Wednesday , October 28 2020

Mengenal Bentuk-Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Pada kenyataannya kekerasan dalam rumah tangga yang frekuensinya selalu meningkat pada masyarakat kita, merupakan salah satu dari puluhan penyebab penyebab perceraian serta hancurnya mahligai rumah tangga.

Seperti  telah diketahui bersama bahwa wanita kerap kali menjadi korban peristiwa tersebut, meskipun tak menutup kemungkinan juga kaum lelaki/suami dapat menjadi korban. Momok menakutkan ini seringkali menimpa pasangan suami istri, baik pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan, maupun sudah lama membina bahtera rumah tangga. Biasanya akibat cinta yang menggebu-gebu terhadap suami, sang istri lebih baik diam dan memutuskan untuk mengalah dalam menyikapi perlakuan kasar dan tidak senonoh dari sang suami.

Nah, sebelum melangkah lebih jauh membahas bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu pihak mana saja yang dapat dianggap sebagai pelaku dan korban kekerasan dalam rumah tangga. Mereka adalah termasuk :

  1. Suami, istri serta anak, termasuk mencakup pula anak tiri dan anak angkat.
  2. Semua individu yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan mereka yang disebutkan pada poin pertama melalui hubungan darah, pernikahan, persusuhan, pengasuhan, serta perwalian yang berada dalam suatu rumah tangga.
  3. Asisten rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, maka tindak kekerasan terhadap istri/suami/anak/semua individu yang tertera dalam poin-poin yang telah disebutkan di atas, dapat dibagi menjadi empat bentuk :

1. Kekerasan Fisik

Sayangnya berdasarkan data dari Komisi Nasional/Komnas Perempuan Indonesia yang dilansir pada tahun 2017 yang lalu, dari total jumlah 259 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun tersebut, 5700 diantaranya merupakan kekerasan dalam rumah tangga berupa kekerasan fisik yang dilakukan suami terhadap istri. Kekerasan dalam bentuk ini akan dapat saja mengakibatkan seseorang yang menjadi korban mengalami rasa sakit yang amat sangat, terkena luka berat, dan lain sebagainya.

Nah berbagai perlakuan tidak terpuji yang dianggap sebagai kekerasan fisik ini adalah seperti mencekik, menampar, menonjok, menendang, sampai menggunakan benda-benda tajam yang dapat melukai tubuh si korban. Dalam undang-undang tersebut juga secara jelas disebutkan definisi kekerasan fisik yang berarti perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Nah, perlu diingat pula bahwa kekerasan fisik yang sudah lagi tidak terkendali akan mungkin mengakibatkan si korban kekerasan kehilangan nyawa, baik secara segera maupun perlahan-lahan.

2. Kekerasan Seksual

Dalam undang-undang tersebut juga dijelaskan bahwa kekerasan seksual ternyata dapat saja terjadi dalam mahligai rumah tangga yang mencakup perbuatan pemaksaan atau tidak secara sukarela, pemaksaan si korban untuk melakukan hubungan seksual secara tidak wajar dan atau tidak disukai. Kekerasan seksual dalam bentuk ini juga meliputi pemaksaan seksual dengan orang lain dengan tujuan-tujuan komersial dan atau tujuan-tujuan tertentu lainnya. Termasuk jenis kekerasan ini adalah jika suami memaksakan istrinya untuk memiliki anak yang dikehendakinya.

Nah sayangnya, berdasarkan catatan Komnas Perempuan RI dua tahun yang lalu, angka kekerasan seksual dalam rumah tangga di Indonesia cukuplah tinggi, mencapai 1.300 kasus.

3. Kekerasan Psikis

Berdasarkan undang-undang yang sama, seseorang yang dianggap melakukan kekerasan psikis adalah mereka yang mengakibatkan si korban mengalami ketakutan dan trauma, hilangnya rasa percaya diri, serta menghilangnya kemampuan untuk berbuat, bertindak, serta beraksi. Si Korban kerapkali mengalami ketidakberdayaan dalam menyikapi suatu permasalahan. Intinya si korban akan mengalami gangguan psikis pada dirinya akibat kekerasan rumah tangga yang terjadi secara terus-menerus. Sang suami kerap membentak, mencemooh, menceritakan aib sang istri kepada orang lain, dan bahkan tidak lagi sanggup menunjukkan kasih sayang kepada sang istri seperti biasanya. Akibatnya istri, si korban, akan diliputi perasaan bersalah dan perasaan curiga serta cemburu tak berujung, yang menyebabkan dirinya merasa sudah tidak berguna lagi dalam membina bahtera rumah tangga.

Sayangnya pada masyarakat kita di tanah air, kekerasan dalam bentuk ini kerap kali dianggap sebagai suatu bentuk kewajaran dan hal yang normal, mengingat efeknya tidak kasat mata.

4. Penelantaran Rumah Tangga

Secara lebih mendetil, undang-undang yang sama juga menjelaskan mengenai aspek-aspek yang dikategorikan sebagai upaya penelantaran rumah tangga, yaitu:

  1. Setiap orang yang mempunyai kewajiban secara hukum atau karena persetujuan atau perjanjian memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut dalam lingkup rumah tangga, tetapi ternyata tidak melaksanakan kewajibannya tersebut.
  2. Setiap individu yang menyebabkan adanya ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarangnya bekerja secara layak, baik di dalam maupun di luar rumah, sehingga si korban berada di bawah kendali orang tersebut.

Intinya dalam bentuk ke-empat ini, si korban akan merasa bahwa kebutuhan pokoknya tidak dipenuhi secara wajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *