Ayah adalah orang pertama yang Anda ingat dan orang terakhir yang Anda lupakan. (Andrew Lloyd)

Dalam menggambarkan arti seorang ayah bukan hanya para ahli yang punya pendapat. Tanyakan kepada seribu ayah, dan Anda akan mendapatkan seribu jawaban, Tanyakan kepada seribu anak dan Anda akan mendapatkan sekian kali seribu jawaban.

Salah satu jawaban terbaik yang diberikan Daniel, lima tahun, :”Ayah saya membaca koran…membelikan saya hadiah dan yogurt beku. Dia bekerja, Dia lelah, Kadang-kadang dia bermain bersama saya, mencium saya, membacakan buku, dan mengantar saya tidur.

Allison, seorang gadis berusia empat tahun, menjelaskan arti penting seorang ayah bagi dirinya, “Ayah saya adalah orang yang paling hebat di dunia. Dia mengendong saya di bahunya. Setiap hari, ayah mengatakan bahwa ia mencintai saya. Dia hidup bersama ibu dan membuat ibu juga bahagia.

Menjadi seorang ayah yang baik memang bukan pekerjaan mudah bagi setiap laki-laki. Seorang ayah yang baik diharapkan memiliki penghasilan yang cukup, mampu membiayai anak-anak yang sedang tumbuh, mendukung hobby istrinya, bisa memasak, dan rajin membuang sampah.

Tidak mengherankan meskipun peminat pekerjaan menjadi ayah banyak, uraian tugas pokok menjadi ayah yang baik juga tidak tersedia, karena setiap orang memiliki cara yang unik untuk menjadi seorang ayah.

Apa maknanya menjadi seorang ayah bagi Anda? Bagaimana Anda menjadi ayah yang berbeda? Apa perbedaan perilaku Anda sebagai ayah dibandingkan ayah di keluarga lainnya? Anda ingin menjadi ayah seperti apa?

Inti Peran Ayah

Berdasarkan hasil wawancara Jerorrold Lee Shapiro, Pd.D dengan delapan ratus ayah dan anak-anak yang sudah dewasa, dua belas inti peran seorang ayah adalah sebagai berikut :

1. Melindungi dan Memberi Nafkah

Kaum laki-laki dibesarkan dengan harapan bahwa mereka akan bekerja dan mendukung keluarga seumur hidup mereka. Bagi seorang ayah, bekerja dan memberi nafkah bukan sebuah pilihan namun merupakan sebuah keharusan. Pesan ini juga dikuatkan oleh budaya kita, bahwa pekerjaan perempuan dianggap kurang penting dibandingkan pasangannya. Perempuan diharapkan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan bertugas mengantar dan menjemput anak di sekolah.

Kenyataan ini membuat orang tua tunggal (single parent) sebagai kelompok yang tertekan. Sebagai pemberi nafkah dan pelindung, seorang pria menyandang status ayah. Mereka juga harus membayar mahal untuk peran itu, karena mereka kehilangan banyak waktu bersama anak-anak dan harus memprioritaskan bekerja.

2. Mencintai dan Melibatkan Diri Dengan Anak-Anak

Seorang laki-laki di televisi atau film biasanya digambarkan sebagai berandalan, badut, dan bukan laki-laki yang penuh kehangatan, cinta, atau ayah yang kompeten. Seorang laki-laki menulis di sebuah bulletin elektronik,”saya tahu bahwa ayah sya mencintai saya. Hanya saja ia menolak semua upaya saya untuk membalas cintanya. Sekarang saya punya dua orang anak. Saya kira kejadian di swalayan K bisa mengambarkan hubungan kami.

Inilah kisahnya, saya dan anak perempuan saya sedang antre membeli cat untuk ruang duduk di rumah, secara dia memeluk saya dan berkata dengan suara keras,”Saya sayang Ayah.” Semua orang di swalayan seperti menunggu jawaban saya, akan tetapi saya tidak mengatakan apa pun. Kemudian anak perempuan saya menambahkan, “Kali ini saya mengalahkan Ayah. Saya lebih dulu mengatakan saya sayang Ayah sebelum Ayah sempat mengatakannya.

