Tuesday , October 20 2020

Kok Bisa Suami Jadi korban KDRT?

Selama ini kita sudah tidak asing mendengar jika perempuan baik di Indonesia maupun luar negeri, kerap kali menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bahkan mengingat saking memprihatinkannya kasus kekerasan pada perempuan ini, sebuah survey mengenai Pengalaman Hidup Perempuan Nasional pernah dilakukan pada tahun 2016 dengan tujuan mencari solusi terhadap korban perempuan yang selama ini menjadi perilaku kekerasan sang suami.

Iya,selama ini suami dikenal sebagai pelaku yang paling banyak melakukan KDRT, tidak hanya kepada istri, tapi juga kepada anak-anak. Sementara di sisi lain, posisi istri disebut-sebut selalu berada dalam posisi lemah yang harus mengalah apapun titah sang suami. Iya apapun juga suami adalah kepala rumah tangga. Karena itulah rasanya cukup susah jika kita membayangkan suami yang kuat, yang harus berada paling depan dalam rumah tangga, tiba-tiba menjadi korban kekerasan istrinya.

Namun seiring perjalanan waktu, ternyata kaum lelaki atau suami juga dapat menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh sang istri. Fakta ini sangat mencengangkan karena selama ini masyarakat tidak pernah mempermasalahkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sang istri kepada suami, alias masyarakat kita cenderung menganggap hal tersebut merupakan suatu bentuk kewajaran, sebagai bumbu pelengkap dalam mengarungi mahligai rumah tangga. Dalam hal ini, sang suami juga akan merasa dapat mengatasi setiap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh istrinya.

Nah selain itu menariknya, Undang-Undang di Indonesia juga ditetapkan dengan lebih memberikan perlindungan kepada pihak istri selaku korban, sehingga akibatnya akan menimbulkan diskriminasi dalam memberikan perlindungan hukumnya terhadap si suami.

Bagaimanapun juga, kekerasan dapat saja terjadi pada suami, meskipun tidak berarti bahwa kekerasan itu harus berupa kekerasan fisik saja. seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga akan mencakup pula kekerasan psikis. Jika suami adalah korban, maka sang suami akan lemah dalam memutuskan suatu pendapat, suami akan kehilangan wibawanya sebagai kepala rumah tangga akibat beberapa tindakan sang istri yang kerap memojokkan dirinya.

Iya, terkadang wanita pun bisa lebih keji dari pria. Jika sang suami bisa saja melemah dan pasrah, biasanya itu karena anggapan bahwa pria bisa menahan kekerasan tersebut, seraya mempertimbangkan bahwa istrinya adalah perempuan yang harus dihormati dan dijunjung tinggi.

Tak hanya sampai disitu, lambat laun sang suami akan merasa minder dan rendah diri, kepercayaan terhadap diri sendiri akan menghilang seiring kekerasan yang ditimbulkan oleh sang istri yang begitu dominan dalam mengatur rumah tangga. Di sisi lain, kekerasan psikis akan timbul jika istri memperlakukan sang suami secara tidak wajar seperti membentak-bentaknya, memarahinya, mempermalukannya di hadapan anak-anak dan orang lain. Selain itu, sang istri tidak lagi menunjukkan kelembutan dan kearifan dalam bertindak. Dirinya selalu rewel apabila suami kurang memberikan nafkah lahiriah, dirinya akan serta merta curiga dan menduga yang bukan-bukan jika sang suami terlambat pulang dari kantor atau tempat kerjanya.

Dalam kasus tersebut, suami tidak lagi bergairah dalam mengarungi rumah tangga, namun dirinya tidak berani menceraikan sang istri akibat rasa cintanya yang berlebihan ataupun karena merasa kasihan dengan nasib anak-anaknya jika terjadi perceraian. Tidak hanya berhenti hingga di sini saja karena faktanya, sang suami merasa akan sulit melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sang istri akibat menjaga gengsi dan rasa malu. Bahkan di Indonesia sendiri, jika sang suami pergi melaporkan dan berkeluh kesah kepada sebuah lembaga, maka lembaga tersebut biasanya tidak akan begitu tanggap menyikapi keluhan tersebut.

Berdasarkan pernyataan Anggia Chrisanti, seorang konselor dan terapis terkenal yang bekerja pada Biro Konsultasi Psikologis Westaria, menyimpulkan bahwa pria/suami yang mengadu kepadanya ternyata kerapkali memendam luka yang lebih dalam dan pedih. Para suami biasanya lebih banyak menahan perasaan ketika kekerasan tersebut dilakukan. Itu karena biasanya sang suami akan menganggap bahwa sang istri selalu berada dalam posisi lemah, sehingga tindakan tersebut dapat dianggap sebagai kewajaran yang tidak perlu diperpanjang, apalagi diadukan kepada pihak berwajib dan lembaga konsultasi.

Selain itu, ada anggapan yang berkembang di masyarakat tanah air bahwa seorang pria tabu untuk menangis dan mengeluarkan air mata. Ada persepsi yang juga mencuat ke permukaan bahwa sang suami tidak boleh berteriak-teriak minta tolong, akibat kesakitan yang dialami ketika sang istri mulai menunjukkan amarah yang tidak terkendali dengan melemparkan berbagai perabotan ke tubuhnya, atau dibentak-bentak dengan ucapan yang tidak wajar dan amat menyakitkan. Dengan kata lain, sang suami selalu dituntut untuk menjadi kuat, dan sialnya selalu dianggap sebagai orang yang selalu memulai tindakan-tindakan kekerasan kepada istrinya.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *