Thursday , October 29 2020

4 Cara Mengendalikan Emosi dalam Mendidik Anak

Berikut ini rangkuman 4 cara mengendalikan emosi dalam mendidik anak, yaitu:

1. Hindari kritik yang berlebihan, komentar yang menghina, atau mengolok-olok anak Anda

Penghinaan akan merusak hubungan orang tua dan anak serta merusak harga diri anak. Banyak orang tua yang menanggapi amarah anak mereka yang belum bersekolah dengan menertawakan atau mengejek mereka. Penghinaan akan menggerogoti kepercayaan diri anak, orang tua sebaiknya jangan terus menerus mengoreksi tingkajh mereka, dan secara tidak perlu mengambil alih tugas paling sederhana yang dilakukan anak-anaknya. Orang tua seperti ini sering melabeli anak-anaknya. Misalnya: Bobby itu hiperaktif, Queency itu terlalu pendiam, Yuda itu pemalas, Angel itu “bodoh”. Mereka mengatakan itu di depan orang dewasa lainnya.

Berhati-hatilah mengendalikan lidah Anda, jangan mengecam, bersifat kasar atau menghina. Waspadalah agar Anda jangan sampai mengolok-olok anak Anda, biarkanlah mereka melakukan beberapa kesalahan. Katakan: Di tempat nenek, kita tidak boleh memanjat-manjat meja,” bukan jangan ugal-ugalan seperti itu.” Meskipun ada anak-anak yang berperasaan badak, namun tak satupun anak-anak terbuat dari bahan anti Teflon yang bebas goresan sakit hati. Anak-anak cenderung percaya dengan cap negatif yang diberikan orang tua mereka.

2. Gunakan pujian untuk melatih anak Anda

Berilah anak-anak Anda pujian yang terperinci – bukan global atas tindakan mereka. Misalnya : Queency, Mande bangga kamu mau meminjamkan bahkan memberikan buku kesayanganmu kepada anak-anak jalanan. Jenis Jenis pujian yang terpusat semacam ini jauh lebih bermanfaat dalam situasi mengajar daripada puji-pujian yang luas dan abstrak (tidak jelas), seperti : “Bagus, kamu betul-betul anak hebat.”

3. Abaikanlah agenda mengasuh anak Anda

Agenda mengasuh anak Anda dapat menjadi penghalang bahkan dalam situasi di mana orang tua mengetahui bahwa anak mereka baru saja berlaku salah. Haim Ginot, seorang psikolog bilang,” Tundalah berbicara mengenai kesalahan-kesalahan seorang anak, sampai perasaan-perasaan yang ada di balik tingkah tersebut dapat diatasi.

Misalnya : Queency mencibit adiknya sampai menangis karena iri. Jangan ajukan pertanyaan :”Mengapa kamu melakukan itu?” Pertanyaan ini terdengar mendekati kecaman atau tuduhan. Anak akan cenderung menjawab dengan bertahan daripada memberi informasi yang benar. Cobalah menanyainya dengan penuh perasaan: Queency, nggak baik menginginkan mainan adikmu, Nak. Tunda siraman rohani atau omelan Anda, perhatikan perasaan-perasaan anak Anda di balik kejadian tersebut.

4. Jangan berpihak kepada musuh

Apabila anak-anak diperlakukan secara buruk, mereka akan berpaling kepada Anda sebagai orangtuanya. Janganlah bersikap memihak “musuh”. Misalnya: Anak perempuan Anda pulang dengan marah dan menangis karena guru olahraganya mengatakan bahwa ia kegendutan. Apabila sang Ibu telah berusaha sia-sia untuk membujuk anaknya berdiet, maka si Ibu mungkin tergoda untuk mengucapkan bahwa ucapan gurunya adalah benar.