Wednesday , October 21 2020

Biaya Awal / Modal Usaha Bisnis Travel Yang Bikin Boros

Awas Biaya Drakula Bisnis Travel

Sedang Berpikir untuk Merintis Bisnis Travel? Kenali Biaya-Biaya “Drakula” yang Berpotensi untuk Memboroskan Modal Bisnis Travel Anda Berikut Ini

Potensi kenaikan pendapatan per kapita hingga 5 tahun mendatang berarti akan semakin banyak masyarakat Indonesia yang mampu membayar untuk kenikmatan lebih, misalnya berlibur dengan memesan lewat agen perjalanan atau bisnis travel.

Karenanya, bisnis travel menjadi salah satu jenis bisnis dengan jumlah rupiah keuntungan paling menjanjikan di tahun-tahun belakangan ini. Jumlah rupiah keuntungan yang banyak ini membuat calon wirausahawan berbondong-bondong untuk menjalankan bisnis travel, terlepas dari modal atau kekayaan yang mereka miliki.

Karena kurangnya pemahaman soal manajemen keuangan (khususnya dalam komponen biaya yang sering menyulitkan pebisnis-pebisnis pemula), banyak pebisnis pemula yang kemudian mengeluh mengenai biaya-biaya “dracula” yang potensial “memakan” modal awal bisnis travel mereka. Beberapa contoh biaya “drakula” yang perlu pebisnis travel sadari adalah sebagai berikut:

1. Sewa Ruangan

Ketika kita melihat agen-agen perjalanan di kota-kota besar di Indonesia dengan segala kemegahan gedungnya, kita tertarik untuk segera memiliki tempat seperti demikian. Dengan banyaknya orang yang tertarik dengan arsitektur modern-kontemporer yang biasa dimiliki oleh ruangan-ruangan semacam ini, kita sebagai pebisnis travel pemula pun tergoda memilikinya.

Apa daya, saat keinginan itu muncul, kita belum memiliki cukup dana untuk membeli sekaligus satu tempat. Karena sewa-menyewa tempat masih ngetren pada bisnis travel hingga saat ini, jadilah kita menyewa tempat. Berbagai cara pun kita tempuh, tanpa sadar bahwa modal terkuras untuk menyewa ruang kerja.

Kita sering lupa kalau ada bentuk bisnis yang saat ini juga sedang naik daun di kalangan pebisnis travel, yakni online travelling business atau menjalankan proses pembelian tiket pesawat,  kereta api, dan hotel yang terintegrasi dalam satu website yang dikelola.

Fleksibilitas bisnis travel online dapat dikelola di rumah sendiri membuat biaya sewa ruangan seolah menjadi tidak perlu, sambil tetap mendatangkan pendapatan usaha maupun di luar usaha yang jumlahnya bersaing dengan bisnis travel hasil menyewa atau (bahkan) membeli ruangan. Dalam beberapa situasi, Google Ads yang terpasang pun ikut memberikan pendapatan yang baik. Lebih hemat dibandingkan menyewa ruangan, bukan?

2. Pemilihan Paket Agen

Selain sewa ruangan, biaya-biaya yang terkandung dalam pemilihan paket untuk pelaku bisnis travel juga berpotensi menjadi drakula pemangsa yang ganas. Biasanya ketika hendak menjalankan bisnis travel, kita akan ditawari beragam paket dengan berbagai macam isinya.

Memang benar, paket yang memberikan kepuasan tertinggi pada pelanggan biasanya berharga kira-kira 1,5 hingga 2 kali lipat lebih mahal. Lagipula, paket-paket berharga mahal semacam ini tidak selalu semuanya berguna untuk pelaku bisnis travel, setidaknya dalam jangka waktu yang panjang.

Contoh paling mudah adalah travel kit atau paket bisnis travel yang termasuk barang-barang promosi. Memang aktivitas promosi merupakan sesuatu yang perlu dilakukan, apalagi saat baru merintis bisnis travel, namun bila promosi itu berlebihan hingga memberikan payung, topi, jas hujan, pakaian, dan lain-lain dalam jumlah banyak dan terus-menerus, maka harga paket mahal akan terlalu berisiko untuk diambil di awal-awal perintisan bisnis travel.

Selain itu, paket bisnis yang “all-in” biasanya juga cenderung berharga mahal, terutama bila paket perjalanan mencakup banyak kemungkinan kerja sama. Bila bisnis travel masih berada pada  tahap awal, sebaiknya kerja sama dibatasi pada kemitraan yang biaya investasinya bersahabat, seperti agen atau distributor.

3. Biaya Jasa Profesional

Ada banyak alasan mengapa bisnis travel membutuhkan kehadiran profesional. Ada kalanya pelaku bisnis travel memiliki pengetahuan yang minim mengenai usaha tour and travel sehingga butuh ada orang yang mengajari, atau butuh meningkatkan traffic kunjungan ke situs mereka, atau mungkin ada alasan-alasan lain yang juga masuk akal terkait usaha travel yang hendak dirintis.

Berdasarkan pengamatan, hal-hal semacam ini tidak hanya ditemui di kalangan pebisnis travel yang usahanya maju, namun juga banyak ditemukan pada para pemula. Padahal bila dihitung-hitung, jasa profesional ini dapat menjadi mahal, apalagi bila profesional yang dipilih merupakan seseorang yang memiliki reputasi dan kinerja yang baik.

Di saat yang bersamaan, kita “berperang batin” antara ingin menghemat biaya jasa profesional dengan menggunakan jasa profesional yang benar-benar memajukan bisnis travel kita. Mengenai hal ini, kita yang baru merintis bisnis travel dapat membatasi jumlah pekerja profesional yang hendak kita sewa atau bahkan mengelola sendiri dan memanfaatkan kursus-kursus keahlian gratis.

Pembatasan jumlah pekerja yang hendak disewa akan membuat pengeluaran jasa profesional di awal menjadi lebih hemat, di samping itu, kita tidak membuat pekerja profesional menjadi kecewa dengan memberi mereka insentif yang sedikit. Di sisi lain, beberapa komponen usaha sebenarnya dapat kita kelola sendiri, seperti desain logo atau tampilan website.

Dalam hal ini, kita dapat memanfaatkan kursus keterampilan gratis di kota atau daerah kita atau bahkan di website MOOC (sebutan untuk kursus online). Alternatifnya, kita juga dapat memesan paket kerja sama yang sudah termasuk website di dalamnya, dan pemeliharaan dapat kita lakukan sendiri untuk menekan biaya yang terlalu mahal di awal-awal perintisan.

4. Biaya Printing

Mengingat tiket pesawat, invoice atau bukti pembayaran kerap membutuhkan jenis kertas yang tebal untuk mengesankan agen perjalanan yang profesional dan terpercaya, pelaku bisnis travel umumnya akan menghabiskan beberapa persen investasi mereka pada biaya printing.

Di saat yang bersamaan, biaya printing juga dapat dengan cepat menghisap modal awal bisnis travel kita. Apalagi, bila printer yang dipakai adalah printer berukuran besar dengan toleransi jenis kertas yang berbeda-beda dan kapasitas tinta yang besar.

Padahal, banyak printer yang dapat mencetak warna cerah dengan jenis kertas berbeda-beda, seperti jenis printer Epson. Bahkan bila kita menginginkannya, kita tidak perlu menanggung semua biaya printing yang kita bayarkan selaku pebisnis travel. Kita dapat menghemat biaya printing ini dengan memberlakukan kebijakan self-printing atau tidak menggunakan printer sama sekali untuk kegiatan bisnis travel online.

Tawarkan bantuan bila ingin menerapkan kebijakan self-printing pada calon pelanggan, seperti menekan tombol tertentu atau menarik kertas yang susah ditarik. Bila bisnis travel yang kita rintis kita operasikan sepenuhnya dengan sistem online, maka inilah saat terbaik untuk tidak menggunakan printer karena saat ini telah banyak beredar mesin pembaca tiket yang langsung terintegrasi dengan sistem online, sehingga printer tidak terlalu dibutuhkan untuk bisnis travel online.

***

Intinya, biaya “drakula” yang berpotensi memangsa modal awal pebisnis travel pemula dibagi menjadi 2 jenis, yang berskala besar dan yang kecil namun terus-menerus. Sewa ruangan dan pemilihan paket agen merupakan biaya berskala besar untuk modal awal, di satu sisi, jasa profesional dan printing termasuk biaya boros yang “sedikit-sedikit lama kelamaan menjadi bukit”.

About Bas