Tuesday , October 27 2020

6 Alasan Sistem Pendidikan Timur Mampu Hasilkan Anak Cerdas & Berbakat

Beberapa negara Asia seperti China, Jepang, dan Korea memang terkenal unggul akan sistem pendidikannya. Buktinya, tak sedikit remaja usia 15 tahun dari negara tersebut yang berhasil menunjukkan performa lebih baik di bidang matematika, membaca, dan ilmu pengetahuan (dibanding siswa dari negara lain di seluruh dunia).

Selain menerbitkan anak berbakat dan cerdas, sistem pendidikan Timur juga membentuk mereka menjadi pribadi yang baik dan menghormati orang tua serta budaya. Lantas apa sih rahasianya, kok bisa anak-anak itu tumbuh begitu ‘sempurna’?!

1. Pendidikan bukan hal terpenting dalam hidup

Well, kepercayaan ini setidaknya berlaku selama 2 tahun pertama. Pada masa ini, emosi anak diutamakan. Oleh karenanya mereka selalu dilimpahi kasih dan kepedulian. Kontak fisik juga intens sehingga orang tua sering menggendong anaknya.

Para dewasa di sana percaya anak – usia berapapun – sudah mengerti banyak hal. Walau belum bisa merespon, namun anak dianggap sudah dapat menerima dan menganalisa informasi jauh sebelum dilahirkan. Oleh sebab itu, orang tua selalu berusaha jadi teladan baik bahkan ketika si kecil masih merangkak.

2. Pengalaman pribadi itu penting

Tak seperti sistem Barat, di Timur, orang tua tidak melarang apapun. Kalaupun anak ingin melakukan sesuatu yang berbahaya atau buruk, orang tua biasanya hanya akan mengalihkan perhatian mereka. Anak memang tetap diberitahu soal bahaya atau mengapa hal tertentu mesti dihindari.

Mengapa tidak ada tindakan melarang?! Karena larangan membuat anak berhenti tertarik untuk bereksplorasi. Akibatnya, anak-anak ini jadi lebih kreatif dalam berpikir, mencari solusi, mengikuti aturan, dan menghargai orang yang lebih tua.

3. Tidak egois

Pendidikan Barat mungkin berkata:”jangan menyakiti diri sendiri”. Namun di Timur, mereka mengatakan “jangan sakiti orang lain.”

Sebelum usia 3 tahun, anak tak hanya diajar menghormati orang lain dan binatang, tapi juga mengetahui kebenaran, mengontrol diri, dan peduli pada alam. Anak-anak diasuh sehingga mampu hidup dengan orang lain, membantu mereka, dan tidak egois. Di Jepang misalnya, pendekatan semacam ini dipercaya penting untuk keharmonisan lingkungan sosial dan pemerintah.

4. Anak batita sudah aktif berolahraga dan belajar

Setelah penanaman dasar sopan santunnya, maka anak usia 3 tahun saatnya dibikin ‘sibuk’. Bocah usia sedini ini bahkan dapat mempelajari bahasa Inggris, matematika, menggambar, seni peran, dan menyanyi sekaligus.

Berkat sistem tersebut, semua anak usia 4 tahun mampu memainkan sedikitnya 1 alat musik, dan sudah tahu dasar ilmu matematika maupun bahasa.

Selanjutnya, ketika umur 5 tahun, anak baru dipersiapkan pergi ke sekolah, tempat dimana mereka mulai belajar mengenai ilmu disiplin.

5. Anak SD berangkat sendiri

Di Jepang dan Korea, bocah usia 6 tahun sudah biasa pergi ke sekolah sendiri tanpa diantar orang tuanya. Ketika mulai sekolah, mereka sudah diajari menghitung, menulis, dan membaca buku sederhana. Negara-negara Asia percaya hitung-hitungan di usia awal dapat mengembangkan otak bagian depan dan kreativitas.

6. Bila momennya tiba, anak dapat memilih profesi apa yang ia ingini

Uniknya, anak usia 12-16 sudah dianggap dewasa sehingga mereka bisa mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab untuk pilihannya. Tak seperti di dunia Barat dimana anak tidak diburu-buru untuk memilih profesi jika mereka memang belum siap.

Tentu saja, hubungan keluarga memegang peranan penting di sini. Anak memang masih boleh tinggal dengan orang tuanya selama yang mereka mau. Namun seringkali, pada usia 14 tahun, mereka sudah punya bayangan ’ingin menjadi apa’ dan mampu hidup sendiri. Luar biasa bukan?!

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *