Saturday , October 24 2020

Dua Penyebab KDRT Yang Sering Terjadi di Indonesia

Ada fakta mencengangkan yang terungkap melalui Catatan Tahunan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan pada tahun 2018 bahwa sepanjang pada tahun 2017 saja telah terjadi 13.384 kasus kekerasan dalam rumah tangga (kdrt) dimana sebanyak 9.609 kasus, atau 71 persen dari total adalah kekerasan dalam ranah privat, termasuk kekerasan terhadap istri dan anak perempuan.

Nah dari 9.609 kasus tersebut, sebanyak 3.843 atau 41 persen adalah kekerasan fisik, sementara 2.978 merupakan kekerasan seksual, dan 1.441 merupakan kekerasan psikis, sementara sisanya merupakan kekerasan ekonomi.  Fakta-fakta tentunya  sangat menyesakkan dada, mengingat masyarakat Indonesia selalu dikenal dengan kesantunan dan kelembutan serta akan mengutamakan pendekatan kekeluargaan yang hangat dalam menyikapi berbagai permasalahan, termasuk masalah rumah tangga.

Namun ternyata dengan fakta yang disampaikan oleh Komnas Perempuan tersebut, setidaknya sedikit membukakan alam fikiran kita bahwa dalam mengarungi mahligai rumah tangga di Indonesia, masyarakat/suami kerap menyikapinya dengan perlakuan kasar dan tidak etis. Padahal Indonesia telah memiliki Undang-Undang Kekerasan Rumah Tangga sejak tahun 2004 yang lalu. Dan efeknya juga tak main-main, kekerasan dalam rumah tangga, atau biasa disebut dengan istilah KDRT, akan dapat memporakparandakan kehidupan harmonis yang tengah dibangun suami istri yang berujung dengan perceraian atau bahkan konsekuensi hukum lainnya.

Menariknya, selain diakibatkan faktor ekonomi, ada beberapa faktor lainnya yang bisa mengakibatkan kekerasan dalam rumah tangga. Berikut beberapa penyebab kekerasan rumah tangga yang dikumpulkan dari berbagai sumber berita terpercaya yang bisa dijadikan renungan oleh kita semua :

1. Adanya cara pandang bahwa laki-laki haruslah menjadi superior dalam rumah tangga

Fakta ini pernah disampaikan oleh Indraswari, Ketua Subkomisi Pemantauan Komnas Perempuan bahwa salah satu sebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia adalah adanya ketimpangan gender yang menganggap bahwa kaum laki-laki/suami harus lebih berkuasa daripada perempuan/istri. Artinya masih sering didapatkan pada budaya masyarakat Indonesia, bahwa para suami harus lebih dominan dalam mengarungi rumah tangga dari istri, dimana sang istri harus selalu menuruti apapun kata-kata dan perintah suami, tidak boleh protes, apalagi melakukan pembangkangannya. Sang istri harus diam jika sang suami tidak lagi mampu memberikan nafkah baik lahir maupun batin. Sang istri haruslah dituntut untuk tetap mulut, jika keuangan dan faktor ekonomi lainnya tengah memburuk. Sang suami merasa bahwa dialah orang yang paling tepat mendominasi dan menguasai laju kehidupan rumah tangga, sementara sang istri harus dituntut untuk bersikap pasrah. Sang suami merasa bahwa dirinya memiliki sepenuhnya istrinya yang harus taat dan patuh terhadap segala permintaan suami meskipun terkadang perintah itu tidak dapat ditolerir oleh sang istri.

Repotnya lagi apabila sang suami terkadang menganggap sang istri sebagai barang mati yang tidak perlu lagi dikasihani. Akibatnya ketika terjadinya perselingkuhan yang dilakukan sang suami, sang istri dipaksa untuk diam demi menyelamatkan mahligai rumah tangga serta masa depan anak-anak, karena dia menyadari sepenuhnya bahwa perceraian dan jatuhnya talak berada di tangan suami.

Dalam hal ini, sang istri biasanya akan mengalami penderitaan psikis/batin yang kerap dia sembunyikan karena dia dihadapkan kenyataan bahwa sang suami lebih superior. Nah, ketika kesabaran pada akhirnya akan menemui batasnya juga, maka sang istri akan mengungkapkan penderitaan batinnya kepada sang suami. Namun sayangnya, sang suami yang merasa lebih superior serta lebih dominan, kerapkali menyikapi perlawanan sang istri tersebut dengan pemukulan atau bentuk-bentuk kekerasan fisik lainnya. Dari ribuan kasus KDRT yang terjadi setiap tahunnya, memang sang suami lebih dianggap sebagai pelaku KDRT, sementara sang istri merupakan korban kekerasan tersebut.

2. Adanya anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa sang suami bisa melakukan poligami kapanpun dia mau, tanpa perlu izin sang istri

Masalah poligami sempat mencuat ke permukaan beberapa bulan lalu saat Partai Solidaritas Indonesia, sebuah partai yang baru saja didirikan dan diketuai oleh Grace Natalie,  pernah menyatakan larangan bagi pengurus serta calon legislatif mereka untuk melakukan poligami. Namun menariknya, berdasarkan tanggapan yang disampaikan oleh Kiai Imam Nahei, Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, bahwa praktek poligami adalah salah satu tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Iya poligami biasanya mengakibatkan kecurigaan-kecurigaan dalam rumah tangga sebab praktek ini kerapkali tidak dicatatkan. Secara umum Indonesia sebenarnya tidak melarang praktek tersebut, namun harus disertai dengan syarat lainnya, yaitu adanya izin dari istri bahwa suami boleh menikah lagi dengan perempuan lainnya. Maka akibatnya ketika suami menikah lagi tanpa diketahui oleh istri, maka hal itu dapat dianggap sebagai kekerasan dalam rumah tangga. Jika pernikahan siri itu diketahui oleh istri yang kemudian menyatakan ketidaksetujuannya, tentunya rumah tangga akan dipenuhi oleh percekcokan yang tidak berkesudahan. Bukan mustahil, pertengkaran di dalam rumah tangga yang diakibatkan poligami akan berujung kepada berbagai tindakan kekerasan fisik yang dilakukan suami kepada istrinya.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *