Wednesday , October 28 2020

Cara Mendidik Anak Berempati Terhadap Konsekuensi

Sebagai orang tua yang peduli, saya paham bahwa kurang tidur akan menyebabkan anak mengantuk di pagi harinya. Mereka akan kehilangan daya pikir, dan lesu di sekolah. Bahkah mereka mungkin akan tertidur di kelas. Sepertinya itu adalah harga yang terlalu tinggi untuk dibayar oleh anak. Maka sebaiknya sebelum hal tersebut terjadi, pikirkan cara yang tepat untuk membujuk anak tidur tepat waktu. Apakah dengan mencabut hak mereka menonton televisi, memotong uang saku mereka, atau konsekuensi lainnya yang mendekati keberhasilan misi Anda?

Suatu hari, sebuah kebenaran terungkap : Anda tidak bisa memaksa anak Anda untuk pergi tidur. Hampiri anak Anda dan katakan,

” Queency, papi harus meminta maaf karena selalu ikut campur pada hal-hal yang seharusnya kamu putuskan sendiri. Kalian harus tidur jam delapan malam, agar besok pagi kamu tidak bangun kesiangan. Sampai jumpa jam enam pagi besok.”

Jika kita marah, berarti kita telah mencuri konsekuensi dari tangan anak. Kita melibatkan diri dalam prosesnya dan mengajarkan logika konsekuensi terhadap anak. Ketika kita menyuruh anak duduk dan mulai berceramah – bahkan dengan bahasa yang paling halus, tentang kesalahan anak dan mengapa dia gagal, berarti kita tengah membelokkan anak dari konsekuensi atas tindakannya kepada diri kita. Kita hanya memperlambat daya konsekuensi bekerja.

Jadi ketika anak membuat kesalahan, kita ber empati dan ikut merasakan sakitnya. Kita tahu bagaimana rasanya, dan kita menyatakan kalimat empati itu dengan penuh kesungguhan. Ketika anak mengutarakan penderitaan atas konsekuensi yang telah mereka pilih, kita harus turut menyatakan keprihatinan kita.

Suatu hari Queency, mendapat nilai 5 untuk nilai Bahasa Sunda, sebagai orang tua saya dihadapkan pada sebuah ujian berat- menyertakan konsekuensi dan empati. Sebagai orang tua saya mendengar suara kecil yang mengatakan,”Ii bisa menjadi kesempatan emas, jangan hancurkan itu dengan menceramahi dia.”

Saya lalu berkata pada Queency,” Aduh, kamu pasti malu dengan nilai itu? Kamu pasti merasa kacau.”

Queency menjadi tenang dan mulai berpikir solusi apa yang harus ia lakukan. Satu prinsip cinta dan logika dalam mendidik anak adalah: Ketika Anda kehabisan kata-kata, pindahkan masalah itu kepada anak, dengan mengajukan sebuah pertanyaan.

Saya lalu bertanya: ”Apa yang akan kamu lakukan Queency?”

Queency dengan sedih menjawab:”Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

Tapi kemudian saya membuat kesalahan dengan mengatakan, ” Karena kamu keberatan untuk belajar, maka kamu tidak boleh pergi ke bioskop hari Sabtu ini.”

“Apa maksud papi, aku tidak boleh pergi ke bioskop?” Queency berteriak,”Bukan kesalahanku mendapat nilai 5.”

Papi sebaiknya tahu apa yang Ibu guru ujikan, papi tidak pernah membantuku atau menemaniku belajar, ini tidak adil.”

Kemarahan adalah emosi negatif yang paling mudah diundang terutama ketika kita berhadapan dengan anak. Sedangkan hukuman membuat kita merasa berkuasa. Itu membuat kita berpikir bahwa anak berada di bawah kendali kita. Padahal hukuman dan kemarahan bersinergi membentuk duet yang mematikan, bagi orang tua, dan sifatnya adalah kontra produktif atau tidak menyelesaikan masalah yang ada.

Seluruh pelajaran yang diserap Queency hancur karena kemarahan saya yang diiringi hukuman. Agar konsekuensi memberikan manfaat , kita harus menunjukkan simpati terhadap apa yang dialami anak. Bukannya berteriak kepada mereka. Ketika kita menunjukkan keprihatinan, anak tidak dapat menemukan orang yang menjadi sasaran kecuali dirinya sendiri. Selamat belajar berempati untuk anak Anda.

About Bas