Sunday , October 25 2020

Menurut Ilmuwan, Ini 5 Hal yang Dirasakan Manusia Ketika Sakaratul Maut

Setiap orang pasti ngeri jika harus membayangkan kematian. Namun seberapa mengerikannya itu, kematian tetap tak bisa dihindari ataupun dilawan.

Nah, sejumlah ilmuwan dari organisasi American Chemical Society rupanya sangat tertarik terhadap misteri kematian. Mereka pun mencoba menyelidiki rasa sakit yang dihadapi manusia di detik-detik menjelang terhentinya denyut jantung. Hasilnya, para ilmuwan berkesimpulan bahwa ketika sekarat, manusia cenderung mengalami ketakutan seolah-olah berada dalam bahaya.

Berikut ini ulasan lengkapnya tentang gambaran sakit yang dialami manusia saat sakaratul maut. Simak yuk!

  1. Seolah Berada Dalam Posisi Terancam, Terjadi Saat Sakaratul Maut

Kematian tentu nggak datang tiba-tiba. Ada saat dimana seseorang mengalami fase sakaratul maut atau sekarat. Dan biasanya di fase ini, orang tersebut sadar bahwa dirinya hendak mengalami perpindahan alam.

Pada tahap ini, menurut para ilmuwan, orang yang hendak mati akan merasa sangat terancam. Jiwanya sangat ketakutan seolah-oleh hendak dibunuh dengan kapak besar. Ini bisa berarti ia sedang melihat malaikat maut atau merasakan sakitnya dicabut roh.

  1. Berusaha Melakukan Respon Perlawanan

Dalam kondisi ketakutan yang teramat besar, biasanya orang tersebut akan mencoba melakukan perlindungan diri atau bahkan perlawanan. Menurut ilmuwan, keadaan ini akan memicu peningkatan produksi hormon adrenalin sekaligus membuat denyut jantung menjadi lebih cepat atau malah tak beraturan.

Selain itu, fungsi panca indera juga menjadi semakin tajam sebagai respon dari kewaspadaan terhadap ancaman yang ada.

Intinya, si pasien akan berusaha sekuat mungkin mempertahankan hidupnya. Namun sayang ia tak berdaya. Sehingga lama-kelamaan, denyut jantung akan semakin melemah.

  1. Seakan Tertusuk Benda Tajam, Terjadi Saat Roh Dicabut dari Tubuh

Ketika roh dicabut dari tubuh, di saat inilah ilmuwan menjelaskan jika rasanya seperti ditusuk oleh benda tajam. Tentunya kondisi tersebut sangatlah menyakitkan. Si pasien mungkin akan berteriak yang mana merupakan respon dari otak.

Sel-sel syaraf juga secara otomatis bakal mengirim pesan ke otak untuk menekan rasa sakit akibat cedera tersebut. Hingga pada akhirnya, pasien mulai tak merasakan apa-apa dan jantung pun berhenti berdetak.

  1. Ketika Nafas dan Jantung Berhenti, Otak Masih Berativitas

Secara klinis, kematian terjadi saat jantung berhenti berdetak dan tidak ada lagi asupan oksigen di paru-paru. Ya, pendapat ini memang tak salah. Namun para ilmuwan menemukan fakta lain, bahwa pada tahap awal kematian dimana saat jantung tak lagi berdetak, ternyata otak masih beraktivitas loh!

Aktivitas otak terjadi selama beberapa detik hingga adanya lonjakan akhir yang menandakan si pasien telah kehilangan kesadaran secara penuh.

Setelah pasien benar-benar tak sadar dan aktvitas otak berhenti total, maka pada kondisi inilah terjadi kematian secara biologis. Roh dan jasad pasien telah berpisah dan kini ia telah meninggal. Tak ada lagi rasa sakit.

  1. Gelombang Otak Berhenti, Tubuh pun Mengalami Pembusukan

Setelah nafas dan detak jantung berhenti, lalu gelombang otak juga terhenti, maka tubuh mulai mengalami pembusukan. Diawali dengan turunnya suhu tubuh hingga 25 derajat celcius. Kemudian sel-sel tubuh menjadi rusak karena kekurangan oksigen. Setelah itu, tubuh akan menjadi kaku, kulit menyusut hingga lama-kelamaan warnanya menjadi hijau dan berbau busuk.

Setelah dikubur beberapa hari, tubuh si mayat akan dimakan oleh belatung. Hal ini menyebabkan terurainya jaringan tubuh dan menyisakan tulang-belulang. Dalam kurun waktu lama, tulang pun juga akan terurai tanpa sisa. Dan ya, kini selesai sudah riwayat hidup si pasien!

Nah, bagiamana menurutmu, Gengs? Cukup mengerikan juga sih analisis dari ilmuwan di atas. So, dari itu sebelum terlambat manfaatkan hidup ini untuk melakukan hal-hal baik ya!

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *