Thursday , October 29 2020

Memetakan Potensi Keunggulan Anak

Mengapa negeri ini rapuh? Karena banyak pohon beringin ingin jadi pohon jeruk, dan pohon jeruk ingin jadi pohon mangga.

Gede Prama

Saya yakin kita sering melihat seorang anak yang didorong untuk belajar, belajar, dan belajar terus sejak SD sampai SMA, ia dituntut memperoleh nilai bagus dalam setiap mata pelajaran. Meskipun nilai pelajaran Bahasa Indonesianya 9,9 tapi nilai pelajaran matematikanya 5, ia terancam tidak naik kelas. Ia akan dianggap lemah dalam bidang itu. Orangtuanya sibuk mendatangkan guru les untuk mengajari anaknya agar nilai matematikanya berubah menjadi 8.

Menjelang kelulusan SMA, ketika semua anak harus menentukan kampus dan jurusan yang dipilih, ia galau. Ia belum tahu apa cita-citanya, ia juga tak tahu bidang apa sebenarnya yang menjadi passionnya atau bidang yang merupakan kecerdasan inti dirinya. Karena selama ini ia hanya menuruti keinginan orang tuanya yang otoriter. Ketika ia bertanya kepada orangtuanya, mereka menjawab, pilih saja yang banyak lowongan kerjanya Nak. Misalnya : Akuntansi, ilmu untuk menghitung uang orang lain. Begitu lulus, kamu gampang cari kerja, punya gaji tinggi, dan hidup kaya raya. Namun diam-diam ia menentang keputusan ayahnya.

Si anak bingung itu pun bertanya kepada teman-temannya, ternyata banyak teman-temannya yang memilih jurusan akunting, supaya bisa terus bersama teman-teman akrabnya, atau dorongan dari orang tua mereka, namun apa pun yang dipilih bukan merupakan kecerdasan inti mereka, buka passion mereka, sesuatu yang membuat mereka mengalami kegembiraan dalam menjalankan proses pembelajaran.

Di tengah-tengah masa kuliah, si anak ingin kembali ke jalan yang benar, namun nasi sudah jadi bubur, tinggal satu semester lagi ia diwisuda. Apa yang harus ia lakukan? Sebagian kecil anak berhenti kuliah dan berterus terang pada kedua orang tuanya, sebagian besar anak lainnya, melanjutkan kuliahnya walaupun tak suka dengan bidangnya, untuk menghibur hati orangtuanya.

Tanpa Pemetaan Sekolah adalah Expenses (Beban)

Perilaku anak sehari-hari adalah petunjuk terbaik mengenai kecerdasan inti mereka. Namun orang tua terlalu sibuk menjejali anak les ini dan itu sehingga lupa membaca tanda-tanda potensi unggul yang ada pada diri anak mereka. Setiap orang terlahir hebat hanya pada sebuah bidang saja. Lalu bagaimana cara untuk mengetahui potensi unggul buah hati kita, inilah hal yang harus Anda lakukan.

Pemetaan Potensi Unggul Anak

Banyak lulusan sarjana pertanian bekerja di bank, lulusan sarjana teknik bekerja sebagai desain grafis, atau ia memilih pekerjaan sesuai bidang studinya walaupun ia tak menyukainya. Ia bekerja pada bidang kelemahannya, bukan bekerja pada potensi terbaiknya, hasilnya ia akan menjadi staf rendahan, pekerja yang pas-pasan. Intinya, jika seorang anak bersekolah sesuai potensi terbaiknya akan menjadi investasi, tetapi bila tidak akan menjadi expense (beban). Ada ungkapan,”It’s never too late to follow your passion? ” Tak pernah ada kata terlambat untuk mengikuti passion Anda. Kita selalu bisa memulainya pada usia berapa pun. Kolonel Sander, si kakek yang terkenal dengan ayam goreng kriuknya, memulai passionnya pada usia yang ke 60 tahun.

Namun bayangkan, apa jadinya jika yang terunggul dipupuk sejak kecil? Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, belajar mengendarai motor dari ayah mereka sejak usia 3 tahun. Itulah alasannya mengapa mereka sanggup menjadi juara MotoGP lebih dari satu kali. Prinsip sederhananya adalah bila ingin anak Anda ingin sukses, persiapkan dan latih mental mereka sejak usia dini.