Monday , October 19 2020

Mengenal Bagian-Bagian Rumah Adat Tana Toraja, Tongkonan

Tana Toraja merupakan sebuah daerah yang terkenal karena upacara pemakamannya yang unik. Banyak sekali turis domestik maupun turis mancanegara yang datang ke Tana Toraja untuk menyaksikan budaya-budaya mistis namun filosofis dan dapat mengundang decak kagum. Terlepas dari upacara pemakamannya yang terkenal, Tana Toraja pun sama dengan budaya yang lain. Tana Toraja memiliki rumah adat sendiri, dengan karakteristiknya sendiri dan tentunya masih terjaga dan lestari hingga sekarang. Seperti apa? Intip, yuk!

Masyarakat Tana Toraja mengenal rumah sebagai tempat tinggal dan tempat berkumpulnya keluarga besar. Karena kepentingan itulah, masyarakat Tana Toraja membagi rumah menjadi dua, yaitu Banua Tongkonan (rumah adat) dan Banua Barung-Barung (rumah pribadi atau rumah biasa). Banua Tongkonan merupakan tempat tinggal sekaligus tempat menjalankan tugas bagi tokoh masyarakat di Tana Toraja. Karena fungsinya untuk menjalankan kekuasaan adat, maka rumah ini pun sering disebut dengan rumah adat. Sedangkan Banua Barung-Barung merupakan rumah pribadi yang ditempati oleh masyarakat biasa. Ciri khas yang membuat tongkonan ini unik adalah bentuk atapnya, yang mungkin tidak dapat ditemukan di kebudayaan lain. Ciri khas ini masih terus ada dan tetap dijaga. Namun sebelum menjadi tongkonan, rumah adat Tana Toraja mengalami perkembangan, mulai dari:

1. Banua Pandoko Dena

Banua Pandoko Dena ini masih sangat sederhana, hanya terbuat dari kayu dan dibuat sedemikian rupa menjadi seperti sarang burung pipit. Banua Pandoko Dena berfungsi untuk melindungi diri dari binatang-binatang buas.

2. Banua Lentong A’pa

Banua Lentong A’pa menggunakan empat buah tiang, namun dengan atap dan dinding yang masih terbuat dari dedaunan. Sekarang ini, Banua Lentong A’pa dijadikan sebagai kandang ternak.

3. Banua Tamben

Banua Tamben merupakan rumah adat yang atapnya menyerupai perahu.

4. Banua Toto atau Banua Sanda ‘Ariri

Banua Toto memiliki bentuk persegi panjang dengan tiang yang jumlahnya lebih banyak dan teratur, bertingkat dua, dan sudah dihiasi dengan ukiran-ukiran untuk mempercantik rumah.

Umumnya tongkonan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2:1 dan memiliki 5 bagian struktur bangunan, yaitu pondasi, tiang, lantai, dinding, dan atap.Jenis-jenis tongkonan yang ada di Tana Toraja beragam, tergantung dari peran dan kekuasaannya. Jenisnya adalah tongkonan layuk, tongkonan pekaindoran, dan tongkonan batu a’riri. Pada dasarnya, tongkonan yang digunakan sama, namun ada perbedaan di bagian tiangnya.

1. Tongkonan Layuk (maha tinggi/agung)

Merupakan tongkonan yang menjadi pusat seluruh perintah dan aturan di seluruh daerah Tana Toraja dahulu kala.

2. Tongkonan Pekaindoran (Tongkonan Kaparengngesan)

Tongkonan ini merupakan tongkonan yang menjadi pusat perintah daerah di Tana Toraja.

3. Tongkonan Batu A’riri

Tongkonan ini merupakan tongkonan untuk membangun tali persaudaraan dan kekerabatan dengan keluarga.

Tata ruang di tongkonan dibagi menjadi lima, yaitu:

1. Banua sang borong/sang lanta

Adalah ruang yang berfungsi untuk berbagai macam kebutuhan.

2. Banua Duang Lanta

Adalah rumah dengan dua ruang, yang satu ruang tidur (disebut sumbung) dan ruang sali (ruang kerja), dapur dan tempat meletakkan jenazah sementara.

3. Banua Patang Lanta

Terdiri dari: Banua Di Lalang Tedong, terdiri dari ‘sali iring’ (ruang dapur, ruang kerja, tempat tidur abdi adat, dan tempat menerima tamu). Sali Tangga, terdiri dari tempat kerja, ruang tidur keluarga dan tempat jenazah yang akan diupacarakan. Sumbung (ruang tidur pemangku adat), dan Inan Kabusung (ruang tertutup yang dibuka kalau ada upacara).

4. Banua Di Salombe

Terdiri dari: Palanta/tangdo (ruang pemuka adat dan tempat upacara penyembahan), Sali Tangga (tempat bekerja dan tempat jenazah sementara), Sumbung (ruang tidur pemuka adat).

5. Banua Limang Lanta

Adalah rumah dengan lima lantai, terdiri dari: palata (ruang duduk dan tempat saji-sajian), sali iring (dapur, tempat makan dan tempat tidur adat), paluang (tempat bekerja dan meletakkan jenazah), anginan (ruang tidur), dan sumbung kabusungan (ruang tempat menyimpan pusaka adat).

About Bas