Friday , October 30 2020

Ciri-Ciri Model Ayah yang Memberikan Contoh Buruk

Ada banyak informasi tentang ayah yang buruk dan tidak layak. Ayah yang buruk digambarkan kejam, suka menyiksa, ayah yang tidak pernah hadir, ayah yang tukang mabuk dan main judi, ayah yang mementingkan diri sendiri, dan lain sebagainya. Para ibu seringkali dituduh sebagai penyebab rusaknya pertumbuhan jiwa anak atau kelainan tingkah laku anak-anak. Namun sekarang, objek tuduhan berbalik kepada ayah.

Model ayah yang buruk memang bisa membawa pengaruh buruk terhadap anak-anak. Ketidakhadiran atau kehadiran ayah yang kejam memengaruhi masa kanak-kanak dan menghantui masa dewasa mereka. Barangkali ayah Anda melakukan penganiayaan fisik atau tidak pernah hadir secara emosional. Barangkali dia kejam, suka mengancam, terlalu bergantung, atau sering menitipkan perasaan bersalah. Mungkin Anda bukan pria yang merupakan ayah yang buruk, namun semua pria rentan terjebak secara tidak sadar menerapkan peran sebagai ayah yang buruk.

Dalam banyak hal, mengamati model ayah yang buruk lebih mudah daripada mengamati model ayah yang baik.

Berikut adalah ciri-ciri model Ayah yang memberikan contoh buruk pada anak :

1. Ketidakhadiran Secara Fisik

Ketidakhadiran sosok ayah yang berkepanjangan bisa menyebabkan anak-anak mengembangkan perasaan takut diabaikan. Sejumlah pria yang saat ini sudah menjadi ayah, menceritakan pengalaman masa kanak-kanak mereka yang tidak pernah berhubungan dengan ayah mereka karena si ayah sedang menjalani tugas militer selama Perang Dunia II atau selama Perang Korea. Sejumlah pria lain ditinggalkan oleh ayah mereka. Beberapa anak harus berpisah dengan ayah mereka karena si ayah dipenjara atau si ayah harus tinggal di rumah rehailitasi narkoba dalam waktu yang lama.

Dengan nada pahit, Aaoron berbicara tentang pekerjaannya,”Selama sepuluh tahun terakhir, dalam sebulan saya hanya tinggal di rumah selama satu minggu. Sisanya saya habiskan di jalan. Itu sama sekali bukan keinginan saya. Semua karyawan yang minta dipindahkan dari tugas membawa di jalan raya ke kantor telah dirumahkan. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan. Akhirnya, saya tetap membiayai anak-anak…tetapi saya tidak mengenal mereka. Saya tidak lahir saat dia lahir, dan saya tidak hadir delapan puluh persen pada kehidupan mereka sampai detik ini.

Apa pun penyebab perpisahan tersebut, ketidakhadiran ayah menyebabkan anak laki-laki dan perempuan sama-sama kehilangan pelajaran penting yang seharusnya diperoleh pada masa kanak-kanak mereka. Ketimpangan tersebut tampaknya menjadi sangat penting saat si anak berupaya menjalin hubungan dekat sebagai orang dewasa. Anak laki-laki, yang tidak pernah memiliki model peran pria dewasa, cenderung menjadi takut pada keintiman. Pria semacam ini ditakdirkan merasa lebih rendah daripada pasangan mereka karena mereka kurang memahami cara-cara wanita dalam berhubungan. Perasaan rendah diri dalam berhubungan menyebabkan mereka menarik diri atau bersikap agresif, supaya mereka merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Anak-anak perempuan yang tidak pernah merasakan kehadiran sosok ayah, mengalami penderitaan yang berbeda. Tanpa model peran pria yang layak, mereka tidak pernah belajar bagaimana cara pria mengungkapkan perasaan. Mereka juga tidak memahami batasan yang ditetapkan pria. Setelah dewasa, mereka sering menjalin hubungan dengan pria yang tidak layak atau tidak adil. Mereka juga berharap pasangan mereka menyesuaikan diri dengan kebiasan-kebiasaan mereka. Wanita dewasa yang tidak pernah merasakan kehadiran fisik ayah, biasanya terlalu sering mengalah saat menjalin hubungan dengan pria, namun sering marah dan memberontak secara agresif.

