Thursday , October 29 2020

Banda Neira, Pulau Pengasingan Bung Hatta

Belanda sengaja mengasingkan Bung Hatta dan Bung Syahrir di tempat yang indah ini agar sikap mereka terhadap mereka melunak. Tapi upaya Belanda ini gagal, “ujar Meutia Hatta, putri sang wakil Presiden pertama Indonesia itu. Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau utama di kepulauan Banda sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Kecamatan Banda memiliki 12 pulau dengan luas total sekitar 172 kilometer persegi.

Rumah Budaya Banda Neira

Hampir tidak ada mobil di sini, apalagi bensin di sini sering langka. Tetapi berjalan kaki menelusuri Neira adalah pengalaman yang menyenangkan. Jalanan bersih dan asri, di kiri kanan jalan berderet bangunan bergaya kolonial. Dua puluh lima meter dari pelabuhan terdapat Rumah Budaya Banda Neira. Di museum itu tersimpan berbagai jenis peninggalan zaman kolonial, dari meriam berbagai ukuran sampai tembikar.

Rumah Pengasingan Bung Syahrir

Di samping kanan bangunan itu terdapat rumah pengasingan Bung Syahrir. Rumah bergaya Hindia Belanda yang memadukan arsitek kolonial dan tropis ini memiliki langit-langit tinggi dengan enam tiang penyangga berbentuk bulat, berjendela besar, dan beratap agak curam. Ruang utamanya luas diapit kamar tidur dan ruang kerja. Di sana terdapat gramofon kuno lengkap dengan piringan hitam berlabel Daphnis dab Chloe Suite Symphonique produksi Colombia. Kamar Bung Syahrir menyimpan lemari kayu berisi sejumlah buku catatan, alat tulis, pakaian, hingga surat pengangkatan sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekarno.

Rumah Pengasingan Bung Hatta

Tidak jauh dari sana, yaitu dengan berjalan kaki 10 menit, terdapat rumah pengasingan Bung Hatta. Rumahnya besar, terdiri atas bangunan utama di depan, dan bangunan tambahan di belakang. Bung Hatta menyewa rumah itu dari orang Belanda pemilik perkebunan pala bernama De Vries senilai 10 gulden. De Vries bersedia menyewakan rumah itu dengan harga murah karena konon berhantu. Untuk mengabadikan kenangan “manis” itu Nama Bung Syahrir dan Bung Hatta diabadikan sebagai dua buah nama pulau di Banda Neira.

Istana Mini Neira

Seratus meter dari rumah pengasingan Hatta, berdiri bangunan istana Mini Neira, tempat tinggal pemimpin VOC, yang arsitekturnya mirip Istana Bogor. Di depan istana terhampar Neira yang menghadap Pulau Bana Besar. Di pantai Neira itu dulu Bung Hatta dan Bung Syahrir ditemani anak-anak kerap berenang. Pantainya bersih dan memiliki terumbu karang dangkal. Tapi banyak bulu babi.

Benteng Belgica

Objek wisata lainnya adalah benteng berbentuk pentagon yang berdiri gagah di puncak dataran Banda Neira, hanya 300 meter dari pelabuhan. Luas benteng bernama Belgica itu sekitar 2.000 meter persegi dengan tinggi sepuluh meter. Bagian atas benteng dilengkapi meriam di setiap sisinya. Belanda membangunnya dari bekas benteng Portugis pada abad ke-16. Benten ini hancur, namun pemerintah merenovasinya pada tahun 1991.

Dari Neira, kami ke Banda Besar. Pulau terbesar di banda itu memiliki puluhan hektar kebun Pala yang dipayungi pohon-pohon kenari raksasa berusia ratusan tahun. Di sana Belanda membangun dua benteng. Pertama Benteng Concordia di Desa Waer. Benteng kedua adalah Benteng Hollandia, di Desa Lonthoir. Untuk menuju ke Banda Neira Anda dapat naik pesawat dari Ambon ke Banda Neira, lama penerbangan hanya satu jam saja. Selamat menikmati perjalanan Anda.