Tuesday , October 20 2020

Alasan Suami Istri Kerap Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Pastinya, ketika seorang pria dan wanita memutuskan untuk membina rumah tangga dalam ikatan pernikahan yang sah, maka kehidupan yang diharapkan nantinya adalah kehidupan yang dipenuhi keharmonisan dan cinta kasih. Ibarat syair lagu, hanyalah kematian yang akan memisahkan keduanya di muka bumi. Namun seiring berjalannya waktu, kehidupan yang dinantikan mungkin saja tidak begitu saja secara mudah terwujud akibat kerikil-kerikil tajam yang mengganggu serta mencederai mahligai rumah tangga. Iya, kerapkali rumah tangga dipenuhi dengan percekcokan dan pertentangan yang kemudian berujung dengan perceraian. Sialnya, bumbu-bumbu konflik dalam rumah tangga seringkali dibarengi dengan tindak kekerasan dan pelecehan.

Iya benar, sebagian masyarakat kita di tanah air mungkin saja mengambil langkah-langkah kekerasan untuk mencoba meredam konflik dan pertengkaran. Mereka berfikir, dengan tindakan-tindakan yang melukai pasangan hidupnya secara fisik dan psikologis tersebut akan dapat memecahkan permasalahan rumah tangga, akan dapat mengenyahkan problem-problem tersebut untuk sementara, sehingga hampir bisa dipastikan rumah tangga yang dibangun akan jauh dari kesan harmonis dan toleran. Suami tidak lagi betah berlama-lama di rumah, sementara sang istri akan hidup dalam ketakutan dan trauma. Dalam hal ini, anak-anak pastilah akan menjadi korban kenaifan cara berfikir dan keegoisan kedua orang tua mereka. Tidak hanya berujung perceraian, kekerasan dalam rumah tangga akan memiliki dampak hukumnya.

Lantas, alasan-alasan apa saja yang membuat pasangan suami istri kerap melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Berikut ulasan-ulasannya :

1. Faktor ekonomi

Berdasarkan pernyataan yang pernah disampaikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia atau yang lebih disingkat dengan Kemenpppa RI, seorang istri yang memiliki tingkat kesejahteraan secara ekonomi lebih rendah, akan lebih rentan menjadi korban KDRT.  Nah, aspek ekonomi ini biasanya menjadi lebih dominan dari aspek pendidikan itu sendiri, artinya, seorang perempuan yang memiliki pendidikan lebih rendah, belum tentu menjadi korban KDRT.

Di tanah air sendiri, ada stigma yang masih berkembang dalam masyarakat bahwa istri tidak perlu bekerja mencari nafkah di luaran, karena itu akan menjadi tanggungan serta kewajiban suami. Akibatnya, istri akan lebih bergantung kepada setiap pemberian nafkah dari suami, yang naasnya akan membuat si suami lebih bersikap posesif kepada istri. Fakta itulah yang kemudian mendorong sang suami untuk melakukan tindakan kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Tidak hanya itu, ternyata ada fakta yang terungkap bahwa seorang wanita yang memiliki suami menganggur, akan berisiko mengalami kekerasan 1,36 kali lebih besar jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki suami yang bekerja.

2. Faktor Pasangan

Nah ternyata kekerasan dalam rumah tangga pun akan berpulang kepada faktor kepribadian, karakter, perilaku suami dan istri itu sendiri. Artinya, seorang suami yang berselingkuh dengan perempuan lainnya, kemungkinan untuk melakukan KDRT terhadap istri akan lebih besar, begitu juga sebaliknya. Tidak hanya itu, suami yang kerap mengkonsumsi minuman-minuman keras, akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga kepada istrinya. Selain itu nampaknya suami pecandu narkoba akan memiliki kemungkinan melakukan kekerasan lebih besar kepada istrinya.

Dari sinilah, faktor kejujuran dan keterbukaan sangat diperlukan untuk mengembalikan suasana rumah tangga yang sempat memanas ke suasana yang lebih toleran.

3. Faktor Rasa Cinta Yang Tidak Terkendali

Mengingat hampir sebagian besar korban KDRT adalah pihak perempuan, maka sang istri yang terlalu mencintai suaminya, akan berusaha memendam rasa sakit akibat perlakuan kasar sang suami demi menyelamatkan mahligai rumah tangga. Dalam hal ini, istri akan lebih memilih untuk bersabar dan tabah menjalani meski KDRT kerap menimpa dirinya.

Cinta itu seringkali membutakan mata hati sang istri selaku korban yang biasanya enggan untuk melaporkan tindakan kekerasan sang suami, padahal menariknya KDRT itu telah berlangsung cukup lama. Akibat cinta yang tidak terkendalikan, bahkan ada juga yang lebih baik memendam rasa sakit di hati ketika melihat serta mendengar kabar perselingkuhan suaminya dengan orang lain. Bagi istri yang terlalu mencintainya, yang penting suaminya adalah suami sah bagi dirinya.

4. Pendidikan yang kurang berimbang antara suami dan istri

Meskipun kemungkinan untuk melakukan tindakan KDRT lebih kecil dari faktor ekonomi, akan tetapi istri yang memiliki jenjang pendidikan lebih rendah, akan lebih mungkin menerima perlakuan kasar dari sang suami. Apalagi suami yang jahat akan serta merta merasa yakin bahwa istrinya tidak mungkin melaporkan berbagai tindakan kekerasannya kepada pihak berwajib.

Selain itu ketidakseimbangan pendidikan suami istri ini akan lebih membuat si istri yang berpendidikan lebih rendah terkungkung dalam ketidaktahuan. Dia akan bingung harus melangkah kemana dan berkonsultasi kepada siapa dalam meredam berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sang suami.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *