Sunday , October 25 2020

Mengapa Gejala Masuk Angin Pada Bayi Perlu Diwaspadai?!

Bukan hanya orang dewasa saja yang bisa masuk angin, tapi bayi juga. Namun dibanding yang sudah berusia 6 bulan, bayi baru lahir memang lebih jarang kena masuk angin. Alasannya, tubuh bayi baru lahir biasanya masih membawa imunitas dari ibunya.

Tapi imunitas bawaan tersebut akan pudar di usianya yang ke-6 bulan, sehingga si kecil lebih rentan terserang virus penyebab masuk angin. Apalagi pada masa ini, sistem kekebalan tubuhnya juga belum berkembang sepenuhnya.

Ketika buah hati masuk angin, hal itu memang membuat orang tua atau pengasuhnya khawatir. Tapi tenang, sebenarnya penyakit ini ‘diperlukan’ agar tubuh bayi terlatih melawan virus penyebab masuk angin. Oleh karenanya, wajar bila anak bisa masuk angin beberapa kali sebelum ulang tahun pertamanya.

Gejala masuk angin pada bayi

Sekarang, penting bagi orang tua untuk memahami seperti apa gejala masuk angin pada bayi itu. Karena tak seperti orang dewasa atau anak-anak, bayi belum dapat mengungkapkan ketidaknyamanan yang dirasakannya.

Gejala awal bayi masuk angin biasanya berupa gangguan pernafasan. Selain itu, bila ia mengalami hidung meler, ingusnya mungkin akan berubah jadi lebih kental, kehijauan atau kekuningan dalam beberapa hari. Namun perubahan ini bukan berarti bahwa infeksinya bertambah parah.

Demam ringan mungkin juga muncul sebagai tanda bahwa tubuhnya sedang bekerja melawan infeksi. Ciri-ciri bayi masuk angin lainnya yang tak jauh beda dari orang dewasa yakni:

  • Bersin.
  • Batuk.
  • Rewel.
  • Mata merah.
  • Nafsu makan menurun.
  • Sulit (untuk tetap) tidur.
  • Sulit disusui karena hidungnya tersumbat.

Bagaimana caranya tahu kalau itu lebih dari masuk angin biasa?

Yang perlu dipahami adalah gejala masuk angin pada bayi baru lahir juga mirip dengan ciri-ciri penyakit lain seperti croup (batuk disertai sesak nafas) dan pneumonia (radang paru-paru). Karena kondisi ini lebih serius, maka orang tua diimbau segera menghubungi dokter jika bayi baru lahir menunjukkan gejala masuk angin.

Berikut beberapa gejala lain yang menandakan sakitnya si kecil lebih dari sekedar masuk angin biasa.

Flu

Bayi baru lahir yang menderita flu mungkin mengalami gejala serupa masuk angin, tapi ada juga gejala lainnya seperti muntah, diare, atau demam tinggi. Intinya, bayi yang sakit flu biasanya – jadi tak selalu – tampak lebih sakit ketimbang yang masuk angin biasa.

Croup

Ciri-cirinya sama dengan masuk angin, namun gejalanya rata-rata memburuk secara drastis. Selain itu, jenis batuknya juga keras, diikuti sulit bernafas – membuat si kecil mengeluarkan bunyi berdecit atau parau saat batuk.

Pertusis (batuk rejan)

Penyakit satu ini umumnya dimulai dengan masuk angin biasa, namun gejalanya berubah setelah seminggu atau lebih. Bayi kemudian mengalami batuk rejan yang membuatnya sulit bernafas. Batuknya mungkin memaksa si kecil langsung mengambil nafas panjang segera setelah batuk, dan tarikan nafas tersebut disertai bunyi keras.

Walau lebih umum dialami anak yang lebih tua usianya dan para dewasa, namun bayi yang mengidap pertusis seringkali muntah usai batuk, atau yang lebih parah, kulitnya menjadi kebiruan atau berhenti bernafas. Karenanya, batuk rejan merupakan salah satu penyakit serius yang butuh perawatan medis segera.

Pneumonia

Dibanding orang dewasa, masuk angin pada bayi lebih berpotensi berubah menjadi pneumonia. Perubahannya bisa terjadi dengan cepat. Oleh sebab itu, penting untuk memeriksakan ke dokter segera agar diagnosanya tepat. Gejala pneumonia antara lain:

  • Muntah.
  • Berkeringat.
  • Demam tinggi.
  • Kulit kemerahan.
  • Batuk kuat, yang kian memburuk.
  • Sensitivitas lambung.

Bayi pengidap pneumonia juga bisa sulit bernafas. Irama nafasnya jadi lebih cepat dari biasanya, atau proses bernafas tampak sulit dilakukan. Pada beberapa kasus, bibir juga bisa tampak biru, menandakan bahwa tubuhnya kurang oksigen sehingga butuh penanganan darurat segera.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *