Memang wajar kalau kadang-kadang anak bikin orang tuanya naik darah. Akan tetapi jika keadaan yang sama terus terulang, maka orang tua sebaiknya tidak tinggal diam.

Para ahli kemudian menjabarkan apa saja ciri-ciri perilaku anak yang tidak boleh dibiarkan begitu saja, beberapa adalah:

  • Bila itu membuat Anda khawatir selama sebulan belakangan atau lebih
  • Anda merasa tidak dapat mengontrol situasinya.
  • Orang sekitar menderita akibat kelakuan si kecil.
  • Perilaku si kecil berubah drastis tanpa alasan jelas. Contoh, jika ia mulai kasar/ kejam pada temannya, maka ini saatnya untuk bicara dengan mereka.
  • Buah hati mulai mengalami masalah di sekolah, misalnya nilainya menurun, konflik atau berkelahi dengan teman, hingga bolos.
  • Si kecil mengalami gangguan tidur, makan, atau lainnya.

Di samping itu, masih ada adalah beberapa ciri lainnya yang patut diperhatikan:

1. Tidak dapat memaafkan

Setiap anak perlu tahu bagaimana cara mengatasi situasi tak menyenangkan. Kebanyakan orang tua biasanya mengajarkan untuk meredam emosi negatif yang mereka rasakan. Pada kebanyakan kasus, sebenarnya lebih baik untuk ‘melampiaskan’ itu.

Memendam perasaan negatif hanya mengubah si kecil jadi pendendam.

Untuk mengatasinya, pastikan ia mengerti apa itu memaafkan. Jadilah teladan bagi mereka. Ajari mereka menganalisa perasaan sendiri sekaligus perasaan orang lain juga, guna mencari tahu penyebab konflik. Jelaskan pada mereka bagaimana cara keluar dari situasi tak menyenangkan.

2. Tak bertanggung jawab

Apakah si kecil lebih suka melemparkan kesalahan pada orang lain atau situasi yang sedang terjadi?! Jika ia terus-menerus bersikap demikian, segeralah lakukan sesuatu. Ajari buah hati untuk bertanggung jawab mulai dari hal-hal kecil.

Contoh, jika ia menyalahkan batu di depannya yang membuat kakinya tersandung, jelaskan bahwa dari tadi batu itu sudah ada di sana. Batu itu tak bisa bergerak untuk menghindari kaki, jadi kakilah yang harus cekatan menjauhinya.

3. Keras kepala berlebihan

Memang bagus kalau buah hati memegang teguh prinsipnya, namun mereka juga perlu diajari bahwa adakalanya kompromi itu diperlukan. Orang tua sebaiknya membantu buah hati mengembangkan kemampuan ini selagi ia masih kecil karena bila sudah remaja atau dewasa, akan lebih sulit untuk mengubahnya.

Guna mencapai gol tersebut, pertama-tama pahami perasaannya dan temukan alasan di balik sikap keras kepalanya. Ajari buah hati untuk memahami perasaannya sendiri, dan juga perasaan serta motif orang lain. Beritahukan padanya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Berhentilah memohon, berbantah-bantah, menyogok, menyalahkan, dan lain sebagainya. Tetaplah tenang dan to the point, namun jangan lupa juga untuk berkompromi juga, misalnya “kamu boleh makan kue setelah menghabiskan sup ini” – lebih baik ketimbang sekedar melarang saja(“tidak boleh, nanti kuenya bikin kamu kekenyangan”).

4. Memanipulasi

Kadang buah hati juga bisa memanipulasi demi memperoleh yang diinginkan. Mereka mungkin akan menangis atau berteriak saat jalan di mall, atau lainnya. Tapi mereka perlu tahu bahwa mereka takkan memperoleh apapun dengan bersikap demikian.

Coba cari tahu lebih dulu alasan si kecil memanipulasi, bisa jadi karena kurang perhatian. Jika mungkin ini alasannya, luangkan lebih banyak waktu untuknya. Sekali lagi, tetaplah tenang, hindari berteriak atau mengancam – walau sulit, namun pendekatan ini sangat efektif.

5. Takut perubahan

Untuk yang masih kecil, orang tua disarankan tetap konsisten dalam melakukan sesuatu. Namun anak yang lebih tua mesti belajar menerima perubahan dan beradaptasi dengan itu.

Jadi kalau si kecil yang baru masuk TK misalnya, tiba-tiba menangis hanya gara-gara posisi pensil dalam kotaknya terbalik, maka jangan anggap ini lucu atau konyol.

Jelaskan padanya soal kemungkinan terjadinya perubahan dan apa yang akan terjadi. Kendalikan emosi Anda karena buah hati sangat mudah membaca bahasa tubuh.

Carikan dia teman karena lebih mudah menghadapi tantangan bersama orang lain (ketimbang sendirian). Bicarakan soal perasaannya sehingga ia tahu ia dihargai. Ingat, si kecil belum pernah jadi dewasa jadi perubahan sekecil apapun bisa sangat menantang untuk mereka.

6. Buru-buru

Ada kalanya buah hati berbicara atau bersikap tanpa berpikir dulu soal konsekuensinya. Dalam kasus semacam ini, orang tua harus mengajari buah hati soal risiko yang mungkin timbul.

Tetap tenang ketika menasihatinya. Ajak si kecil menganalisa tindakannya dan selidiki alasan mereka melakukan itu. Tanyakan kira-kira apa saja konsekuensi yang mungkin timbul.

Selain itu, ajari si kecil untuk menguasai diri, tetapkan aturan tertentu agar ia tak lagi bertindak tanpa berpikir, dan jangan segan memujinya bila ia mengikuti aturan.

7. Tidak mampu menghibur diri sendiri dengan cara yang benar

Psikolog anak asal Rusia, Katerina Murashova mengadakan percobaan dimana 68 remaja (12-19 tahun) diminta menghabiskan waktu 8 jam sendirian tanpa teman maupun gadget. Tragisnya, hanya 3 remaja yang berhasil mengisi waktu dengan ‘cara’ yang tepat.

Tak seperti bayi, anak yang usianya lebih besar seharusnya dapat mendukung dirinya sendiri. Bila ia tak mengembangkan kemampuan ini, ia takkan bisa berkonsentrasi dengan perasaannya karena segala sesuatu pasti akan mengganggunya. Inilah alasan mengapa ada orang dewasa yang panik hanya gara-gara hal sepele.

Sekali lagi, dekati buah hati, ajak bicara dan habiskan waktu bersama mereka. Batasi waktu penggunaan gadgetnya. Arahkan ia untuk mengetahui hobinya (sesuatu yang tak berkaitan dengan gadget atau komputer) dan hal-hal yang tidak disukainya.

Terakhir, bila Anda merasa segala upaya di atas tidak membuahkan hasil, maka jangan segan bawa si kecil ke psikolog. Lebih baik ditangani segera daripada terlambat kan?!