Tuesday , October 20 2020

Jangan Salah Pilih! Pastikan Kandungan Obat Masuk Angin Yang Dibeli Sesuai Gejalanya

Pada dasarnya, tak perlu obat untuk mengatasi masuk angin. Salah satu alasan mengapa banyak orang minum obat adalah karena mereka ingin meredakan gejalanya. Nah mengingat gejala masuk angin yang dialami setiap orang berbeda, otomatis kandungan obat yang diperlukan tidak sama. Kali ini kita akan melihat kandungan obat masuk angin apa saja yang cocok untuk setiap gejala berikut.

Dekongestan

Dekongestan biasanya dipilih untuk melegakan hidung tersumbat. Obat ini bekerja dengan cara menyempitkan pembuluh darah di lapisan hidung. Dengan begitu jaringan yang bengkak jadi menyusut dan udarapun bisa lewat dengan mudah. Di samping itu, dekongestan juga mampu membantu mengurangi ingus.

Kamu bisa membeli dekongestan di apotek dalam bentuk pil, nasal spray, atau cair. Perlu diketahui, pemakaian dekongestan tidak disarankan bagi anak di bawah 3 tahun.

Sedikit info untuk dekongestan tipe nasal spray, obat ini memang bisa melegakan hidung tersumbat dengan cepat. Tapi, pemakaian lebih dari 3 hari berturut-turut malah membuat hidung tersumbat lebih parah dibanding sebelumnya. Para dokter menyebut kondisi ini sebagai “efek memantul”.

Di samping itu, dekongestan tipe ini juga menimbulkan efek samping seperti susah tidur hingga masalah buang air kecil. Selain itu, anak yang usianya di bawah 7 tahun tak boleh menggunakan nasal spray. Alternatif lebih aman (meski lebih lambat juga khasiatnya) adalah tipe cairan saline (garam).

Untuk bahan aktif dekongestan sendiri antara lain oxymetazoline, phenylephrine, dan pseudoephedrine. Sayangnya, 2 bahan aktif phenylephrine dan pseudoephedrine dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung sehingga tidak cocok untuk penderita hipertensi.

Pereda batuk

Batuk sebenarnya merupakan reflek tubuh untuk mengeluarkan dahak, mikroba, serta udara yang tak diinginkan. Namun karena batuk juga bikin tidak nyaman, maka obat batuk diciptakan untuk membantu penderitanya agar bisa beraktivitas atau tidur dengan nyaman. Tak heran beberapa dokter menyarankan obat batuk diminum menjelang waktu tidur.

Obat ini bekerja dengan cara menghentikan gerak refleks saraf penyebab batuk. Bahan aktif pereda batuk paling umum adalah dextromenthorphan.

Ekspektoran (pengencer dahak)

Ekspektoran berguna untuk mengencerkan dahak sehingga itu lebih mudah dikeluarkan dari tubuh. Bahan aktif ekspektoran yang paling terkenal adalah guaifenesin.

Anti-histamin

Sesuai namanya, anti-histamin bekerja dengan cara mencegah produksi histamin, substansi alami yang dihasilkan tubuh ketika terekspos alergen (penyebab alergi). Anti-histamin efektif meredakan gejala yang umumnya dihasilkan oleh histamin, seperti bersin, gatal pada telinga dan mata, mata berair, batuk, hingga hidung meler.

Bahan aktif untuk anti-histamin antara lain brompheniramine, chlorpheniramine, clemastine, diphenhydramine, doxylamine. Obat ini rata-rata hanya untuk diminum malam hari karena dapat menyebabkan kantuk.

Walau begitu, beberapa dokter melarang penggunaan anti-histamin untuk atasi gejala masuk angin. Efek ‘keringnya’ dianggap membuat tubuh lebih sulit mengeliminasi virus penyebab masuk angin.

Pereda rasa sakit (analgesik)

Nah kalau yang satu ini biasanya dibeli untuk meredakan berbagai nyeri akibat masuk angin seperti sakit otot, kepala, tenggorokan, hingga telinga. Bahan paling aktif untuk pereda rasa sakit antara lain acetaminophen (penurun demam juga), naproxen sodium, serta ibuprofen.

Beberapa tips tambahan:

  • Meski di awal tadi disampaikan bahwa obat masuk angin tidak cocok untuk anak batita, namun penggunaan untuk anak yang usianya di atas itu juga tetap perlu diperhatikan.
  • Baca baik-baik petunjuk pemakaian yang tertera pada kemasan agar tak terjadi overdosis. Ingat, beberapa jenis obat memiliki efek samping berbahaya. Jadi, jangan segan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter atau apoteker.
  • Hindari memberikan aspirin pada anak-anak karena walau jarang terjadi, obat ini dapat menyebabkan sindrom Reye yang sangat berbahaya. Penggunaan aspirin bahkan dilarang juga untuk mereka yang usianya di bawah 20 tahun. Lebih baik, pilih ibuprofen saja. Salah satu bahan aktif pereda rasa sakit ini masih aman untuk anak yang usianya 6 bulan ke atas.
  • Terakhir, untuk kamu yang gejala masuk anginnya beragam, maka pilihlah obat kombinasi yang umumnya memuat lebih dari 1 bahan aktif. Dan ingat, bila sakit berlanjut, hubungi dokter.

About megsaroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *