Thursday , October 29 2020

Dialog Efektif untuk Menumbuhkan Kecerdasan Emosi Anak

Pengendalian emosi pada anak merupakan hal positif paling penting dalam pembentukan kepribadian sejak dini. Pengendalian emosi yang saya maksud adalah kemampuan anak untuk menunda keinginan-keinginannya dan mengontrol diri, bahkan meskipun hanya sejenak, khususnya pada fase usia taman kanak-kanak.

Contoh dialog efektif untuk menumbuhkan kecerdasan emosi anak adalah sebagai berikut.

Seorang anak meminta sesuatu yang kurang perlu atau bukan kebutuhan pokok kepada ayah atau ibunya. Pada kasus seperti ini, seorang ibu atau ayah hendaknya meminta sang anak untuk menunda keinginan tersebut meskipun sebentar. Misalnya dengan berkata kepadanya,” Nanti setelah makan siang,” atau nanti setelah ayah pulang,” apabila Anda memang sedang berada di kantor atau sedang berada di luar rumah.

Secara bertahap, latihan menahan emosi ini dan keinginan ini ditingkatkan hingga anak mampu menahan keinginannya dua hari, tiga hari, bahkan seminggu. Tapi perlu diketahui bahwa anak-anak pada fase usia ini belum memahami tabiat waktu secara baik. Ia tidak tahu berapa lamanya tiga hari atau kapan berakhirnya jeda tiga hari tersebut. Oleh karena itu, baik ayah maupun ibu diharapkan memakai kalimat-kalimat yang lebih sederhana dan punya kemiripan makna ketika berdialog dengan anak agar ia paham. Misalnya memberikan penjelasan kepada anak,”Setelah tiga hari berarti setelah kakak tidur, bangun, lalu tidur lagi, terus bangun, terus tidur, dan bangun lagi.”Dengan begitu, Anda dapat melatih anak untuk menata perasaan dan mengontrol emosinya.

Kalau pola dialog di atas dapat membantu menumbuhkan kecerdasan emosi anak, maka pola dialog di bawah ini dapat mendorong anak untuk berkepribadian egois atau mementingkan diri sendiri, narsis, dan ia selalu ingin kemauannya dipenuhi kapan saja dan dengan cara apa saja, secepat mungkin.

Salah seorang ayah mengeluh, kemarin ia diminta anaknya keluar rumah selepas tengah malam untuk membeli sepeda kesukaannya. Ketika sang ayah menolak permintaannya karena waktu sudah terlalu malam dan khawatir akan keselamatan dirinya dari pelaku kriminalitas, anak itu berteriak dan menangis keras, ia terus menangis sampai sang ayah menuruti keinginannya. Di sini dialog yang terjadi bukanlah dialog yang baik. Hasil dari dialog ini pun menimbulkan pengaruh buruk pada kepribadian anak di masa yang akan datang.

Jadi, diolog yang efektif dengan perencanaan sistematis dan ketelitian dalam perencanaannya, mampu menumbuhkan kecerdasan emosional anak, sebab kadang-kadang seorang anak beranggapan bahwa ketika kebutuhannya tidak dipenuhi dan ditangguhkan, berarti orang lain tidak menyukainya atau tidak ingin ia bahagia. Perasaan seperti ini akan menyulut timbulnya pemberontakan, kekerasan dan sejenisnya.

Adapun jika anak sudah terbiasa mendapatkan sesuatu pada saat yang tepat, kemudian ia juga sadar bahwa cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu adalah dengan bersabar meskipun sebentar, maka ia akan belajar memaklumi. Tapi perlu diketahui bahwa keahlian seperti ini membutuhkan latihan, pendidikan dan dialog yang berulang-ulang. Kecerdasan emosi anak dalam hal ini membantu ia sabar dalam antrean, tidak pantang menyerah, kreatif dalam mencari solusi, dan ia menjadi anak yang pandai mengendalikan emosi negatif.

Dialog antara anak dan orang tua adalah dialog yang membuat kedua belah pihak senang dan puas. Bukan dialog yang berisi instruksi dan arahan satu pihak saja. Dialog untuk menumbuhkan kecerdasan emosional dapat mengajarkan anak bersabar menunda keinginannya, walaupun sebentar.