Saturday , October 24 2020

Adat Pernikahan di Korea Selatan

Setiap negara pasti memiliki adat pernikahan masing-masing, tidak terkecuali adat yang kompleks seperti di Negara Korea Selatan ( South Korea ). Bagaimana adat pernikahan di Korea Selatan?

UNDANG-UNDANG PERNIKAHAN DI KOREA SELATAN

Pernikahan di Korea Selatan memiliki keunikan dan berbeda dari pernikahan barat pada umumnya. Tidak ada penggunaan nama suami setelah menikah. Pernikahan dapat dilangsungkan bila seorang laki-laki telah berumur 18 tahun dan perempuannya berumur 16 tahun di bawah pengawasan. Dan jika telah berumur lebih dari 20 tahun maka pernikahan boleh dilakukan tanpa pengawasan.

Pada awalnya, pernikahan dengan marga yang sama, contohnya Kim dengan Kim, dilarang oleh pemerintah dan termasuk ke dalam kategori eksogami. Namun sejak undang-undang tentang pernikahan tersebut diamandemen, masyarakat Korea boleh menikah dengan sesama marganya. Pengantin pria dan wanita mengenakan busana formal pernikahan saat menikah.

Prosesnya, pengantin pria akan datang ke kediaman pengantin wanita dengan mengendarai kuda lalu membawa pengantin wanita dengan palanquin ke tempat tinggal orang tua sang pria untuk selanjutnya menetap di sana. Pada malam sebelum pernikahan berlangsung, lentera akan dinyalakan untuk menerangi perjalanan pengantin pria menuju kediaman pengantin wanita. Pengantin pria juga harus membawa sekeranjang penuh hadiah untuk pengantin wanita. Bebek dalam pernikahan merupakan simbol pernikahan yang awet dan bahagia. Sedangkan burung bangau merupakan representasi dari ikat pinggang pengantin wanita yang berarti kehidupan yang panjang.

BUSANA PENGANTIN DI KOREA SELATAN

Dalam pernikahan, orang biasa diharuskan mengenakan pakaian mewah. Tujuannya untuk menghormati pengantin yang akan melanjutkan kehidupannya. Untuk pengantinnya sendiri, terdiri dari busana untuk wanita dan pria.

Busana untuk wanita terdiri dari Jeogori, yaitu jaket pendek dengan lengan baju panjang, dengan 2 pita panjang yang membentuk Otgereum, kaus kaki katun, Chima atau sepatu adat, ditambah dengan ikat pinggang dan motif bunga-bunga pada pakaiannya. Tidak ketinggalan pula mahkota dan hiasan Hanbok.

Untuk pengantin pria, terdiri dari sebuah Jeogori dan celana panjang serta mantel. Jaketnya memiliki lengan panjang dan celananya berbahan tebal.

Pernikahan di Korea terjadi karena adanya berbagai alasan. Misalnya seperti dijodohkan. Perjodohan di Korea sangat umum terjadi. Orang tua mengatur jodoh anaknya dan pertemuan-pertemuan mereka. Biasanya karena orang tua memiliki pekerjaan atau kedudukan yang sama, makanya mereka ingin menjodohkan anaknya. Ada pula yang terjadi karena murni memiliki rasa cinta satu sama lain. Serta, ada juga yang menggunakan “mak comblang” untuk mencari jodoh, biasanya dilakukan oleh orang tua yang tidak tahan dengan anaknya yang terus-terusan berada di rumah.

SESERAHAN DI ADAT PERNIKAHAN

Satu lagi yang unik dari pernikahan adat Korea Selatan ini, yaitu seserahannya. Ada yang disebut dengan Hahm.

Hahm dibawa oleh kerabat dekat pengantin pria dan akan dibawa kepada pengantin wanita. Para pembawa Hahm akan mengecat hitam wajah mereka lalu berteriak, “Beli hahm, siapa yang mau beli hahm?”. Selanjutnya Hahm tersebut dijual kepada orang tua mempelai wanita lalu menukarkannya dengan uang dan anggur. Hahm tersebut biasanya berisi perhiasan dan kain.

Kemudian ada pula seserahan berupa ramalan kecocokan pasangan, namun tentu saja hal ini tidak serius, ya. Seserahan berupa ramalan ini hanyalah sebagai pelengkap dari rangkaian seserahan yang harus diberikan oleh pengantin pria.

Dan yang terakhir adalah Angsa liar, yang memiliki makna cinta yang sangat dalam. Pengantin pria akan memberikan Angsa liar kepada calon mertuanya. Angsa liar dilambangkan sebagai binatang setia yang hanya berpasangan satu kali seumur hidupnya. Harapannya adalah pasangan pengantin menjadi pasangan yang tahan lama, saling setia dan tidak ada perpisahan diantara mereka kecuali disebabkan oleh kematian. Romantis sekali, ya?

About Bas