Setiap anak selalu ingin bermain. Bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan. Hampir tidak ada permainan yang membuat anak tidak bergembira. Kadangkala, ia berlama-lama dalam satu permainan, pada saat yang lain ia melakukan permainan tersebut sebentar saja.

Bermain dapat dilakukan anak-anak dengan atau tanpa alat permainan. Anak dapat mengunakan segala sesuatu yang ada di dekatnya untuk bermain atau ia bermain dengan dirinya sendiri. Misalnya : dengan rambutnya, dengan jari-jari tangannya, dan lain-lain. Anak bebas melakukan apa pun dalam sebuah permainan.

Dalam bermain anak melakukan berbagai kegiatan yang berguna untuk mengembangkan keterampilan dirinya. Anak mengamati, mengukur, membandingkan, berekplorasi, meneliti, mencium, meraba, mendengar, dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh anak. Situasi dalam permainan tanpa disadari melatih dirinya dalam beberapa kemampuan tertentu sehingga ia secara tak langsung memiliki keterampilan yang baru.

Bermain adalah peluang bagi anak untuk melakukan berbagai hal. Situasi inilah yang membuat anak bermain sambil belajar. Dengan demikian bermain adalah cara keren anak dalam belajar: tentang apa saja, belajar tentang objek, kejadian, situasi, dan konsep (misalnya: lingkaran, halus, kasar, lunak, keras, pendek, tinggi, harum, tumpul, tajam, dan lain-lain). Mereka juga melatih koordinasi berbagai otot gerak misalnya otot jari.

Karl Groos mengemukakan bermain merupakan proses persiapan diri untuk menyandang peran sebagai orang dewasa. Schiller dan Spencer bilang bahwa bermain merupakan wahana untuk menggunakan energi yang berlebih sehingga anak terlepas dari tekanan. Bermain merupakan proses belajar baik disadari anak atau tidak, anak telah mempelajari sesuatu yang berguna bagi hidupnya.

Bermain bagi anak merupakan sebuah kebutuhan. Dari hasil penelitian Universitas Indonesia (tahun 1981) menunjukkan bahwa anak yang waktunya lebih banyak tersita untuk belajar secara formal, lebih pintar di TK, dan kelas 1,2,3. Setelah itu menjadi tidak pintar lagi di kelas yang lebih tinggi. Sebaliknya, anak yang kebutuhan bermainnya tercukupi, makin tumbuh dengan memiliki keterampilan mental yang lebih tinggi, sehingga menjadi lebih mandiri (jika dibandingkan dengan anak yang waktunya tersita menekuni pelajaran formal).

Bermain sebagai pendekatan pembelajaran, harus memerhatikan semua aspek dalam bermain. Permainan yang akan dilakukan harus direncanakan agar dapat membawa anak kepada situasi yang merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan kata lain. Bermain membantu anak membentuk kemampuan yang lebih terarah dan mendasar.

Contoh permainan anak adalah :

  • galah asin.
  • petak umpet.
  • origami.
  • mengambar.
  • belajar mengunting dan menempel.
  • memanjat.
  • berlari.
  • naik sepeda.
  • bermain bola.
  • kolase.
  • mozaik.
  • montase.
  • mewarnai.
  • melukis dengan jari (finger painting).
  • meronce.
  • membatik.
  • bermain plastisin.
  • menyanyikan lagu anak-anak.
  • meniru gerak binatang, tanaman, dsb.
  • bermain gelembung sabun.
  • bermain game online.
  • membuat pizza.
  • bermain plastisin.
  • bermain kolase.
  • dan lain-lain.

Anda punya pendapat berbeda tentang cara bermain sambil belajar? Silahkan tinggalkan pesan Anda di kolom komentar.

Referensi: Penilaian Perkembangan Belajar Taman Kanak-kanak, DFr. Anita Yus, M.Pd., Kencana Prenada Media Groups, Februari 2011.