Saturday , October 24 2020

Dari “Raja” Hingga “Budak”, Ini Dia 4 Cara Membesarkan Anak Menurut Orang Tibet

Di beberapa film, kita sering melihat orang Tibet digambarkan sebagai sosok yang sabar, bijak, dan mempunyai sudut pandang unik tentang kehidupan. Well, hal itu mungkin ada benarnya. Soal cara membesarkan anak misalnya, orang Tibet mempercayai bahwa setidaknya ada 4 tahapan mengenai ini. Apa sajakah itu?

Tahap 1: Raja/ ratu (sebelum usia 5 tahun)

Menurut kepercayaan Tibet, selama usia emas ini, gaya bicara orang tua pada anaknya haruslah seperti kepada “raja atau ratu”. Maksudnya adalah orang tua tak semestinya melarang ini-itu atau menghukum buah hati mereka. Alasannya?! Pada usia ini, anak biasanya memiliki rasa penasaran (ingin tahu) yang besar. Mereka juga sedang aktif-aktifnya dan sangat siap untuk menjelajahi dunia sekitar.

Lantas bagaimana bila anak hendak melakukan sesuatu yang salah atau berbahaya? Tugas Anda hanyalah menunjukkan ekspresi takut dan cobalah mengalihkan perhatian anak ke hal lain. Pada tahap ini, ekspresi merupakan ‘bahasa’ yang lebih mudah dipahami anak.

Sebaliknya, jika orang tua overprotektif pada balita dan melarang mereka melakukan ini-itu, maka risikonya adalah ketajaman mental anak tak bisa berkembang sehingga kelak ia hanya tumbuh seperti ‘robot’ yang bertindak tanpa berpikir panjang.

2.Tahap 2: Budak (5-10 tahun)

Selama masa ini, orang tua diimbau berbicara seolah-olah anaknya adalah “budak”. Ya walau kesannya kasar, namun tak berarti bahwa orang tua harus kejam dan memperlakukan anak semena-mena ya.

Pada masa ini, kemampuan berpikir dan intelegensi anak sedang berkembang, begitu pula dengan pola dasar kepribadian mereka di masa depan. Oleh karenanya, penting untuk mengajar buah hati mengenai tujuan atau target, mengontrol dalam proses pencapaiannya, dan menginformasikan soal konsekuensi bila target tidak tercapai. Intinya, anak harus diajar agar bertanggung-jawab terhadap perbuatannya. Jangan takut melimpahkan banyak tugas pada buah hati selama usia ini! Mereka sudah siap mengerjakan dan belajar kok.

Jika Anda tidak mengganti cara pengasuhan “raja” menjadi “budak”, itu hanya akan merugikan anak maupun orang tuanya sendiri. Ia berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang kekanakan dan tak bisa bertanggung jawab terhadap tindakannya sendiri.

Tahap 3: Teman (10-15 tahun)

Nah pada usia ini, anak perlu diperlakukan sebagai teman. Memang sih orang tua lebih banyak pengetahuan dan pengalaman, tapi anak juga perlu diberi ruang sehingga dapat berpikir dan memiliki pendapatnya sendiri. So, sesekali orang tua jangan segan minta ‘nasehat’ dari anaknya, dan memberikan kebebasan pada mereka.

Ya memang adakalanya orang tualah yang memberikan nasehat, tapi jangan sampaikan itu dalam bentuk perintah atau larangan. Alasannya karena pada masa ini, kebebasan berpikir sedang dibentuk.

Bila orang tua melarang banyak hal, maka hubungannya dengan anak akan memburuk sehingga malah menyebabkan buah hati berperilaku negatif. Orang tua yang overprotektif juga berpotensi membuat auh dengan rasa tidak aman sehingga ia nantinya akan sangat mementingkan ‘apa kata orang’.

Tahap 4: Teman (15 tahun ke atas)

Di usia ini, kepribadian anak umumnya sudah terbentuk sepenuhnya. Jadi penting sekali bagi orang tua untuk bersikap menghargai. Tak mengapa kok untuk tetap menasehati buah hati, akan tetapi, camkan bahwa sudah terlambat untuk mengajari mereka.

Pada tahap ini, orang tua juga akan melihat hasil dari pola pengasuhan mereka selama ini – apakah anak independen, mandiri, dan mampu menghargai orang tuanya serta orang lain, atau malah sebaliknya.

So parents, decision is in your hand!

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *