Wednesday , October 21 2020

Jadi Penasaran, Apa Yang Terjadi Setelah Kamu Memutuskan Diet Metabolik?

Di luar sana memang ada banyak macam program diet, namun tak semuanya efektif serta baik untuk kesehatan.

Lantas bagaimana dengan diet metabolik? Apa saja kelebihan maupun kekurangannya, dan apa yang bakal terjadi setelah kamu memutuskan melakukannya?

Mari kita simak penjelasan Diane Kress, pakar gizi bersertifikat asal Amerika Serikat yang juga merupakan penulis buku ‘The Metabolism Miracle”.

Cara kerja diet metabolik

“Aku sekarang lagi diet.” Ketika kita mendengar ucapan semacam itu, kita pasti setuju bahwa diet mengenal batasan waktu.

Saat diet, fungsi tubuh biasanya masuk mode bertahan dengan cara menghemat kalori supaya seseorang tidak mati kelaparan. Nah ketika asupan makanan berkurang, tubuh otomatis akan menurunkan metabolisme guna menyimpan energi.

Prinsip ‘sementara’ ini tak sama dengan diet metabolik yang target utamanya adalah me-reset beberapa organ tubuh seperti pankreas dan hati. Setelah menjalaninya, pankreas dan hati akan mengubah pola metabolisme sehingga pengaturan barulah yang nantinya berlaku.

Jenis metabolisme

Pada dasarnya, metabolisme terbagi menjadi 2 jenis:

  • Regular – biasanya dimiliki oleh mereka yang langsing.
  • Lambat – dialami oleh mereka yang kelebihan berat badan.

Pada kasus metabolisme lambat, tubuh tidak mampu mengolah glukosa secara maksimal sehingga hasilnya sel lemak jadi menumpuk – ini merupakan tanda sindrom metabolik.

Karenanya, mereka yang overweight kemudian berpikir untuk mengurangi saja asupan kalorinya agar berat badan bisa berkurang. Sayangnya, pemikiran semacam ini kurang tepat.

Bagaimanapun juga, metabolisme manusia tergantung dari hormon insulin yang bertugas mengurangi kadar glukosa dalam darah.

Kelebihan insulin membuat kita makan lebih banyak gula. Selain itu, glikogen juga dirampas dari hati, sehingga menyebabkan naiknya kadar glukosa dalam darah, membuat sel lemak mulai aktif menyimpan lemak.

Dilemanya adalah, makanan manis meningkatkan kadar insulin, mengakibatkan meningkatnya keinginan akan makanan manis tadi. Di saat yang sama, bila kita menolak makanan manis atau glukosa, maka kelebihan insulin dapat menimbulkan sensasi lapar yang kuat. Intinya, sulit menurunkan berat badan dengan kondisi metabolisme semacam ini.

Tahapan diet metabolik

Jadi yang sebenarnya harus diubah lebih dulu adalah sistem kerja metabolisme dalam tubuh. Untuk meraih itu, kita harus melalui 3 tahapan.

Tahap 1 – yang paling sulit

Tujuan tahap ini adalah membuat pankreas berhenti menghasilkan terlalu banyak insulin. Untuk itu, seseorang harus membatasi karbohidratnya tak lebih dari 25 gr setiap harinya selama 8 minggu berturut-turut.

Agar lebih mudah melakukannya, Diane mengimbau untuk membagi karbohidratnya menjadi 5 porsi, masing-masing 5 gr setiap makan. Diane sendiri sebenarnya tidak menyetujui bila diet karbo dilakukan dalam jangka waktu lama. Namun menurutnya, defisiensi karbohidrat sesaat merupakan satu-satunya cara non-medis untuk menormalkan produksi insulin.

Diane memperingatkan bahwa pelaku diet metabolik pasti akan merasa lelah, emosional, dan kelaparan selama 3 hari pertama diet. Tak sedikit yang lemas dan terserang vertigo. Ini normal karena tubuh sedang beradaptasi. Nanti di hari ke-4, mood dan kesehatan akan membaik dengan sendirinya.

Makanan yang harus dihindari dalam tahap ini berupa pasta, roti, maupun sumber utama karbohidrat lainnya. Sebaliknya, konsumsilah (dalam jumlah wajar) makanan berikut:

  • Sumber protein (daging tanpa lemak dan kulit, seafood, keju rendah lemak, cottage cheese, telur, produk kedelai tanpa pemanis).
  • Lemak – pilih yang tak jenuh untuk mentega, krim, margarin, mayonaise, minyak sayur, minyak zaitun, alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Sayur – asparagus, buncis, brokoli, kembang kol, seledri, timun, terong, jamur, lada, lobak, tomat
  • Karbohidrat – yogurt, jus, milkshake, puding tanpa gula, dan lainnya asal kandungan karbo-nya tidak lebih dari 5 gr.

Tahap 2 – penurunan berat badan

Aturan utama pada tahap ini adalah tidak mengonsumsi lebih dari 60 gr karbohidrat per harinya, dan itupun sebaiknya dibagi menjadi 11-20 gr saja setiap kali makan. Tujuannya adalah pankreas yang tadinya beristirahat, kini mulai diaktifkan kembali dengan pola kerja baru yang lebih tepat.

Semua makanan yang diperbolehkan di tahap 1 tadi masih boleh dikonsumsi di fase ke-2 ini. Selain itu, kamu juga boleh mengkonsumsi produk sereal, gandum, pasta, roti tanpa rasa, buah (unsweet).

Tahap 3 – harus dilakukan seumur hidup

Agar berat badan tetap ideal, kamu harus menghitung jumlah kalori yang diperlukan sambil mempertimbangkan faktor usia, jenis kelamin, aktivitas sehari-hari, dan fakta bahwa tubuh bisa saja kembali masuk ke pola metabolisme yang keliru.

Pada tahap ini, setelah diet berakhir, kamu tetap disarankan:

  • Membatasi atau mengontrol benar porsi karbohidrat setiap kali makan (ini yang paling penting).
  • Makan 5 kali sehari.
  • Menjauhi bakery, sebaliknya pilih dessert atau buah yang kalorinya 0.
  • Boleh mengonsumsi buah manis dan berry.

Jadi itulah tadi informasi seputar diet metabolik. Sebenarnya tidak susah untuk melakukannya, ya mungkin hanya di awalnya saja. Nanti bila sudah terbiasa, program diet ini bisa jadi pola makan baru yang pastinya sehat buatmu. Mau?!

About megsaroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *