Thursday , October 22 2020

Benarkah WiFi Dapat Menyebabkan Kemandulan

WiFi, Wireless Fidelity, adalah teknologi untuk membagi jaringan internet tanpa kabel, atau lebih tepatnya hanya memanfaatkan gelombang nirkabel (gelombang radio) dalam pertukaran datanya. WiFi termasuk koneksi berkecepatan tinggi yang didefinisikan sebagai produk jaringan wilayah local nirkabel, berdasarkan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE).

Zaman sekarang, hampir di setiap bangunan, baik itu toko, sekolah, kantor dinas, tempat les, bahkan warteg sekalipun, semuanya memakai WiFi. Alasannya pasti beragam. Untuk sekolah, kantor dinas, maupun tempat bimbel, alasannya agar para murid-murid, Pegawai Negeri Sipil, dan para CS (Customer Service) lebih mudah mengakses berbagai macam info dan meringankan pekerjaan mereka. Adapun untuk restoran sampai ke warteg, mereka membukanya untuk menarik pelanggan. Dengan password tertentu, tentunya mau tidak mau orang tersebut diharuskan merogoh kocek, semata-mata hanya untuk menanyakan password WiFi saja.

WiFi memang bisa membuat penyakit baru. Contoh saja di Amerika dan Swiss. Ketika senja akan tiba, mereka semua berbondong-bondong pergi ke tempat umum. Mengajak para temannya, para saudaranya, bahkan kekasih mereka. Namun, bukan untuk dinner atau sekedar mengobrol-ngobrol saja. Tapi, untuk ber-WiFi ria. Mereka bahkan rela duduk di hamparan karpet restoran, di luar bangunan, juga di tempat-tempat yang dekat dengan sumber WiFi tersebut. Internet, apalagi WiFi yang mudah tersebut memang menjadi kegemaran banyak orang.

WiFi seperti sudah dijelaskan diatas, merupakan pancaran dari gelombang nirkabel. Nah, gelombang nirkabel alias gelombang radio ini disinyalir kuat menjadi factor para si pengguna WiFi menjadi tidak sehat. Para dokter bersama fisikawan baru-baru ini membeberkan keburukan WiFi bagi kesehatan.

Kata mereka, WiFi mempunyai frekuensi radio dan medan elektromagnetik yang kuat. Sehingga bisa menyebabkan radiasi untuk organ-organ tubuh manusia, baik luar maupun dalam. Beberapa gejalanya seperti insomnia, Alzheimer yang merupakan penyakit kepikunan, kelelahan, dan sakit kepala. Di kondisi yang lebih serius, bahkan para pengguna WiFi yang masih berusia muda alias remaja, bisa mengalami tumor otak, menyebabkan kemandulan, dan penyakit saraf seperti autisme.

Kini, tak sedikit anak-anak yang sering mengeluhkan rasa sakit seperti itu, padahal mereka tidak melakukan sesuatu yang dinilai berbahaya. Tapi, pada akhirnya, mereka sering merasakannya. Kelelahan, saraf-saraf otak yang meregang, ruam-ruam yang muncul di bagian tubuhnya sudah menunjukkan keanehan dari aktivitas mereka sehari-hari. Dan dalam sebuah percakapan, orangtua yang memiliki anak kecanduan WiFi ini juga mengeluhkan hal yang sama, pembaca.

Meskipun belum ada bukti ilmiah atau penelitian yang menunjukan bahwa WiFi bisa menyebabkan penyakit-penyakit diatas, menurut para dokter dan para ahli, sebaiknya kita harus bisa mengatur kapan saja kita bisa menggunakan WiFi, dan berapa lama kita harus menggunakan WiFi. Bukan rahasia lagi jika radiasi memang menyebabkan kelumpuhan salah satu komponen penyusun keberlangsungan organ dalam makhluk hidup. Kemoterapi yang menggunakan berbagai macam kabel dan dirancang dengan prinsip-prinsip Fisika, juga bisa menyebabkan kerontokan pada si pengguna. Sekalipun meminimalisir sel-sel kanker yang tumbuh melalui alat canggih, nyatanya Kemoterapi mengorbankan sesuatu yang dimiliki seseorang.

Wah, patut diwaspadai, ya, pembaca. Memang, belum ada data yang pasti tentang itu semua. Namun, ada baiknya seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Lagipula, apakah beban tubuh kita tidak akan bertambah banyak dan penyakit pasti akan berdatangan jika kita hanya diam saja sembari terus-terusan menatap layar laptop, dimana kita sedang browsing menggunakan WiFi atau koneksi internet lainnya?

Ayo, atur hidup yang seimbang dan berkembang. Memakai boleh, asal jangan berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan, pasti tidak baik dan memberikan kesengsaraan.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *