Friday , October 23 2020

Jangan Salah Kaprah! 10 Kondisi Ini Termasuk Gejala Gangguan Makan Lho

Sebenarnya nggak ada yang salah dengan diet atau olahraga. Ya, jika kamu merasa tubuh sudah terlampau ‘berat’ untuk digerakkan, maka ini memang waktunya untuk kembali aktif nge-gym.

Yang keliru adalah bila diet sampai mengarah ke gangguan makan seperti bulimia, anoreksia, atau lainnya. Dan 10 kondisi berikut tanpa sadar bisa jadi pertandanya lho.

1.Menghabiskan banyak waktu mengamati kekurangan tubuh

“Oh tidak, aku kok terlihat gendut. Wah, abis ini nggak makan nasi dulu deh”. Salah satu ‘ritual’ yang disukai para wanita khususnya, adalah berdiri di depan cermin sambil menatap area perut dan pinggul. Ya itu normal, tapi tidak bila aksi ini dilakukan selama 15 menit dalam sehari.

Penderita gangguan makan umumnya sangat terpengaruh dengan kondisi tubuhnya sehingga mereka merasa harus memeriksa perut setiap kali selesai makan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengurangi stres.

2.Panik karena bolos olahraga (padahal cuma sekali doang)

Aktif secara fisik itu harus, mengingat gaya hidup kebanyakan orang sekarang cenderung banyak duduk, entah waktu di kantor atau ketika main HP. Namun bila bolos olahraga sekali saja membuat kamu merasa amat sangat bersalah atau kamu berpikir harus segera membakar kalori usai makan, wah ini jelas tidak wajar.

3.Rambut, kulit, dan kuku bermasalah

Bila gangguan makan semakin serius, konsekuensinya dapat dilihat dari penampilan. Akibat malnutrisi karena kurang gizi, kulit akan mengelupas, rambut rontok, dan kuku bermasalah.

Gejala lainnya adalah muncul kantong mata, bengkak, mulut kering, dan gangguan penglihatan serta siklus haid. Ini merupakan cara tubuh mengirimkan pesan jika kondisi tersebut harus segera diperbaiki.

4.Makanan adalah kenikmatan terbesar dalam hidup

Tak ada yang salah dengan menikmati makanan, namun bila kesenangan ini lebih penting dari lainnya, sehingga kamu tidak punya waktu atau energi untuk hal lainnya, maka segeralah temui dokter.

Obesesi terhadap makanan atau tindakan makan merupakan masalah umum karena memang lebih mudah membeli makanan ketimbang bersosialisasi. Namun yang lebih mudah belum tentu lebih baik kan?!

5.Takut makan di hadapan orang lain

Bagi penderita gangguan makan, bertemu teman di restoran bisa jadi siksaan. Dalam benak mereka akan bermunculan pemikiran seperti:

  • “Duh, kira-kira apa ya yang bakal mereka pikirkan kalau aku menghabiskan isi piringku?”
  • “Mereka cuma pesan salad, padahal aku pengen pizza. Ah aku minum air saja.”
  • “Kalau aku pesannya lainnya, nanti semua orang mengira aku gendut.”
  • “Aku akan makan dessert begitu pulang nanti.”

Lantas, bagaimana mau rileks dan enjoy jika khawatir ini dan itu?!

6.Sering khilaf

Dalam program diet, memang ada saran “sediakan 1 hari untuk libur (diet) dan silakan makan apapun yang diinginkan.”

Tapi, jika liburnya keseringan, maka itu khilaf namanya. Kondisi ini biasanya menjadi jembatan antara ortoreksia (terobsesi makanan sehat) dan bulimia (makan berlebih lalu dimuntahkan).

Terlalu banyak memicu rasa bersalah sehingga seseorang mulai diet lebih ketat lagi yang justru menyebabkan overeating dan rasa bersalah baru.

Anehnya, penderita gangguan makan mampu melahap 10.000 kalori sehari dan tetap merasa lapar. Perlu bantuan ahli untuk mematahkan kebiasaan berbahaya ini.

7.Terus memikirkan makanan

Kalau tema makanan terus berkumandang dalam pikiran, ibarat radio yang sulit dimatikan, maka kasusnya mungkin ortoreksia.

Penderitanya biasanya sudah merencanakan apa yang akan dimakan kini dan nanti. Mereka juga mencoba mengontrol nafsu makan dan memaksa diri melahap makanan sehat, tak peduli situasinya.

8.Memasak makanan lezat dan kompleks hanya untuk orang lain

Seseorang yang enggan melahap makanannya sendiri seringkali mencoba menghidangkan sesuatu yang lezat bagi orang lain. Ada kemungkinan setelah semua orang selesai makan dan pergi, sang ‘koki’ akan hilang kendali dan melahap semua masakannya yang tersisa. Perilaku ini mengindikasikan bulimia.

9.Selalu kedinginan

Terang saja selalu kedinginan, lha wong lemaknya hanya sedikit di tubuh. Problem ini biasanya dialami pelaku diet rendah-lemak dan juga penderita gangguan makan.

10.Merasa lapar saat membaca postingan ini tapi memutuskan tidak makan

Pada umumnya, sinyal lapar dan kenyang terprogam selama kanak-kanak. Sinyal ini membantu kita untuk menyuplai energi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Kalau sinyal ini diabaikan terlalu sering, entah akibat makan berlebihan atau sebaliknya, maka sistem kerjanya akan terganggu sehingga memicu gangguan makan.

Pertanyaannya sekarang, bagimu – makanan itu musuh ataukah teman?

About megsaroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *