Peluang Bisnis Wisata Halal di Indonesia

Gencarnya pemerintah menggalakkan wisata halal di tanah air ternyata cukup banyak membuka peluang bisnis wisata halal.

Dengan jumlah penduduk yang mayoritas muslim, maka fakta ini akan semakin mendorong para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis dalam wisata halal yang tidak hanya menargetkan wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan asing. Apalagi diketahui bahwa perkembangan wisata halal di Indonesia sudah mencapai 42 % dimana target kunjungan untuk tahun ini sebelumnya adalah 5 juta pelancong Muslim dunia, dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 3,5 juta.

Buktinya beberapa minggu lalu, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) telah menentukan sepuluh provinsi yang akan menjadi tujuan wisata halal, termasuk Kepulauan Riau, Aceh, Sumatera Barat,  DKI (Daerah Khusus Ibu Kota) Jakarta, Jawa Tengah (jateng), Jawa Barat (jabar), Yogyakarta, Jawa Timur (jatim), Sulawesi Selatan dan NTB (Nusa Tenggara Barat).

Tidak hanya itu, bahkan pemerintah juga memiliki ambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan wisata halal dunia yang ramah terhadap para pelancong Muslim internasional menurut versi Global Muslim Travel Index (GMTI) untuk tahun 2019.

Wisata halal indonesia.
Wisata halal indonesia (sumber: republika.co.id)

Terkait hal ini, Pemerintah berambisi untuk tidak lagi menjadi pemain dalam lingkup kawasan saja, akan tetapi juga dunia, yang diharapkan mampu melampaui posisi negara tetangga Malaysia yang selama ini diketahui selalu merajai puncak destinasi wisata halal dunia. Apalagi diketahui berdasarkan data-data statistik yang ada, diperkirakan pada tahun 2026 nanti, total belanja wisatawan Muslim akan mencapai 300 miliar dollar AS. Tentu ini akan menjadi peluang usaha yang menggiurkan dari wisata halal.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Global Islamic Economy (GIEI) tahun lalu, ada setidaknya lima negara Muslim yang paling banyak menyumbang jumlah wisatawan bernuansa halal secara umum yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan terakhir Indonesia.

Peluang Besar Bisnis Wisata Halal di Indonesia

Sesungguhnya Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk memperoleh para wisatawan Muslim asing sebanyak-banyaknya. Selain dikarenakan keindahan alamnya yang mempesona serta ragam budaya yang ada, para penduduk Indonesia pun dikenal sangat ramah dan mudah tersenyum.

Maka tak mengherankan, berbagai penghargaan internasional pernah diraih bidang pariwisata Indonesia, sebagai contoh Hotel Sofyan yang berada di Jakarta pernah meraih penghargaan untuk kategori Hotel paling ramah se-dunia berbasis syariah pada penyelenggaraan The World Halal Travel Summit & Exhibition di kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Untuk mewujudkan impian tersebut, selain diperlukan adanya perbaikan infrastruktur untuk merealisasikan dan memudahkan konektivitas antar tujuan, juga perbaikan kualitas pelayanan pun harus ditingkatkan. Tentunya pemerintah harus melibatkan semua unsur pelaku usaha/bisnis dan para pemangku kepentingan lainnya seperti Masyarakat Ekonomi Syariah, Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia serta Majelis Ulama Indonesia dan kaum intelektual dan media.

Sertifikasi  Halal

sertifikasi halal MUI.
Sertifikasi halal MUI (sumber: antaranews.com)

Meskipun demikian, salah satu tantangan dalam mengembangkan bisnis wisata halal di Indonesia adalah masih kurang tersedianya fasilitas dan akomodasi termasuk hotel, restoran bahkan transportasi yang memiliki sertifikasi halal. Padahal sertifikasi halal merupakan elemen kunci untuk mampu menarik para wisatawan Muslim yang sangat memberikan perhatian lebih kepada produk-produk halal. Dengan adanya sertifikasi halal, diharapkan para pelancong Muslim tak perlu lagi merasa was-was dan khawatir.

Selain itu berdasarkan satu catatan, paket wisata halal di Indonesia hanya mengisi 5% dari jumlah paket wisata yang ditawarkan kepada para pelancong lokal dan asing. Itu pun masih terfokus kepada destinasi-destinasi populer di tanah air seperti Medan, Lombok dan pulau Bali.

Nah secara membanggakan, rupanya destinasi pulau Lombok telah sukses merebut predikat tujuan wisata paling penting di dunia selama dua tahun berturut-turut (2015-2016) pada penganugerahan World Halal Travel Awards. Artinya kepercayaan masyarakat Muslim dunia yang besar terhadap destinasi wisata Indonesia, seharusnya dapat mendorong para pemangku kepentingan dalam bidang wisata di tanah air untuk lebih meningkatkan jumlah paket wisata halal.

Promosi Bisnis Wisata Halal

Di samping tantangan-tantangan yang disebutkan di atas, tantangan berikutnya adalah sangat minimnya penyelenggaraan promosi wisata halal ke seluruh dunia. Selama ini, promosi wisata halal disatukan dengan promosi wisata secara umum. Namun pemerintah Indonesia pernah melakukan gebrakan-gebrakan promosi wisata halal terutama pada Internationale Tourismus Borse (ITB) Asia pada Oktober tahun lalu yang diselenggarakan di Singapura. Namun hal ini dirasa masih kurang, karena promosi harus dilakukan secara berkesinambungan sambil terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas untuk menunjang pengembangan wisata halal.

Payung Hukum Bisnis Wisata Halal

Namun rupanya tantangan  paling utama yang harus segera dibenahi adalah ketiadaan payung hukum atau peraturan yang mengatur secara lengkap mengenai bisnis wisata halal di Indonesia.

Uniknya, seperti yang mungkin diketahui bersama, Indonesia dikabarkan pernah memiliki Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No 2 yang dikeluarkan lima tahun silam mengenai pedoman penyelenggaraan usaha hotel Syariah. Akan tetapi sayangnya peraturan tersebut dihilangkan dan diganti dengan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 11 tiga tahun silam.

Bisnis wisata halal di Indonesia hanya memiliki payung hukum yang tidak mengikat berupa Fatwa MUI nomor 108/DSN-MUI/10/2016  mengenai Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Berdasarkan Syariah yang mengatur mengenai pengadaan biro travel, pemandian uap, spa dan pijat serta kehalalan objek wisata.

Tentu saja, perspektif sebagian masyarakat Indonesia yang masih menganggap bahwa peluang bisnis wisata halal itu tidaklah terlalu menjanjikan, harus pula diminimalisir sedemikian rupa. Selain itu, masyarakat harus diberikan pengetahuan mengenai bisnis tersebut secara mendalam dan bertahap agar di kemudian hari mereka dapat bersinergi dan berkoordinasi dengan pemerintah lokal dalam mengembangkan bisnis pariwisata halal di tanah air.

Penulis: Sugiri Plara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *