Tuesday , October 20 2020

Pembantaian Sadis Rohingya, Apa Sih Persoalan Sebenarnya?

Derita Manusia Terusir dan Tidak Diakui

 

Rohingya, adalah salah satu etnis muslim yang berada di negara Myanmar, dikenal sebagai Arakan. Rohingya merupakan bangsa dengan keturunan Indo-Arya yang merupakan percampuran antara Indoa dan Bangladesh.

Dunia saat ini begitu banyak dilanda konflik kemanusiaan. Begitu murah dan mudahnya nyawa melayang. Tidak hanya satu, dua ataupun tiga. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan nyawa menjadi korban kejahatan kemanusiaan. Masih segar dalam ingatan betapa tersiksanya warga Palestina, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya yang di landa konflik. Mereka diterpa rasa ketakutan yang amat mendalam untuk menjalani kehidupan.

Tidak Memiliki Kewarganegaraan

Kini konflik kemanusiaan kembali terjadi, bukan terjadi di kawasan Timur Tengah ataupun Afrika, melainkan di kawasan Asia Tenggara. Sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat menakutkan terjadi disana, dikenal dengan pembantaian Rohingya.  Tragedi mengerikan ini terjadi pada kaum minoritas Rohingya yang mendiami daerah di Rakhine, Myanmar. Sejarah panjang menjadi dasar terjadinya kejahatan kemanusiaan ini. Bahkan etnis Rohingya sudah tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar.

Pada tahun 2012 pemerintah sudah melakukan segala upaya untuk mengusir etnis Rohingya dari Myanmar, namun usaha mereka masih terkendala beberapa persoalan yang membuat etnis Rohingya masih mampu bertahan disana. Hal ini tentunya sangat menyedihkan, mengingat mereka merupakan kaum minoritas di negara tersebut. Harapan menjadi etnis ataupun kelompok yang dilindungi hak-hak kemanusiaanya justru terbalik 180 derajat menjadi etnis yang diburu dan dibantai secara brutal oleh militer pemerintah.

Persaingan

Persoalan perbedaan keyakinan menjadi landasan utama dalam setiap tindak kejahatan kemanusian. Etnis Rohingya yang merupakan kaum muslim harus menerima segala tindakan yang sangat tidak menyenangkan dari kaum mayoritas disana. Mereka menganggap bahwa Etnis Rohingya merupakan pesaing utama kaum mayoritas mereka dalam segala aspek kehidupan. Maka dari itu segala upaya mereka lakukan untuk membuat kaum Rohingya menderita, hingga membuatnya pergi dari Rakhine, Myanmar.

Pengusiran

Ketegangan antara etnis Rohingya dengan kaum mayoritas pun sering beberapa kali terjadi, dan tak jarang dari kejadian itu menimbulkan korban jiwa. Akhir bulan Agustus 2017 menjadi puncak segala bentuk ketegangan yang terjadi disana. Dimana pada saat itu terjadi pembakaran di seluruh perkampungan etnis Rohingya. Selain membakar perkampungan etnis Rohingya, kaum mayoritas dan militer pemerintah pun melakukan tindak kejahatan kemanusiaan yang begitu mengerikan berupa pembantaian etnis Rohingya secara besar-besaran. Tercatat hingga kini korban jiwa pembantaian etnis Rohingya sudah mencapai ratusan bahkan mencapai ribuan orang.

Sadar nyawanya terancam, etnis Rohingya pun memilih untuk meninggalkan kampung halaman mereka. Walaupun terasa berat, namun tindakan ini harus dilakukan mengingat semakin menggilanya kaum mayoritas dan militer pemerintahan dalam melakukan pembantaian terhadap etnis Rohingya. Tujuan mereka tentunya untuk mengungsi ke beberapa negara tetangga, dan berharap mampu diterima baik disana. Bangladesh menjadi negara tujuan utama etnis Rohingya untuk melarikan diri dari kebiadaban kaum mayoritas dan militer pemerintahan. Bukan suatu hal yang mudah tentunya untuk dapat melarikan diri dari kejaran militer pemerintahan yang bersenjata lengkap, ditambah lagi dengan bantuan kaum mayoritas yang membantu tindakan pembantaian keji tersebut.

Militan ARSA

Perlawanan yang dilakukan oleh gerilyawan ARSA juga ikut menambah kekacauan yang terjadi di Rakhine. Pemerintah Myanmar tentunya tidak ingin memberi kesempatan kepada para militan untuk berkembang dan mereka mengerahkan kekuatan militer untuk memberantas keberadaan militan. Dibanyak negara biasanya para militan bersembunyi dan berbaur ditengah masyarakat sekitar. Hal inilah yang ikut memperburuk kondisi kaum Rohingya di daerah Rakhine. Mungkin benar ada sebagian militer Myanmar yang melakukan serangan membabi buta, atau mungkin juga kekacauan tersebut dilakukan oleh para militan yang mencari perhatian dunia Internasional. Entahlah mana yang benar, namun konflik ini telah membuat penduduk Rohingya yang menjadi korban.

Dengan kejadian ini tentunya membuka mata dunia bahwa etnis Rohingya membutuhkan pertolongan kita kita. Mereka dilanda ketakutan yang begitu dahsyat dengan mempertaruhkan nyawa setiap saat. Bahkan tak jarang jika banyak etnis Rohingya yang mati kelaparan dalam perjalanan menuju ke daerah pengungsian. Mereka yang tertangkap oleh militer pemerintah tak segan-segan akan dibunuh secara keji, bahkan dibakar hidup-hidup. Bantuan untuk pun terus berdatangan bagi para pengungsi Rohingya dari berbagai negara. Hal itu diharapkan mampu mengurangi beban penderitaan yang dialami oleh etnis Rohingya. Tentunya dunia mengharapkan konflik etnis di Myanmar segera berakhir, dan kaum Rohingya mampu menjalani kehidupannya dengan penuh suasana kedamaian.

About Bas