Wednesday , October 21 2020

4 Langkah untuk Memulai Dialog dengan Anak

Untuk membuat anak mau berdialog tanpa merasa orang tua terlalu mencampuri urusannya, maka berikut ini saya sampaikan kiat-kiat memulai dialog dengan anak, yaitu:

1. Memilih Waktu Yang Tepat

Hal yang penting sebelum memulai dialog adalah mengetahui kondisi anak, apakah ia siap berbicara dengan Anda pada saat itu atau tidak, terkadang anak sedang dalam mood yang buruk atau kelelahan saat berdialog dengan Anda, atau anak Anda membuka dialog saat Anda sedang sibuk. Pada kondisi seperti itu Anda dapat memberitahu anak dengan mengatakan,” Malam ini ayah sibuk, mari kita jadwalkan saja waktu lain yang tepat.” Pastikan Anda menepati janji untuk berdialog dengan anak, tundalah segala kesibukan Anda sebentar, untuk dapat berdialog dengan anak Anda.

Anak-anak biasanya akan jauh lebih terbuka sepulang dari sekolah, karena satu tugas belajarnya telah ia selesaikan dan anak sedikit lebih santai. Jika Anda adalah seorang wanita karier atau ayah yang sibuk, berusahalah berbicara dengan anak Anda melalui telepon sepulang sekolah (sebelum anak Anda tidur siang).

2. Pertanyaan Yang Jelas

Pertanyaan Anda hendaklah spesifik, jelas, dan langsung. Misalnya: “Apa kabarmu hari ini?”merupakan pertanyaan yang abstrak, umum, tidak jelas. Jawaban singkat yang mungkin Anda terima adalah kabar baik Yah. Ajukanlah pertanyaan yang jelas, misalnya: “Kamu hari ini main apa waktu jam istrirahat? “Pelajaran apa yang kamu kamu suka hari ini?”atau “Hari ini ada nggak temanmu nggak masuk?” Hari ini ada kejadian lucu di sekolah nggak?”Jangan bertanya sesuatu yang umum, atau abstrak. Bertanyalah yang spesifik, dan jelas. Namun jangan pula bertanya,”Siapa yang mendapat nilai ulangan matematika paling bagus hari ini?”Pertanyaan ini membuat anak merasa inferior dan lemah dibandingkan dengan teman yang mendapat nilai ulangan matematika terbaik di kelasnya.

3. Santai dan Nyaman

Apabila anak Anda tidak merasa canggung membahas suatu persoalan, atau tidak merasa takut dengan hukuman ketika sedang asyik berdialog dengan Anda, itu artinya ia merasa santai dan nyaman saat berdialog dengan Anda. “Obrolan paling berkualitas dapat Anda ciptakan pada saat menyiapkan makan malam, menjelang tidur, dan sebagainya.

4. Intonasi Suara Anda

Intonasi suara saat mengajukan pertanyaan sangat berpengaruh dalam mendorong anak Anda menjawab, misalnya:”Apakah hari ini kamu dimarahi ibu guru?” dengan intonasi suara tinggi, kesan yang ia tangkap bahwa Anda telah menuduhnya, padahal Anda tidak bermaksud demikian. Setelah itu anak menjadi enggan berdialog dengan Anda (lagi), kecuali penting sekali.

 

Kaidah Dialog yang membangun

Kaidah dialog yang membangun kepribadian dengan anak adalah sebagai berikut.

1. Berbicaralah kepada anak dengan kesadaran bahwa ia masih berada pada fase kanak-kanak

Orang tua dan para pendidik (guru) banyak yang melakukan kesalahan ketika menerapkan prinsip,” berbicaralah sesuai dengan kadar kemampuan dan intelektualitas seseorang.” Sebagian besar orang tua menganggap bahwa ketika anak sudah melewati masa menyusui, berate dia tidak lagi kanak-kanak.

2. Perintah dan larangan baru dapat diterapkan pada usia 7 tahun ke atas

Jika orang tua ingin ditaati, hendaklah mereka memerintahkan sesuatu yang sanggup dilakukan anak. Oleh karena itu petunjuk dan arahan pada anak kecil lebih baik disuguhkan dalam bentuk dialog, misalnya :”Nak, salat magrib berjamaah yuk?”Kalau kamu rajin salat, kamu akan disayang Allah.” Dialog dapat memberikan beberapa manfaat bagi anak, antara lain: Anak merasakan kehangatan dan merasa dicintai ayah dan ibunya. Anak tidak merasa didikte dan diteror.

About Bas