Thursday , October 22 2020

Mitos-mitos Negatif Seputar Homeschooling

Sebagian besar orang tua masih berpandangan negatif tentang Homeschooling. Mereka menelan mentah-mentah mitos yang beredar di masyarakat tentang home schooling, yaitu:

1. Homeschooling Kurang Bersosialisasi

Manusia adalah makhluk sosial, berinteraksi dengan manusia lain adalah sebuah kebutuhan yang wajib dipenuhi. Hal ini juga berlaku pada anak-anak peserta pendidikan homeschooling. Mereka juga membutuhkan teman bermain dan belajar seperti di sekolah-sekolah umum. Peserta home schooling berinteraksi dengan siapa saja, baik teman sebaya, orang yang lebih tua, atau pun orang yang lebih muda. Mereka dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan lingkungan mana pun, dan berkomunikasi dengan siapa pun. Tuduhan bahwa peserta homeschooling cenderung tidak bisa bersosialisasi dan tidak punya teman adalah keliru.

2. Orang Tua Tidak Pantas Menjadi Guru

Jika Anda seorang ibu rumah tangga biasa yang berkutat di dapur, bagaimana Anda mengajarkan rumus-rumus matematika? Kalau Anda seorang pedagang , bagaimana mungkin Anda menuntut anak Anda belajar pelajaran Bahasa Indonesia secara lancar? Ini adalah kekhawatiran orang tua yang menolak pendidikan homeschooling bagi anak-anak mereka.

Namun, pemahaman seperti itu dikarenakan oleh karena pemahaman yang terbatas pada profesi guru. Dalam otak kita, guru adalah orang yang tahu dan bisa segalanya, selalu menguasai topik bahasan, dan terus menerus berbicara di depan anak-anak didiknya yang duduk manis di kelas. Dalam homeschooling, tugas guru yang diambil alih orang tua lebih berfungsi untuk menanamkan sikap mental belajar mandiri. Orang tua tidak melulu sibuk mengajari anak-anak mereka hafalan, rumus-rumus matematika, dan lain sebagainya. Anak-anak dituntut untuk belajar kreatif dalam memenuhi rasa keingintahuan mereka.

Dalam homeschooling, pengertian guru menjadi sangat luas. Siapa pun yang memberikan suatu jawaban atas pertanyaan yang benar layak disebut guru. Seorang editor yang menerangkan proses editing, pembuatan buku, bisa disebut guru, seorang tukang batu akik yang menerangkan dari penemuan batu akik mentah sampai menjadi batu akik siap pakai, juga bisa disebut guru. Intinya adalah, siapa pun yang berinteraksi dan memberikan pengetahuan baru kepada anak-anak peserta home schooling boleh disebut guru.

3. Jam Belajar Homeschooling Tidak Memadai

Karena homeschooling tidak memiliki durasi waktu belajar yang jelas seperti sekolah umum, maka homeschooling memunculkan profesi bahwa pembelajaran homeschooling bersifat tidak efektif karena waktu yang digunakan terlalu sedikit. Dalam dinamika homeschooling, seorang anak bisa saja hanya bertahan beberapa menit untuk mengerjakan soal salah satu bidang studi, namun ia juga bisa berjam-jam belajar pada bidang yang ia sukai. Tidak adanya penyeragaman waktu belajar, setiap anak boleh menentukan topik dan menentukan durasi jam belajar sesuai keinginannya.

4. Peserta Home Schooling Tidak Disiplin

Sekolah umum dipenuhi dengan berbagai tata tertib yang wajib dipenuhi oleh anak-anak didiknya, namun tata tertib yang tertulis di sekolah tidak menjamin 100 persen siswanya berperilaku penuh tanggung jawab dan berdisiplin, sebaliknya para peserta home schooling yang tidak terikat tata tertib tertulis pun tidak selalu berperilaku liar tanpa aturan. Kedisiplinan tidak tidak bisa dibentuk sekadar dengan tata tertib tertulis. Karena “peraturan ada untuk dilanggar”.

5. Peserta Home Schooling Tidak Berijazah

Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan ijasah sebagai motivasi memasukkan anak-anaknya ke sekolah umum. Fokus belajar menjadi tidak penting, apakah mereka menguasai materi, dapat menerapkan ilmunya di kehidupan sehari hari atau tidak? Ijasah adalah tujuan akhir mereka, untuk modak melanjutkan sekolah atau untuk mencari pekerjaan. Peserta homeschooling juga bisa mendapatkan ijazah dengan melakukan ujian persamaan yang diadakan oleh diknas.

6. Homeschooling Hanya Untuk Keluarga Kaya

Proses belajar dalam home schooling menuntut kreativitas guru (orang tua) , ini tak berarti homeschooling hanya cocok untuk anak-anak dari keluarga kaya. Ini semua tergantung pada pilihan dan kreativitas orang tua yang berperan sebagai guru.

About Bas