Wednesday , October 21 2020

Pendidikan Karakter lewat Pembiasaan

Jika Anak Anda malas menyebrang di jembatan penyebrangan, sulit move on dari tempat tidur (susah bangun pagi), pengikut aliran GAM (Gerakan Anti Mandi), sering berkata kasar kepada asisten rumah tangga, mungkin mereka mewarisi kebiasaan buruk Anda. Bagaimana seorang anak agar berwatak menjalankan kebaikan dan menolak keburukan? Perlukan mereka sekolah di sekolah kepribadian yang bayarannya super mahal?

Tidak perlu, itulah jawaban dari Opa Franz Magnis Suseno dalam bukunya Menjadi Manusia, belajar dari Aristoteles. Menurut Opa Magnis yang lebih diperlukan untuk menghasilkan pribadi yang beretika adalah pembiasaan perbuatan baik, namun dalam mempraktikkan pembiasaan perbuatan baik terhadap anak tak perlu dipaksa-paksa.

“Anak tak perlu dipaksa berlaku etis (baik), tapi bantu mereka agar merasa gembira saat berbuat baik dan sedih saat berbuat buruk,”lanjut Opa Magnis Suseno.

Inilah tragedi zaman yang penuh kelimpahan materi bagi sebagian orang. Di sekolah anak-anak diajari berbagai bentuk kebaikan, menghormati orang lain, berlaku sopan santun, hemat, tapi di rumah mereka dibiarkan memanggil asisten rumah tangga tanpa panggilan “Mba, Ibu, Bibi, atau Pak”, menyantap makanan berlebih dan membuangnya saat tak sanggup menghabiskan tanpa rasa bersalah.

Lantas bagaimana cara memecahkan masalah dalam mendidik anak agar terbiasa berperilaku baik? Opa Magnis Suseno mengingatkan orang tua bahwa anak-anak tak perlu dikuliahi untuk berbuat baik tapi cukup diberi teladan nyata di depan mata. Orang bisa disebut bermoral atau tidak bermoral tergantung pada situasi batin tatkala ia berbuat baik atau jelek.

Kalau dia senang berbuat jelek dan malas berbuat baik, dia digolongkan dalam kategori gagal moral. Sebaliknya sukses moral terjadi ketika seseorang bahagia tatkala berbuat baik dan sedih saat berbuat jelek. Nampaknya, kategori sederhana itu bisa dijadikan standar dalam mendidik anak. Tuntunlah anak-anak menjadi bahagia karena telah telah berbuat baik.

Kebahagiaan, kata Opa Magnis Suseno berdasarkan uraian Aristoteles, tak bisa dicari dengan berburu yang nikmat dan menghindari yang menyakitkan. Kabahagiaan tak bisa diburu secara langsung. Kabahagiaan itu akibat dari tindakan, perbuatan secara nyata. Jika dikejar secara langsung kebahagiaan akan mengelak.

Rupanya anak perlu sejak dini diajak merasakan perbedaan antara nikmat dan bahagia. Anak perlu dibiasakan merasakan nikmat luhur, yang artinya adalah nikmat yang didapat dari berbuat kebaikan. Tapi perlu ditunjukkan seperti nikmat keji seperti nikmat yang diperoleh dengan mengadu jangkrik, domba, atau mengurung burung dalam sangkar.

Beda dengan nikmat yang biasa dirasakan saat perbuatan itu dilakukan, bahagia itu hadir belakangan dan tak menghentak datangnya. Ada zaman ketika seorang filosof Epicurus diikuti banyak orang karena ajarannya yang memuja kenikmatan duniawi, yng melahirkan budaya hedonisme. Malu terlihat miskin, namun tak malu berbuat jelek. Meski tak lagi menjadi arus utama, masih banyak orang di zaman sekarang yang menganut aliran berburu kenikmatan dunia sampai ke lubang kubur. Apakah anak-anak akan termakan dan tergoda oleh hedonisme yang dikibarkan Epicurus? Itulah agaknya yang menjadi tantangan detik ini dan nanti.

Berikut ini saya paparkan salah satu cara mengajari anak-anak berbuat baik, dengan bergabunglah dengan komunitas Terminal Hujan, komunitas ini memfokuskan diri dalam mendidik anak-anak di sekitar Terminal Baranangsiang Bogor, pesertanya adalah adik-adik pelajar tingkat SD s/d SMP. Mereka tinggal di Kampung Jukut dan Pulau Geulis.

Anda bisa memotivasi anak-anak Anda bergabung dalam Terminal Hujan sebagai relawan atau guru sukarela yang bertugas berbagi ilmu atau ajarkan anak-anak Anda untuk berbagi buku, mainan atau berbagi apapun yang mereka sukai atau miliki.

Kami bermain dan belajar setiap hari Minggu pagi, mulai pukul 09.00 s/d 12.00 WIB, di teras Kelurahan Baranangsiang, Bogor Timur, Jl. Riau No. 13. Teras, halaman belakang. Meskipun  Bogor seringkali diterpa hujan tak menjadi masalah buat kami. Sekedar hujan tak menghalangi keceriaan kami. Terminal hujan mengajarkan anak mandiri, memperbaiki prestasi belajar dan membuat anak-anak menjadi lebih kreatif. Aktivitas ini juga menjejakkan kenangan indah di hati para relawannya.

About Bas