Sunday , October 25 2020

Festival Bau Nyale, Agenda Tahunan Masyarakat Lombok Mencari Cacing Laut

Di Lombok terdapat sebuah kebiasaan unik yang digelar setiap tahunnya. Kebiasaan tersebut disebut dengan festival Bau Nyale. Lima hari sesudah bulan purnama pada bulan sepuluh dalam kalender suku Sasak menandai sebuah peristiwa penting yang berulang setiap tahunnya. Pemimpin kepercayaan animesme Marapu yang disebut dengan Rato dipercaya oleh masyarakat di Nusa Tenggara untuk mengukur tanggal pasti kapan datangnya peristiwa yang dinantikan tersebut. Istilah ‘Bau Nyale’ sendiri berarti ‘mencari cacing laut’. Festival Bau Nyale ini selalu dinanti – nantikan oleh warga Lombok maupun para wisatawan yang berkunjung ke sana. Dalam festival tersebut ribuan orang akan berkumpul dan mencari jutaan ‘nyale’ yang menepi ke pantai di Lombok.

Para Rato yang mengenakan pakaian tradisional khas setempat akan berunding dan menyepakati satu hari yang sudah dihitung. Setelah mereka menemukan tanggalnya, mereka akan berdiri di atas nisan menghadap ke arah bulan yang merona penuh. Masyarakat yang memperoleh kabar akan segera melakukan ritual khusus sebelum hari besar yang dinanti – nantikan datang.

Masyarakat biasanya akan segera membuat ketupat dan memasak ayam. Jika dari usus ayam masih terlihat darah atau ketupat terlihat berwarna coklat kemerahan, maka biasanya sebuah kejadian pilu akan terjadi pada saat Pasola. Pasola itu sendiri merupakan pesta rakyat Pulau Sumba yang berbentuk permainan yang dilakukan di atas kuda dan para pemainnya saling melembar lembing sebagai ucapan syukur terhadap hasil panen yang melimpah. Meskipun Pasola memiliki cerita legenda yang berbeda dengan Bau Nyale, namun keduanya menyatu di satu titik yaitu pesta nyale digelar untuk menyambut pesta rakyat Pasola.

Nyale itu sendiri merupakan spesies cacing laut yang beraneka warna. Cacing – cacing tersebut ditangkap untuk dijadikan masakan khas. Bagi masyarakat setempat diyakini bahwa menikmati nyale merupakan tanda kemakmuran sementara orang yang menolaknya akan terkena musibah. Para penganut Marapu sangat mempercayai hal tersebut.

Festival Bau Nyale ini juga dilatarbelakangi oleh cerita legenda yang sudah turun temurun. Menurut legenda, dahulu kala adalah seorang putri yang cantik rupawan dari Lombok. Putri tersebut bernama Mandalika. Cerita mengenai kecantikannya pun tersebar hingga di setiap sudut pulau. Karena kecantikannya banyak pangeran yang terpikat dan berniat untuk meminangnya. Untuk mendapatkan Putri Mandalika, para pangeran tersebut menciptakan sebuah pergolakan di seluruh penjuru pulau. Melihat hal tersebut, sang putri menjadi sedih. Ia sangat menginginkan perdamaian di tanahnya.

Akhirnya untuk menghentikan semua kekacauan tersebut, Putri Mandalika pun kemudian menceburkan diri ke laut. Ketika para pengikutnya berusaha untuk menemukan tubuh Putri Mandalika, mereka hanya melihat cacing laut yang jumlahnya sangat berlimpah. Cacing itulah yang saat ini disebut dengan nyale. Cacing – cacing tersebut dipercaya sebagai reinkarnasi dari Putri Mandalika. Karena kepercayaan tersebut, nyale yang setiap tahunnya muncul di pantai diyakini sebagai Putri Mandalika yang ingin mengunjungi rakyatnya.

Hujan deras di malam hari, petir, angin kencang, dan kilat menandai bahwa tradisi Bau Nyale akan segera diadakan. Pada saat malam menjelang nyale keluar akan terjadi hujan deras dan angin akan reda kemudian digantikan dengan hujan rintik – rintik. Nyale biasanya muncul mulai dari dini hari sampai menjelang subuh. Pada dasarnya tradisi ini adalah bentuk penghormatan Suku Sasak terhadap alam. Walaupun terinspirasi oleh legenda yang turun temurun, tradisi Bau Nyale menjadi bukti bahwa masyarakat tradisional sangat memperhatikan kondisi alam sekitar mereka sehingga membuat mereka dapat hidup harmonis dengan alam.

About Bas