Perjalanan Mengintip Keelokan Wisata Aceh

Nama Aceh, atau Serambi Mekah ini terkenal ke seluruh dunia berkat Tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Namun di tahun 2015 Aceh mulia menampilkan keelokannya, sebuah kota yang dengan tangan terbuka menyambut setiap wisatawan.

Masjid Baiturrahman

Tempat pertama yang wajib Anda kunjungi di Aceh adalah Masjid Baiturrahman, masjid yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda (1607 -1636). Masjid ini awalnya adalah pusat pendidikan ilmu agama. Peserta pelajarnya datang dari Arab, Turki, India, bahkan Persia. Luas Masjid yang berumur 408 tahun ini adalah 4.760 meter persegi, seluruh lantainya terbuat dari marmer Italia.

Saat Anda beristirahat di sini, rasa sejuk segera menyelimuti Anda. Setiap orang yang masuk ke dalamnya serasa memasuki tanah lain. Masjid yang berdiri di pusat kota ini merupakan bangunan kebanggaan warga Aceh. Masjid berkubah lima dengan arsitektur yang menawan ini sempat mengalami perubahan bentuk beberapa kali. Evolusinya dapat Anda temukan pada Museum Negeri Aceh.

Jejak Tsunami Aceh

Setelah mengunjungi Masjid Baiturrahman, silahkan melancong ke sudut lain. Sempatkan mengunjungi “jejak’ Tsunami Aceh. Pemerintah kota merawat sungguh-sungguh semua jejak gelombang pasang tersebut. Contohnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung di Punge, kapal nelayan yang tersangkut di atap rumah, makam massal Ulee Lheue, makam ini jauh dari kesan menakutkan.

Di Banda Aceh pun kini telah berdiri sebuah museum baru yakni, Museum Tsunami (Jl. T. Iskandar Muda Banda Aceh), dengan arsitektur yang unik dan megah serta penuh makna. Isinya menarik, informasi penting dan berkualitas terkait Tsunami disajikan dengan apik dan teratur. Paling enak lagi, masuknya gratis.

Di sebrang museum ada lapangan Blang Padang. Di tempat ini dibangun monumen ucapan terima kasih pada dunia. Plakat bertuliskan “terima kasih dan damai” dalam bahasa setiap Negara yang terlibat dalam rekonstruksi Aceh mengitari lapangan. Di lapangan ini juga dipajang replika pesawat Seulawah. Pesawat ini sumbangan konkret masyarakat Aceh pada berdirinya Indonesia sekaligus cikal bakal lahirnya maskapai Garuda Indonesia.

Peninggalan lain yang masih bisa dijumpai hingga saat ini adalah Taman Putroe Phang dan Gunongan. Dulu tempat ini dipersembahkan bagi putri permaisuri sultan yang berasal dari negeri Pahang. Sekarang taman asri yang dibelah oleh sebuah sungai mungil itu menjadi lokasi favorit warga Banda Aceh untuk berolahraga maupun bersantai bersama keluarga.

Rumah Cut Nyak Dien

Beliau adalah salah satu pejuang wanita Aceh yang gigih melawan Belanda. Bersama dengan Teuku Umar, suaminya serta pejuang Aceh lainnya, ia melawan setiap usaha Belanda untuk menjajah Aceh, meskipun pada akhirnya ia harus bertekuk lutut dan diasingkan ke pulau Jawa hingga akhir hayatnya. Semangat Cut Nyak Dien ini dapat Anda temukan di Museum Cut Nyak Dien (Rumah Cut Nyak Dien), berdiri di kawasan Lampisang, tak jauh dari pusat kota Banda Aceh yang dulu merupakan rumah Cut Nyak Dien sekaligus markas perjuangan rakyat Aceh dalam melawan kolonialisme di tanah rencong.

Kuliner

Setelah selesai menengok jejak Tsunami, marilah kita menengok kuliner. Makanan dan minuman Aceh, banyak menceritakan keunikan sebuah kota. Banda Aceh sangat populer dengan mi aceh, kupi (kopi), gule kambing, dan bu guri (nasi gurih). Bagi Anda yang para pecinta kopi, tentu tidak boleh melewatkan kesempatan mereguk racikan kupi khas aceh. Perpaduan kopi Robusta dan Arabika membuat aroma wangi dan kenikmatannya melekat terus di lidah sampai pulang ke kampung halaman Anda.