3. Menghadapi Rasa Takut Gagal

Kaum lai-laki dibesarkan diharapkan untuk bersaing dalam pekerjaan, di rumah, dan dalam permainan. Dalam peranan sebagai ayah pun mereka menghadapi tuntutan serupa. Kaum laki-laki sering terjebak oleh kebutuhan mereka untuk menunjukkan kinerja yang prima, baik sebagai kekasih, suami, ayah, dan pekerja kantoran.

Jika seorang ayah membawa orientasi dunia kerja ke dalam rumahnya, dia cenderung menjadi “tukang memperbaiki” daripada menjadi ayah atau suami. Di dalam kehidupan keluarga, masalah seringkali harus dihadapi dengan metode yang terbalik. Berbeda dengan atasan di kantor, istri dan anak yang datang dengan sebuah masalah, tidak selalu mencari solusi, yang mereka inginkan adalah keterlibatan dan kepedulian ayah pada masalah mereka.

4. Memberi Semangat dan Dukungan

Tugas ayah adalah mendorong anak-anak untuk berani gagal melalui uji coba. Keberanian untuk mencoba- baik berhasil atau tidak, merupakan kesempatan untuk belajar. Bagaimana seorang ayah bisa mengajari anak-anaknya untuk sukses dalam bersaing, sambil mencari pengalaman baru melalui uji coba? Bagaimana seorang ayah bisa memendam rasa malu yang ditumbuhkan oleh masyarakat jika anak-anak membuat kesalahan?

Ada tiga hal yang perlu dimiliki dan dilakukan para ayah: yaitu menjadi teladan, penuh rasa empaty, dan bersikap sabar tanpa batas. Kemajuan bertahap lebih penting daripada sukses yang diraih seketika.

5. Menjadi Pemberani

Mengajari ayah berarti mengajari anak-anak tentang keberanian. Karena anak-anak cenderung meniru tindakan daripada mendengar kata-kata. Keberanian yang dicontohkan kemungkinan akan menjadi keberanian yang dipelajari.

Salah satu keberanian yang perlu dicontohkan adalah keberanian untuk menghadapi istrinya. Jika Anda benar, Anda harus siap menghadapi kemarahan yang mungkin muncul , serta bertahan dengan argumentasi Anda, jangan mundur atau meninggalkan rumah. Selesaikan masalahnya dengan tetap tinggal dan membahas kekhawatiran Anda.

Dibutuhkan sejumlah keberanian untuk mendengarkan pendapat istri Anda, untuk mengatakan sudut pandang Anda, dan tetap teguh dengan pendirian Anda, dan keberanian yang tinggi untuk mengakui secara terus terang jika Anda ternyata salah.

Sikap ini sangat kontras dengan stereotip “laki-laki jantan” yang mengartikan keberanian dengan memperburuk konflik, yaitu dengan mengeluarkan kata-kata yang merendahkan, menuduh, meninggalkan rumah, atau melakukan penganiayaan fisik kepada istri setiap kali merasa dirinya merasa terpojok dan diserang oleh si istri.

6. Bisa Dipercaya

Semakin jauh seorang ayah dari anak-anaknya atau semakin tidak bisa diandalkan sikapnya, semakin kecil kemungkinan anak-anaknya bisa tumbuh di dalam lingkungan yang stabil. Tanpa kestabilan, seorang anak akan kesulitan untuk menaruh kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain.

Cara lain yang bisa dipakai seorang ayah untuk mengajari anak-anaknya tentang kepercayaan adalah dengan menjadi ayah yang bisa diandalkan. Para ayah harus menepati janji kepada anak-anak mereka, atau setidaknya menjelaskan jika mereka tidak bisa menepati janji tersebut.

7. Menghormati Perasaan dan Kehangatan Pria

Pria bisa saja memendam perasaan-perasaan yang sama seperti wanita, tetapi mereka mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Kadang-kadang, hal yang tidak diucapkan jauh lebih berarti daripada yang diucapkan. Isyarat yang digunakan kaum pria jelas berbeda dengan pembicaraan wanita. Komunikasi terbaik tidak harus dilakukan dengan saling bertemu muka atau dengan membahas perasaan kita. Kadang-kadang komunikasi langsung sangat penting, namun ada kalanya komunikasi tidak langsung jauh lebih efektif.

8. Bersikap Fleksibel

Salah satu tolok ukur penting dalam menjadi orang tua adalah siap untuk terkejut melihat hal-hal yang dilakukan anak-anak dari waktu ke waktu. Carl Whintaker, seorang ahli terapi keluarga yang ternama, mengatakan, “Orang tua hanya punya satu pilihan. Mereka harus memilih bagaimana mereka berbuat salah.” Dengan bersikap fleksibel bukan berarti seseorang kehilangan nilai-nilai dasar. Ada banyak orang tua yang terpukul melihat anak-anaknya mengkonsumsi kokain, tetapi orang tua yang sama ternyata merokok ganja bersama sama dengan anaknya. Biasanya remaja akan memberontak dengan melakukan satu atau dua hal yang lebih berani daripada hal yang dilakukan orang tuanya.

9. Menegakkan Disiplin

Disiplin memiliki tiga arti yaitu : hukuman, bidang studi, dan motivasi mulia untuk bekerja.

Untuk seorang ayah mengajari anak-anaknya tentang cara kerja yang benar seringkali sangat penting. Satu-satunya cara untuk membantu anak-anak adalah dengan membiarkan mereka berjuang untuk melakukan sesuatu dengan benar-benar lengkap dan menyelesaikan pekerjaan mereka sampai tuntas.

10. Mencontohkan dan Mengajarkan Kerjasama Kelompok

Fakta kehidupan modern menunjukkan bahwa kerja sama kelompok merupakan elemen penting agar kita bisa hidup dan maju. Anak-anak perlu belajar bagimana menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar daripada diri mereka. Mereka perlu belajar bagaimana mengendalikan ego untuk mencapai hasil yang lebih baik. Mereka harus belajar bahwa kemenangan bisa dicapai dengan memegang peran kecil dalam upaya (kelompok) yang lebih besar. Kenangan dan pelatihan seperti itu melatih mereka untuk menekan keinginan pribadi dan menjadi bagian dari sebuah tim (tempur) dari satu kesatuan, atau bagian dari keluarga saat mereka dewasa.

Apa pun pekerjaan ayah, buruh pabrik atau pekerja kantoran, pekerjaan ayah hanya merupakan bagian kecil sebuah produksi yang lebih besar. Sebagian besar waktunya dihabiskan sebagai anggota tim. Jika berada di rumah, dia harus menyelaraskan semua kegiatannya dengan anak-anak dan anggota tim lainnya (istrinya).

11. Memahami dan Menghormati Keterbatasan Pribadi

Seorang ayah perlu membantu anak-anaknya mengenali keterbatasan dirinya, sekaligus memilih pertempuran-pertempuran dengan hati-hati. Bukan ayah yang harus menentukan bidang sukses yang harus diraih oleh anak-anaknya. Seorang ayah hanya perlu mendorong anak-anaknya agar mengejar impian-impian mereka dengan melakukan uji coba.

12. Menerima Diri Anda dan Peran Anda Sebagai Ayah

Menurut Anda, apa yang bisa menjadikan diri Anda seorang ayah sesuai harapan anak-anak Anda?

Kalau Anda percaya bahwa anak-anak Anda membutuhkan lebih banyak pertemuan dengan Anda. Anda harus meluangkan waktu dan energy untuk mewujudkan pertemuan tersebut. Jika Anda tak bisa menyelesaikan apa pun saat Anda berada di sekitar anak-anak. Barangkali Anda tak usah berusaha menyelesaikan apa pun. Kecuali berada di samping mereka.

Tidak pernah ada orang yang bilang,”Ya Tuhan, saya berharap saya bisa meluangkan waktu lebih banyak di kantor, di depan komputer daripada bermain bersama anak-anak.

Anda punya pendapat atau tambahan lain tentang peran penting ayah? Silahkan tuliskan pendapat Anda di kolom komentar.

Referensi : The Good Father, Kiat Lengkap Menjadi Ayah Teladan, Jerrold Lee Shapiro, Ph.D, Kaifa, Bandung 2003.