Setiap orang tua memiliki pola pengasuhan yang berbeda. Pola pengasuhan ini mereka dapatkan berdasarkan warisan orang tua mereka, atau berdasarkan informasi yang mereka dapat dari buku atau media pembelajar lainnya. Toge Aprilianto, M.Psi seorang psikolog membagi 6 cara dalam melakukan parenting, yaitu:

Pertama, Saat ini bukan jamannya lagi ada pemisahan tanggung jawab dan kewenangan antara suami dan istri, berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan anak. Pola pengasuhan lama menyatakan bahwa ibu mengasuh dan mendidik anak, sedangkan ayah bertugas mencari uang. Ayah dan Ibu harus bekerja sama dalam mendidik anak. Tanggung jawab dan kewenangan dalam mendidik anak juga merupakan tanggung jawab bersama. Ayah bekerja mencari uang, dan membantu pekerjaan rumah tangga ibu, serta mengasuh anak di sela-sela kesibukannya. Ia harus berperan sebagai ayah, pencari nafkah (pekerja), dan suami yang baik.

Kedua, Tugas ayah dan ibu adalah membantu anak-anak untuk belajar. Jadi pastikan kita menyediakan fasilitas untuk membantu proses belajar anak, bukan memberikan fasilitas agar anak terhindar dari kesulitan. Jika ayah dan ibu selalu siap sedia membantu, anak akan manja dan tidak bisa melakukan apa pun. Saya pernah melihat seorang ibu meminta penjaga warnet mengerjakan tugas sekolah anaknya. Anak malang itu kehilangan kesempatan belajar dan terlena dalam kemalasannya.

Ketiga, Kita perlu membangun pola pengasuhan pendidikan dalam struktur yang horinzontal atau sejajar. Anak-anak harus diperlakukan adil, sehingga mereka akan memperlakukan orang lain dengan konsep kesetaraan. Ayah dan ibu boleh dikritik jika mereka keliru, dan pendapat anak juga harus didengarkan.

Keempat, Berperanlah sesuai kebutuhan anak. Berikanlah teladan, bantulah ia belajar dan berperanlah sebagai sahabatnya, bila anak memerlukan pendapat berilah saran terbaik dan jangan terlalu pagi menghakimi.

Kelima, Ayah dan ibu harus berani meminta maaf kepada anak, kalau melakukan kesalahan kepada anak dan membuatnya dalam situasi yang dirugikan. Bila ayah dan ibu enggan meminta maaf, anak akan cenderung meniru dan sulit meminta maaf. Maaf adalah kata-kata yang paling sulit diucapkan, kecuali bagi mereka yang berjiwa besar.

Keenam, Pastikan kita sudah selesai menjadi anak-anak, agar kita tidak terjebak di dalam strategi kekanak-kanakan. Sifat ini tampak dalam bentuk ingin menang sendiri, selalu memaksakan kehendak. Kita seperti orang anak-anak yang terkurung dalam tubuh orang dewasa. Masih berkutat pada pola pikir “enak vs tidak enak” dan belum mengerti konsep “perlu vs tidak perlu.”

Anak-anak memang belum mengerti konsep “perlu vs tidak perlu” sehingga perilakunya cenderung didasari tujuan mendapatkan yang enak dan menghindari yang tidak enak. Itu sebabnya mereka suka memaksakan kehendaknya, dan tidak mau mengerti kepentingan orang lain. Jika Anda sudah selesai jadi anak-anak, artinya kita sudah cukup dewasa, maka kita memahami dan tidak terus menerus memaksakan kehendak.