2. Ketidakhadiran Secara Emosional

Ketidakhadiran sosok ayah secara emosional lebih sering terjadi dan lebih merusak keluarga daripada ketidakhadiran secara fisik. Banyak wanita yang secara konsisten mengeluhkan ketidakhadiran suami dan mantan suami mereka. Pria-pria tersebut piawai berakting sebagai pria yang kuat dalam diam. Para ayah yang tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka seringkali tidak memahami perasaan mereka sendiri. Mereka menjalani kehidupan yang sepi bahkan di tengah-tengah keluarga mereka sendiri. Hemat kata si ayah tidak bereaksi terhadap kebutuhan anak-anak akan perhatian, kasih sayang dan keterikatan. Jika si anak menuntut kepedulian sang ayah, mereka diabaikan atau dihukum. Ayah jenis ini tidak pernah sekali pun mengatakan aku cinta padamu, kepada anak-anak mereka.

3. Rajin Memberikan Ancaman Verbal

Ayah yang rajin memberikan ancaman verbal bahwa si ayah akan meninggalkan rumah, bunuh diri, atau sejenisnya, atau menarik cintanya, setelah beberapa waktu akan membawa dampak yang merusak. Tindak kekerasan berupa ancaman seperti itu dalam jangka pendek bisa membuat si anak patuh, tapi dalam jangka panjang bisa merugikan.

Upaya-upaya mengontrol tingkah laku anak melalui ancaman akan membuang si anak atau membuat si anak berniat bunuh diri. Kutipan-kutipan di bawah ini diucapkan beberapa pria yang mengenang masa kana-kanaknya.

  • Jika kamu tidak berhenti bertingkahlaku buruk, saya akan mengirimu ke rumah panti asuhan.
  • Saya yang menghadirkan kamu ke dunia ini, dan saya juga bisa mengeluarkanmu dari duia ini.

Meskipun para ayah di atas tidak benar-benar melaksanakan ancaman mereka, namun hal tersebut membawa perasaan takut pada diri anak-anak yang memiliki ayah yang rajin memberikan ancaman verbal. Untuk seorang anak, ancaman dalam bentuk pengabaian benar-benar sangat menakutkan.

4. Penganiayaan

Penganiayaan fisik terhadap anak-anak dalam banyak hal merupakan pelanggaran berat terhadap kewenangan orang tua. Apabila anak-anak dipukul, jiwa mereka akan terluka, dalam beberapa kasus mereka juga bisa terluka secara fisik. Itu adalah pelanggaran orang tua terhadap janji untuk melindungi anak-anak. Mendidik anak itu dengan kecerdasan bukan dengan kekerasan. Menebar terror bukanlah metode yang baik untuk membesarkan anak.

5. Mencari Kambing Hitam

Banyak pria yang secara fisik siap menjadi ayah, namun secara psikologis belum cukup matang untuk berperan sebagai ayah. Pria seperti itu seringkali menyalahkan anak-anak mereka atas kegagalan yang mereka alami. Mereka berpikir bahwa daripada menyalahkan kemampuan diri sendiri, menyalahkan anak-anak seringkali lebih mudah. Ayah seperti ini seperti aktor yang memerankan jaksa penuntut umum di sepanjang waktu.

6. Kebergantungan

Para ayah bisa memutarbalikkan peran ayah-anak dengan bergantung kepada anak-anaknya. Seorang ayah pemabuk seringkali harus dijaga oleh anaknya yang masih kecil. Masa kecil anak-anak seperti itu dirampas dan mereka dipaksa menjadi “orang tua” pada usia mereka yang masih belia sehingga saat tumbuh dewasa, mereka kesulitan menjalin hubungan yang membutuhkan kesetaraan.

Bentuk kebergantungan yang lain adalah anak-anak dituntut untuk menutupi kekurangan ayahnya. Seorang ayah yang tidak pernah mampu menjadi anggota tim basket mencoba memindahkan ambisinya dengan mendorog anak laki-lakinya untuk menjadi pemain basket (contoh lainnya adalah menjadi pemain bola, pengusaha, akademisi, atau mengejar kekayaan) yang tidak pernah bisa diraihnya. Para ayah seperti ini bergantung kepada anak-anaknya untuk memenuhi harapan titipan si ayah.

Jika orang tua bergantung kepada salah seorang anaknya, si anak akan kehilangan banyak kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanak dan untuk tumbuh melalui berbagai tahap perkembangan. Apakah Anda pernah tersesat dalam melakukan peran sebagai ayah yang buruk? Semoga tulisan ini mengembalikan Anda untuk kembali menjadi ayah yang baik.