Butuh waktu ratusan tahun untuk menjadikan warga Indonesia cinta museum, khususnya Jakarta. Anda ingin ikut berpartisipasi? Museum Wayang di kawasan kota lama bisa jadi langkah pembuka. Museum ini berada tidak jauh dari Taman Fatahillah.

Koleksi Wayang Terlengkap

Museum ini memiliki koleksi wayang terlengkap sedunia. Lorong panjang bangunan Belanda yang saya masuki menghantarkan saya pada sebuah taman dengan nisan besar dan prasasti yang terpajang di dinding. Salah satunya wayang Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jendral VOC, pendiri kota Batavia, prasastinya terpajang di dinding taman pada masa 1934.

Museum Wayang resmi berdiri pada tanggal 13 Agustus 1975 ini memang berdiri di atas sebuah tanah bekas Gereja Belanda Lama (Oude Hollandse Kerk) dan Gereja Belanda Baru (de Nieuwe Hollandse Kerk) dari abad XVIII yang pernah rusak akibat gempa. Dari perkuburan yang berada satu komplek dengan bangunan gereja itulah nisan-nisan tersebut berasal. Jasadnya sendiri, rata-rata telah dibawa ke Negeri Belanda atau dipindahkan ke Pemakaman Kebun Jahe Kober yang kini menjadi Taman Prasasti, sebuah pembuka menarik sebelum menuju menu utama.

Koleksi Kuno dan Unik

Untuk menikmati koleksi aneka wayang museum ini , naiklah ke lantai dua melalui tangga kayu bercat merah hati kokoh yang bentuknya masih dipertahankan seperti aslinya. Di sepanjang ruangan berlantai kayu inilah, koleksi wayang-wayang tersebut berada. Sambutan pertama datang dari kumpulan wayang dan boneka dari mancanegara seperti boneka Punch dan Judy dari Inggris, koleksi wayang dari India, Thailand, Cina, Malaysia, dan Perancis, masing-masing menampilkan cirri khas tersendiri. Melihat kompleksitas yang dipresentasikan wayang Indonesia, UNESCO menganugerahkan wayang Indonesia sebagai salah satu karya agung budaya dunia, sejak 7 November 2003.

Aneka wayang dua dimensi (yang terbuat dari kulit atau kayu) memenuhi ruangan di lantai dua ini. Tidak hanya dari Jawa, terdapat pula koleksi wayang dari Sunda, Bali, Lombok, dan Sumatera. Rata-rata penokohan wayang-wayang tersebut diambil dari cerita apik Mahabharata dan Ramayana seperti: Rama, Shinta, Hanoman, Lesmana, Pandawa 5, Nakula – Sadewa, Kunti, Rahwana, atau Sengkuni. Tampilan fisik atau cerita dari wayang-wayang ini kemudian digubah dan disesuaikan dengan kebudayaan daerah masing-masing.

Salah satu koleksi unik dari museum wayang di sini adalah Wayang Kulit Intan, wayang ini dibuat pada tahun 1870 oleh Ki Gono Kerti atas pesanan seorang Tionghoa bernama Babah Poliem dari Muntilan, Magelang. Sebanyak 340 karakter wayang kulit ini ditaburi dengan batu-batu yakut yang membuatnya berkilauan jika terkena cahaya. Pada waktu yang bersamaan dibuat pula seperangkat gamelan pelog dan slendro untuk membantu mengiringi pertunjukan dalang.

Ada juga wayang revolusi yang pada tahun 1960 dibeli oleh Museum Voor Volkskunde Rotterdam, Negeri Belanda, dan kemudian menjadi koleksi World Museum Rotterdam. Wayang Revolusi dibuat oleh Raden Mas Sayid pada tahun 1950 dan memiliki nilai sangat tinggi dalam sejarah perjuangan revolusi Indonesia. Wayang ini terdiri dari 160 karakter tokoh-tokohnya antara lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan tokoh-tokoh tentara Belanda atau Jepang.

Inilah alamat lengkapnya, jika Anda tertarik untuk berkunjung ke museum tersebut.

Museum Wayang

Jln. Pintu Besar Utara 27 Jakarta 11110

Telp (021)- 6929560, Faks (021) 692-7289

E-mail: muway27@cbn.net.id

Waktu Buka : Selasa- Minggu

Dewasa : Rp 4000, Mahasiswa : Rp 3000, Anak-anak : Rp 2000.