Tuesday , October 20 2020

5 Komplikasi Masuk Angin (Medis-Non Medis) Jika Tak Kunjung Sembuh

Umumnya masuk angin bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perawatan khusus dari dokter. Walau begitu, kadangkala penyakit ringan ini juga dapat menimbulkan komplikasi seperti sinusitis atau bronkitis. Komplikasi ini lebih rentan terjadi pada anak-anak, lansia, maupun mereka yang lemah sistem imunnya.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap kita memahami apa saja ciri-ciri komplikasi masuk angin itu. Bila gejala masuk angin berlangsung hingga 10 hari, atau itu kian memburuk, biasanya ada infeksi sekunder yang muncul. Pada kasus semacam ini, kamu harus segera periksa ke dokter. Dan berikut adalah gejala komplikasi masuk angin yang sering :

1. Sinusitis

Sinusitis adalah infeksi sinus atau saluran pernafasan. Gejalanya meliputi sakit pada wajah dan kepala, demam, batuk, sakit tenggorokan, hilangnya kemampuan mengecap dan membau, serta telinga terasa penuh. Tak jarang, penyakit ini juga memicu nafas tak sedap.

Umumnya komplikasi masuk angin ini timbul kalau sinus yang tersumbat terkontaminasi bakteri atau virus sehingga muncul infeksi. Sinusitis akut dapat berlangsung hingga 12 minggu lamanya, namun kondisi ini masih bisa sembuh.

Dokter mungkin meresepkan obat pereda rasa sakit, dekongestan, atau antibiotik untuk mengatasinya. Menghirup uap panas, mandi air hangat, atau penggunaan obat semprot hidung juga bisa membantu.

2. Bronkitis

Komplikasi berikutnya muncul akibat iritasi pada selaput lendir bronkus di paru-paru. Gejala bronkitis meliputi batuk (seringkali disertai dahak), dada sesak, mudah lelah, demam ringan, hingga menggigil. Untungnya, pengobatan sederhana biasanya sudah mampu mengatasi komplikasi masuk angin satu ini, yakni dengan istirahat cukup, minum banyak air, menggunakan humidifier, serta minum obat.

Meski begitu, kamu harus segera periksa ke dokter bila batuknya:

  • Tak sembuh juga dalam waktu 3 minggu.
  • Mengganggu kualitas tidur.
  • Mengeluarkan darah.
  • Disertai demam yang lebih tinggi dari 38°C.
  • Disertai bunyi menciut atau sesak nafas.

Bronkitis kronis sebaiknya tidak diabaikan karena dapat menyebabkan pneumonia (radang paru-paru).

3. Pneumonia

Pneumonia dapat berbahaya dan terkadang mematikan bagi mereka yang berisiko. Dalam hal ini, golongan berisiko yang dimaksud adalah:

  • Anak-anak.
  • Lansia.
  • Mereka yang sudah pernah mengalami sebelumnya.
  • Perokok.
  • Penderita gangguan jantung atau paru-paru.

Oleh sebab itu, orang dari golongan di atas diimbau secepatnya periksa ke dokter begitu gejala awal pneumonianya timbul.

Pneumonia bisa membuat paru-paru meradang sehingga muncul gejala seperti batuk, demam, dan gemetar. Pengobatan medis segera diperlukan bila muncul gejala pneumonia lain, yakni:

  • Batuk parah disertai dahak berwarna yang banyak jumlahnya.
  • Nafas pendek.
  • Demam yang tak kunjung turun dengan suhu di atas 38.9°C.
  • Nyeri ketika menarik nafas dalam.
  • Sakit dada.
  • Menggigil atau berkeringat.

Untungnya, penyakit ini biasanya memberi respon baik terhadap pengobatan seperti antibiotik atau terapi.

4. Gangguan tidur

Gejala masuk angin seperti hidung meler atau tersumbat, dan batuk memang seringkali mengganggu kenyamanan istirahat penderitanya. Akibatnya, kamu mungkin kurang tidur sehingga tak bisa beraktivitas dengan maksimal saat siang hari. Untuk mengatasi komplikasi masuk angin non-medis satu ini, minumlah obat sesuai gejala masuk anginnya.

5. Sulit beraktivitas

Aktivitas fisik juga lebih sulit dilakukan sewaktu menderita masuk angin. Olahraga intens misalnya, sangat menantang karena hidung tersumbat membuat proses bernafas jadi sulit. Walau demikian, usahakan untuk tetap bergerak misalnya jalan santai agar peredaran darah tetap lancar.

Jadi itulah tadi beberapa komplikasi masuk angin, baik secara medis maupun non-medis yang dapat dialami penderitanya kalau ia tak kunjung sembuh.

About megsaroh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *