiga. Jika semua pemain berhasil menebak kartu yang tepat, mereka memperoleh skor dua, sementara pendongeng tidak mendapatkan skor. Pendongeng juga memperoleh skor nol ketika tidak ada pemain yang berhasil menebak kartu yang benar. Selain itu, jika ada kartu salah seorang pemain yang dipilih oleh pemain lainnya, pemain yang memiliki kartu tersebut mendapat skor satu. Pemenangnya adalah pemain yang berhasil mendapatkan skor tiga puluh.

Karena tidak terdapat teks pada kartu, para pemain harus menggunakan kreativitasnya untuk bercerita. Ilustrasi yang menarik dapat membantu anak untuk mengembangkan imajinasinya dalam mengemas frasa atau kalimat yang tidak terlalu sulit, juga tidak terlalu mudah untuk ditebak.

Mengembangkan Kemampuan Berbahasa

Absennya teks pada kartu mendorong anak-anak untuk berimajinasi dalam membuat cerita yang menarik. Selain itu, kemampuan berbahasa pun dapat dikembangkan melalui permainan ini karena si kecil harus mengubah gambaran visual pada kartu menjadi deskripsi.

Jika Anda ingin mencoba peraturan alternatif yang lebih mudah, Anda bisa saling bertukar cerita dengan si kecil. Cukup ambil kartu secara bergiliran dan buatlah cerita dari ilustrasi yang ada pada kartu. Sebagai contoh, Anda bisa mengatakan, “Peri selo ini bisa menghasilkan musik yang ajaib” ketika mendapatkan kartu dengan ilustrasi perempuan bertubuh selo yang sedang menggesek dawai-dawainya.

Anda juga bisa menggunakan kartu-kartu Dixit untuk memperkenalkan kosakata baru. Setiap kartu menampilkan ilustrasi yang berbeda dan memuat objek-objek baru. Ketika menunjukkan ilustrasi, Anda juga bisa mengajarkan beberapa kosakata baru kepada si kecil. Dengan begini, perbendaharaan kosakatanya akan semakin kaya.

Selain mengasyikkan, permainan Dixit juga dapat menjadi pilihan permainan kartu alternatif yang mendidik. Anda bisa memainkan Dixit di akhir pekan atau di waktu senggang bersama si kecil. Tertantang untuk mencobanya?

About Bas