Tuesday , October 27 2020

5 Komplikasi Masuk Angin Yang Rata-Rata Menimpa Anak-Anak

Sama seperti orang dewasa, masuk angin yang tak kunjung sembuh pada anak juga dapat memicu komplikasi. Walau bisa juga menimpa lansia atau mereka yang lemah imunitasnya, tapi beberapa komplikasi masuk angin berikut ternyata lebih sering dialami anak-anak:

1. Infeksi telinga akut (otitis media akut)

Masuk angin dapat menyebabkan lendir tertimbun dan tersumbat di belakang gendang telinga. Ketika virus penyebab masuk angin atau bakteri lainnya masuk ke belakang gendang telinga melalui udara, maka timbullah infeksi. Komplikasi yang umumnya menyerang anak-anak tersebut dapat menyebabkan sakit telinga yang amat sangat. Penderitanya biasanya juga mengeluarkan ingus/ dahak hijau atau kekuningan, dan demam yang kambuh-kambuhan setelah masuk angin.

Seringnya, infeksi telinga ini sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Namun kadang butuh usaha ekstra untuk meredakan gejalanya, misalnya seperti kompres hangat, minum obat acetaminophen atau ibuprofen, serta obat tetes telinga (dengan resep dokter). Pada kasus tertentu, dokter mungkin meresepkan antibiotik, atau operasi saluran telinga untuk menyedot timbunan cairan di dalamnya.

2. Serangan Asma

Masuk angin merupakan salah satu penyebab serangan asma pada anak yang paling umum. Selain itu, gejala masuk angin biasanya juga lebih lama sembuh kalau dialami penderita asma. Gejala asma seperti dada sesak dan mengi (nafas berbunyi).

Anak-anak yang menderita asma disarankan untuk banyak minum dan beristirahat. Orang tua atau pengasuhnya juga mesti berjaga-jaga kalau gejalanya memburuk sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Soal ini, orang tua bisa konsultasi lebih lanjut dengan dokter.

Kunci pencegahan asma akibat masuk angin adalah tahu apa yang harus dilakukan saat serangan datang. Namun segera cari bantuan bila anak terlihat sulit bernafas, tenggorokan sangat sakit, atau muncul gejala pneumonia (radang paru-paru).

3. Infeksi Tenggorokan

Meski orang dewasa juga bisa terkena, tapi infeksi tenggorokan akibat bakteri Streptokokus ini umumnya dialami anak usia 5-15 tahun. Bakteri ini mudah menyebar melalui sentuhan, entah antar-perorangan atau permukaan benda, partikel udara, maupun karena berbagi barang dengan penderitanya.

Gejala infeksi tenggorokan ini meliputi sakit tenggorokan, kesulitan menelan, amandel merah dan bengkak, bercak kecil merah di langit mulut, bengkaknya kelenjar limfa, demam, sakit kepala, lelah, ruam, hingga gangguan lambung atau muntah.

Untuk mengatasinya, perlu kombinasi antara antibiotik dan obat lain seperti acetaminophen atau ibuprofen. Kebanyakan penderitanya merasa baikan dalam waktu 2 hari setelah minum antibiotik, namun teruskan pengobatan sampai habis. Menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya dapat membuat infeksi kambuh, atau menyebabkan komplikasi serius lainnya seperti penyakit ginjal dan demam reumatik.

4. Bronkiolitis

Bronkiolitis merupakan peradangan pada bronkiolus (cabang bronkus). Kadangkala infeksi parahnya disebabkan oleh RSV (respiratory syncytial virus). Komplikasi masuk angin satu ini umumnya menyerang anak yang umurnya di bawah 2 tahun.

Pada beberapa hari pertama, gejalanya mirip masuk angin biasa, termasuk hidung tersumbat atau meler, dan demam. Setelahnya, kondisi seperti mengi, jantung berdebar, atau sulit bernafas mulai muncul.
Pada bayi sehat, kondisi ini rata-rata tak butuh perawatan khusus karena bisa hilang dalam 1-2 minggu. Namun penanganan dokter diperlukan kalau bronkiolitisnya menyerang bayi prematur atau yang sedang sakit. Semua orang tua diimbau segera mencari pertolongan bila anak mengalami gejala:

  • Nafasnya pendek dan sangat cepat (lebih dari 40 nafas/ menit)
  • Kulit membiru, khususnya di area bibir dan kuku
  • Harus didudukkan agar dapat bernafas
  • Sulit makan atau minum akibat sulit bernafas
  • Mengi

5. Croup

Croup ditandai dengan batuk keras yang kedengarannya seperti anjing laut menyalak. Gejala lainnya adalah demam dan suara serak. Walau dapat diatasi dengan obat pereda rasa sakit, namun orang tua sebaiknya tetap memeriksakan buah hati ke dokter. Segeralah cari pertolongan medis jika anak mengalami gejala:

  • Mengi keras ketika menarik nafas.
  • Kesulitan menelan.
  • Ngiler berlebihan.
  • Mudah marah.
  • Sukar bernafas.
  • Kulit biru atau abu-abu di sekitar hidung, mulut, atau kuku.
  • Demam dengan suhu 39.7°C atau lebih dari itu.

About Bas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *